DMNETWORK – Di padang Arofah, manusia barangkali sedang belajar menjadi titik. Titik kecil di tengah gurun yang luas, di bawah langit yang terasa lebih dekat daripada biasanya.
Tidak ada jabatan, tidak ada rekening bank, tidak ada urusan cicilan, tidak ada pula pertengkaran politik kampung yang suka menyalak dari warung kopi sampai grup WhatsApp keluarga. Semua tanggal sebentar. Semua berhenti sejenak.
Itulah sebabnya wukuf disebut berhenti.
Tetapi manusia memang makhluk yang sukar berhenti. Bahkan ketika sudah memakai kain ihram yang mirip kain kafan itu, pikirannya masih sempat berkelana ke sawah yang belum dipanen, toko yang belum dibuka, atau barangkali kepada tetangga yang dulu pernah meminjam cangkul tetapi lupa mengembalikan.
Di Arofah, badan boleh diam, tetapi kepala kadang masih menjadi terminal yang sibuk.
Padahal, mungkin inti wukuf justru bukan pada banyaknya doa yang dipanjatkan dengan suara bergetar, bukan pula pada panjangnya wirid yang dilafalkan sampai bibir kering. Wukuf adalah pelajaran tentang menghentikan lalu lintas dunia di dalam diri.
Sebuah “setop” yang dipasang Allah di tengah perjalanan hidup manusia yang terlalu gaduh oleh keinginan.
Karena itu ada jamaah yang tidur ketika wukuf. Ada yang diam memandang langit. Ada yang sekadar duduk seperti orang kehilangan kata-kata. Dan boleh jadi, di situlah letak rahasianya. Tidur di Arofah kadang lebih jujur daripada doa yang penuh daftar permintaan. Sebab dalam tidur, manusia berhenti menjadi pengatur nasib. Ia menyerahkan diri sepenuhnya.
Kita ini sering datang kepada Tuhan seperti datang ke kantor pelayanan: membawa proposal, tuntutan, harapan, bahkan kadang semacam daftar belanja. “Ya Allah, beri saya ini. Ya Allah, jauhkan saya dari itu.” Jarang sekali manusia datang hanya untuk hadir.
Sedangkan Arofah tampaknya mengajarkan hal yang lain. Bahwa ada saatnya manusia tidak meminta apa-apa. Tidak memikirkan apa-apa. Tidak menjadi siapa-siapa. Hanya ada kehampaan yang tenang, lalu di dalam kehampaan itu ada Allah.
Mungkin itulah sebabnya padang Arofah tidak dibangun seperti pusat perbelanjaan. Ia dibiarkan lapang, panas, dan sederhana. Agar manusia sadar bahwa hidup pada akhirnya hanyalah perjalanan singkat menuju satu pemberhentian besar: ketika seluruh urusan dunia diturunkan dari pundak, lalu hati belajar diam.
Dan dalam diam itu, manusia mungkin baru benar-benar mendengar dirinya sendiri. Atau lebih tepatnya: mendengar Tuhan yang sejak lama kalah ribut oleh suara isi kepala manusia.
Aris Munandar, petani yang gemar menulis