DMNETWORK.COM – Jalan Rusak Randublatung Cepu kembali menjadi sorotan publik setelah puluhan warga melakukan aksi tanam pohon pisang di tengah ruas jalan yang mengalami kerusakan parah, Minggu, 31 Mei 2026.
Aksi tersebut bukan sekadar bentuk unjuk rasa biasa. Pohon-pohon pisang yang ditancapkan di tengah lubang jalan menjadi simbol kekecewaan masyarakat terhadap kondisi infrastruktur yang bertahun-tahun belum mendapatkan penanganan memadai.
Bagi warga, jalan yang menghubungkan Randublatung dan Cepu bukan hanya sarana transportasi. Ruas tersebut merupakan jalur vital yang menopang aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga mobilitas masyarakat sehari-hari.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, kondisi jalan terus memburuk. Aspal yang rusak, lubang menganga, genangan air saat musim hujan, hingga debu saat cuaca panas telah menjadi pemandangan yang akrab bagi masyarakat setempat.
Kondisi itulah yang akhirnya memicu aksi protes terbuka dari warga. Masyarakat yang mengikuti aksi mengaku sudah terlalu lama menunggu perbaikan.
Setiap hari mereka harus berhadapan dengan risiko kecelakaan akibat kerusakan jalan yang semakin meluas. Tidak sedikit pengendara sepeda motor yang terjatuh ketika berusaha menghindari lubang-lubang besar di sepanjang ruas jalan tersebut.
Saat hujan turun, situasi menjadi lebih berbahaya. Lubang-lubang yang sebelumnya terlihat berubah menjadi jebakan karena tertutup genangan air. Pengguna jalan sering kali tidak mampu memperkirakan kedalaman lubang sehingga risiko kecelakaan meningkat.
Sementara itu, kendaraan roda empat maupun truk pengangkut hasil pertanian juga harus melaju dengan kecepatan rendah untuk menghindari kerusakan kendaraan.
Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada aktivitas distribusi barang dan hasil panen, kondisi tersebut tentu berdampak langsung terhadap biaya operasional dan produktivitas.
Karena itu, persoalan Jalan Rusak Randublatung Cepu tidak lagi dipandang sebagai masalah kenyamanan semata, tetapi telah berkembang menjadi persoalan keselamatan dan ekonomi masyarakat.
Di berbagai daerah di Indonesia, aksi menanam pohon pisang di jalan rusak kerap menjadi bentuk kritik simbolik kepada pemerintah.
Cara ini dipilih masyarakat karena dianggap mampu menarik perhatian publik sekaligus menyampaikan pesan secara langsung tanpa harus melakukan aksi yang berpotensi menimbulkan konflik.
Hal serupa terjadi di Blora.
Pohon-pohon pisang sengaja ditanam tepat di titik-titik kerusakan yang paling parah. Dari kejauhan, pemandangan tersebut tampak kontras. Di tengah jalur transportasi yang seharusnya menjadi akses mobilitas masyarakat, justru tumbuh tanaman yang identik dengan lahan pertanian.
Bagi warga, pohon pisang itu bukan sekadar tanaman. Ia menjadi simbol penantian yang terlalu panjang. Simbol harapan yang perlahan berubah menjadi kekecewaan akibat belum adanya perubahan nyata di lapangan.
Aksi tersebut juga menunjukkan bahwa masyarakat mulai mencari cara lain agar suara mereka lebih didengar oleh para pemangku kebijakan.
Persoalan ruas jalan Randublatung-Cepu sebenarnya bukan isu baru. Beberapa hari sebelum aksi tanam pohon pisang berlangsung, kondisi jalan tersebut telah menjadi pembahasan dalam agenda Rembug Pembangunan Jawa Tengah yang digelar di Kudus pada 26 Mei 2026.
Dalam forum tersebut, Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini, menyampaikan langsung keluhan masyarakat kepada Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Keluhan itu muncul setelah berbagai video yang memperlihatkan kondisi jalan rusak viral di media sosial dan memancing perhatian publik.
Banyak warga membagikan dokumentasi kerusakan jalan sebagai bentuk desakan agar pemerintah segera mengambil langkah konkret.
Melalui forum pembangunan tersebut, Pemerintah Kabupaten Blora berharap persoalan yang dihadapi masyarakat dapat memperoleh perhatian lebih besar dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Menanggapi persoalan tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa setiap masalah yang menjadi perhatian publik perlu dimitigasi melalui pengecekan lapangan dan disesuaikan dengan kemampuan fiskal pemerintah.
Ia juga menekankan pentingnya penentuan prioritas pembangunan di tengah keterbatasan anggaran yang dimiliki pemerintah daerah. Namun, pernyataan tersebut memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat.
Sebagian warga menilai jawaban yang disampaikan belum memberikan kepastian mengenai kapan perbaikan jalan akan dilakukan.
Masyarakat mengaku memahami adanya keterbatasan anggaran dan mekanisme perencanaan pembangunan. Namun mereka berharap ada kejelasan mengenai langkah yang akan diambil pemerintah untuk mengatasi kerusakan jalan tersebut.
Bagi warga yang setiap hari melintasi ruas Randublatung-Cepu, yang dibutuhkan bukan sekadar penjelasan administratif, melainkan solusi nyata yang dapat dirasakan secara langsung.
Kerusakan jalan tidak hanya memengaruhi keselamatan pengguna jalan, tetapi juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat.
Wilayah Randublatung dan Cepu dikenal sebagai kawasan yang memiliki aktivitas perdagangan dan distribusi hasil pertanian cukup tinggi.
Kondisi jalan yang buruk menyebabkan waktu tempuh menjadi lebih lama. Biaya transportasi meningkat karena kendaraan harus melakukan perawatan lebih sering akibat kerusakan komponen.
Para pelaku usaha kecil juga merasakan dampaknya.
Distribusi barang menjadi kurang efisien dan biaya logistik bertambah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi lokal.
Karena itu, perbaikan infrastruktur dinilai menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa terus ditunda. Di balik aksi tanam pohon pisang, tersimpan pesan yang lebih dalam daripada sekadar kritik terhadap kondisi infrastruktur.
Warga ingin menunjukkan bahwa kesabaran masyarakat memiliki batas. Ketika keluhan telah disampaikan melalui berbagai jalur, ketika jalan rusak terus memakan korban dan menghambat aktivitas, maka aksi simbolik menjadi cara terakhir untuk menyuarakan keresahan.
Persoalan Jalan Rusak Randublatung Cepu juga mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya anggaran atau banyaknya program yang direncanakan.
Yang lebih penting adalah sejauh mana masyarakat dapat merasakan manfaat nyata dari pembangunan tersebut. Bagi warga Blora, harapan mereka sebenarnya sederhana. Jalan yang aman, layak dilalui, dan mampu mendukung aktivitas sehari-hari.
Ketika kebutuhan dasar itu belum terpenuhi, maka kritik akan terus muncul. Bahkan dari tempat yang paling tidak terduga: dari lubang-lubang jalan yang selama bertahun-tahun menjadi saksi perjalanan hidup masyarakat.
Pohon pisang yang kini berdiri di tengah ruas Randublatung-Cepu menjadi pengingat bahwa suara rakyat tidak selalu hadir melalui podium atau ruang rapat. Kadang, ia tumbuh diam-diam di tengah jalan rusak, menunggu untuk didengar dan ditindaklanjuti.(*)