PWNU DKI Jakarta Sangat Siap, Pesantren Al-Hamid Diusulkan Jadi Tuan Rumah Muktamar NU ke-35

5 Min Read
PWNU DKI JAKARTA mendampingi tim survei dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meninjau kesiapan Pondok Pesantren Al-Hamid Cilangkap, Jakarta Timur, (gris/DMnetwork)

DMNETWORK.COM – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta menegaskan kesiapan penuh menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35 dengan mengusulkan Pondok Pesantren Al-Hamid Cilangkap, Jakarta Timur, sebagai lokasi pelaksanaan forum tertinggi Nahdlatul Ulama tersebut.

Kesiapan itu ditunjukkan saat PWNU DKI Jakarta mendampingi tim survei dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melakukan peninjauan langsung ke kawasan pesantren pada Minggu, 24 Mei 2026.

PWNU DKI Jakarta menilai Pesantren Al-Hamid memiliki kelayakan dari berbagai aspek, mulai dari fasilitas utama, akses transportasi, akomodasi, hingga kesiapan teknis untuk menampung ribuan peserta muktamar dari seluruh Indonesia.

Pesantren Al-Hamid Dinilai Layak untuk Muktamar NU ke-35

- Iklan -
Ad imageAd image

Wakil Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta KH Ahmad Zahari mengatakan pihaknya bukan sekadar siap, tetapi sangat siap menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35. Menurutnya, seluruh kebutuhan dasar hingga teknis telah dipersiapkan secara matang demi mendukung kenyamanan para muktamirin.

“Bukan hanya siap, tetapi sangat siap menjadi tuan rumah Muktamar ke-35. Baik dari sisi akomodasi, transportasi, maupun seluruh fasilitas yang dibutuhkan demi kenyamanan para muktamirin,” ujar KH Ahmad Zahari.

Ia menjelaskan bahwa PWNU DKI Jakarta secara resmi telah mengajukan Pondok Pesantren Al-Hamid kepada tim survei PBNU sebagai lokasi pelaksanaan muktamar. Dari hasil peninjauan sementara, lokasi tersebut dinilai memenuhi berbagai kebutuhan penyelenggaraan forum besar organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu.

“Alhamdulillah, Pesantren Al-Hamid dinilai sudah sangat layak untuk menjadi lokasi Muktamar,” katanya.

KH Ahmad Zahari menambahkan, tim survei PBNU turut mencatat berbagai fasilitas penting yang tersedia di kawasan pesantren.

- Iklan -
Ad image

Mulai dari ruang sidang komisi, ruang tamu VIP, sistem transportasi, hingga penginapan peserta telah dipersiapkan dalam konsep penyelenggaraan yang terintegrasi.

“Semua data lengkap dicatat oleh tim survei. Ruang tamu VIP, kebutuhan sidang-sidang komisi, semuanya sudah lengkap,” ujarnya.

PWNU DKI Jakarta juga memastikan kesiapan menghadapi konsekuensi besar sebagai penyelenggara Muktamar NU ke-35 yang diperkirakan akan dihadiri puluhan ribu peserta dan tamu undangan.

“Fasilitas, akomodasi, transportasi, semuanya sudah siap untuk menjadi tuan rumah,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta H Sulaiman menilai Jakarta sangat layak kembali menjadi tuan rumah Muktamar NU setelah terakhir kali berlangsung di ibu kota pada sekitar tahun 1959.

Ia menyebut Jakarta memiliki infrastruktur nasional yang jauh lebih memadai dibandingkan beberapa dekade lalu. Menurutnya, posisi Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan pusat aktivitas nasional menjadi nilai strategis bagi masa depan organisasi Nahdlatul Ulama.

“Muktamar terakhir di Jakarta itu sekitar tahun 1959. Jadi, DKI Jakarta sangat layak menjadi tuan rumah kembali dengan segala fasilitas yang disiapkan demi kenyamanan dan kelancaran muktamar,” ujar Sulaiman.

Ia juga menilai pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Jakarta akan membuka ruang lebih luas bagi kehadiran tokoh nasional maupun internasional. “Sebagai ibu kota, tentu ini sangat strategis bagi NU ke depan. Jakarta memungkinkan menghadirkan berbagai tokoh untuk menyaksikan muktamar,” katanya.

PWNU DKI Jakarta mengungkapkan bahwa persiapan pencalonan Jakarta sebagai tuan rumah Muktamar NU ke-35 bukan dilakukan secara mendadak.

Langkah tersebut disebut telah dimulai sejak pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) PBNU di Pesantren Al-Hamid pada 2023 lalu.

“Persiapan ini bukan sesuatu yang mendadak. Sejak 2023, setelah Munas dan Konbes PBNU di Al-Hamid, kami sudah mulai mempersiapkan semuanya,” jelas Sulaiman.

Selain kesiapan internal, kawasan Pondok Pesantren Al-Hamid juga dinilai memiliki posisi strategis dengan dukungan akses transportasi nasional yang terintegrasi.

Lokasi tersebut terhubung dengan jaringan jalan tol, bandara, terminal, KRL Commuter Line, hingga LRT Jabodebek yang memudahkan mobilisasi peserta dari berbagai daerah.

Tidak hanya itu, daya dukung akomodasi di sekitar Jakarta Timur diperkirakan mampu menampung sekitar 20 ribu hingga 30 ribu orang melalui jaringan hotel, wisma, serta asrama haji.

Tim survei PBNU yang hadir dalam peninjauan tersebut terdiri atas Ketua PBNJ KH Fahmi Akbar Idris dan Wakil Sekretaris Jenderal PBNU HM Silahudin. Sementara dari jajaran PWNU DKI Jakarta turut hadir mendampingi, antara lain KH Ahmad Zahari, KH Lutfi Hakim, dan H Husny Mubarok Amir.

Kehadiran tim survei ini menjadi bagian penting dalam proses penentuan lokasi Muktamar NU ke-35 yang diproyeksikan menjadi salah satu agenda organisasi terbesar NU dalam beberapa tahun mendatang.

Dengan kesiapan fasilitas, aksesibilitas, dan dukungan infrastruktur metropolitan, Jakarta kini dinilai memiliki peluang kuat untuk kembali menjadi pusat pelaksanaan Muktamar NU setelah puluhan tahun.(*)

Share This Article