YOGYAKARTA, DMNETWORK — Ada satu bagian yang menarik dari rangkaian peristiwa di GIK Universitas Gadjah Mada yang mungkin luput dari perhatian publik. Bukan saat forum berlangsung, bukan pula ketika suasana memanas oleh interupsi, yel-yel, maupun pembentangan spanduk. Justru setelah panggung resmi berhenti, ketika sorot lampu acara mulai redup dan suasana semakin tidak menentu.
Dalam situasi seperti itu, pilihan paling mudah bagi seorang pejabat negara adalah meninggalkan lokasi secepat mungkin. Secara protokoler, langkah tersebut dapat dipahami. Risiko keamanan meningkat, emosi massa belum sepenuhnya reda, dan agenda kenegaraan keesokan hari tetap menunggu.
Namun yang terjadi justru berbeda.
Sudaryono tidak langsung menuju kendaraan pengamanan. Ia memilih tetap berada di lingkungan kampus. Bahkan ketika forum resmi telah berakhir, ia masih duduk bersama mahasiswa di halaman GIK. Tidak ada podium. Tidak ada mikrofon. Tidak ada meja kehormatan. Tidak ada jarak yang memisahkan antara pejabat negara dan mahasiswa yang beberapa saat sebelumnya menyampaikan kritik dengan nada keras.
Di atas lantai halaman kampus yang sederhana, ia duduk lesehan bersama mahasiswa. Sebagian mengajukan pertanyaan, sebagian menyampaikan kritik, sebagian lagi mempertanyakan kebijakan pemerintah secara langsung. Situasi masih jauh dari sepenuhnya tenang. Di sekitar lokasi, yel-yel dan seruan perlawanan masih terdengar bersahutan.
Namun dialog tetap berlangsung.
Di situlah sesungguhnya ukuran seorang pemimpin diuji. Bukan ketika berbicara di depan pendukung yang sepakat dengan seluruh pandangannya, melainkan ketika berhadapan langsung dengan mereka yang berbeda pendapat. Bukan ketika suasana nyaman dan penuh tepuk tangan, melainkan ketika kritik datang bertubi-tubi tanpa jaminan bahwa jawaban yang diberikan akan diterima.
Sikap tetap bertahan di tengah situasi seperti itu menunjukkan satu hal penting: keberanian untuk hadir. Keberanian yang tidak lahir dari keinginan memenangkan perdebatan, melainkan dari keyakinan bahwa dialog harus tetap dijaga meskipun keadaan tidak ideal.
Dalam tradisi Jawa dikenal istilah satriya, bukan sekadar sosok yang berani menghadapi lawan, tetapi seseorang yang mampu menjaga keteguhan hati ketika berada di tengah tekanan. Keteguhan semacam itu tidak selalu ditunjukkan melalui pidato yang berapi-api. Kadang ia hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: tetap duduk, tetap mendengar, dan tetap menjawab ketika banyak orang memilih pergi.
Peristiwa di GIK memperlihatkan sisi tersebut. Ketika forum resmi tidak lagi memungkinkan untuk dilanjutkan, percakapan justru berpindah ke ruang yang lebih sederhana. Dari panggung ke halaman. Dari mikrofon ke percakapan langsung. Dari acara resmi ke dialog yang lebih manusiawi.
Tentu setiap pihak memiliki penilaian masing-masing terhadap substansi yang dibahas malam itu. Kritik terhadap pemerintah akan terus ada, sebagaimana dukungan terhadap pemerintah juga akan tetap hadir. Namun di atas semua itu, ada pelajaran penting yang patut dicatat.
Bahwa keberanian dalam demokrasi bukan hanya keberanian mengkritik kekuasaan. Keberanian juga berarti kesediaan kekuasaan untuk tetap hadir di tengah kritik.
Dan pada malam itu, di tengah kerumunan mahasiswa yang mengelilinginya, tanpa alas, tanpa panggung, tanpa perlindungan simbolik jabatan, Sudaryono memilih tetap berada di ruang dialog. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya sebuah gestur sederhana. Namun dalam kehidupan demokrasi, kesediaan untuk tetap mendengar ketika situasi tidak lagi nyaman sering kali menjadi ujian karakter yang sesungguhnya. Redaksi