Indonesia dan Tiongkok Perkuat Kerja Sama Aksi Iklim dan Pembangunan Hijau

3 Min Read
Jumhur Hidayat, menteri KLH dan delegasi Tiongkok menjalin kerjasama aksi iklim untuk pembangunan hijau (foto: istimewa)

JAKARTA, DMNetwork — Indonesia dan Tiongkok sepakat memperkuat kemitraan strategis di bidang perubahan iklim, perlindungan lingkungan hidup, transisi energi, dan pembangunan hijau. Kesepakatan tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat dengan Special Envoy for Climate Change Republik Rakyat Tiongkok, Liu Zhenmin, di Kantor KLH, Plaza Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (30/7/2026).

Pertemuan itu merupakan tindak lanjut dari Joint Statement on Deepening Comprehensive Strategic Cooperation antara Indonesia dan Tiongkok.

Dalam pertemuan tersebut, kedua negara menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama implementasi Persetujuan Paris dengan tetap berpegang pada prinsip Common but Differentiated Responsibilities and Respective Capabilities (CBDR-RC). Indonesia dan Tiongkok juga mendorong negara-negara maju memenuhi komitmen pendanaan iklim, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas bagi negara berkembang.

Jumhur mengatakan Indonesia mengusung paradigma Growth through Environmental Protection, yakni menjadikan perlindungan lingkungan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

- Iklan -
Ad imageAd image

“Perlindungan lingkungan harus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Indonesia siap memperkuat kerja sama dengan Tiongkok untuk menghadirkan solusi nyata bagi aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan,” ujar Jumhur dalam keterangan resmi.

Menurut dia, Indonesia dan Tiongkok memiliki tanggung jawab bersama sebagai dua negara berkembang besar untuk menghadirkan solusi terhadap tantangan perubahan iklim global tanpa mengabaikan kebutuhan pembangunan nasional.

1000964917.jpg
delegasi Tiongkok saat bersama Jumhur Hidayat menteri lingkungan hidup (foto: rist)

Jumhur menjelaskan pemerintah saat ini mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan mitigasi, adaptasi, dan kesejahteraan (prosperity) sebagai tiga pilar aksi iklim nasional. Pendekatan tersebut akan diperkuat melalui pengembangan pasar karbon, kredit keanekaragaman hayati (biodiversity credit), mekanisme pembagian manfaat (benefit sharing), serta penguatan prinsip keadilan iklim.

Sementara itu, Liu Zhenmin menyampaikan apresiasi atas kepemimpinan Indonesia dalam agenda pembangunan hijau dan menegaskan kesiapan Tiongkok memperluas kerja sama praktis di bidang perubahan iklim, energi bersih, teknologi hijau, sistem peringatan dini, ekonomi sirkular, dan perlindungan lingkungan.

Kedua pihak juga membahas peluang kerja sama dalam pengembangan energi terbarukan, pasar karbon, pengelolaan sampah menjadi energi (waste-to-energy), perlindungan keanekaragaman hayati, hilirisasi mineral kritis, riset bersama, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Indonesia dan Tiongkok sepakat menindaklanjuti peluang tersebut melalui koordinasi teknis yang lebih intensif agar menghasilkan program yang memberikan manfaat nyata bagi kedua negara.

- Iklan -
Ad image

Pertemuan itu sekaligus menegaskan komitmen Indonesia dan Tiongkok untuk memperkuat pembangunan rendah karbon, meningkatkan ketahanan iklim, dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). (Rist)

Share This Article
error: Content is protected !!