Editorial Jumat Pagi: Negeri yang Diukur dengan Dua Meteran

4 Min Read
Ilustrasi gambar top survey terkini

Orang kampung yang sederhana tentu bingung. Ia baru saja membeli gula, membayar listrik, dan menambal ban motor.

DMNETWORK – Pada suatu pagi, bangsa ini bangun dengan dua angka. Angka pertama 51,1 persen. Angka kedua 81,5 persen. Keduanya sama-sama mengaku hasil survei. Keduanya sama-sama memakai tabel, grafik, margin of error, dan wajah serius para peneliti. Bedanya hanya satu: angka itu seperti lahir dari dua negeri yang berlainan cuaca.

SMRC berkata kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo tinggal 51,1 persen. IDM menjawab dengan tenang bahwa kepuasan mencapai 81,5 persen. Selisihnya tiga puluh koma sekian persen. Selisih yang cukup untuk membangun satu partai baru, membubarkan dua koalisi lama, dan membuat warung kopi ramai sampai tengah malam.

Orang kampung yang sederhana tentu bingung. Ia baru saja membeli gula, membayar listrik, dan menambal ban motor. Tiba-tiba datang dua orang membawa kertas. Yang seorang berkata, “Bapak agak kecewa.” Yang seorang lagi berkata, “Bapak sangat puas.” Padahal bapak itu sendiri belum sempat memeriksa perasaannya.

Survei rupanya telah menjadi semacam cermin. Masalahnya, cermin itu tidak selalu memantulkan wajah yang sama. Ada cermin yang membuat pipi tampak tirus, ada yang membuatnya tembam. Wajahnya tetap satu, tetapi pantulannya bisa banyak. Politik modern tampaknya lebih sibuk memperdebatkan cermin daripada mencuci muka.

- Iklan -
Ad imageAd image

Saya teringat tukang jahit di kampung. Ia punya meteran kain yang sudah tua. Angka nolnya sedikit bergeser karena sering terlipat. Anehnya, semua pelanggan tetap datang kepadanya, sebab yang dicari bukan ketepatan ilmiah, melainkan kecocokan badan. Dalam politik, kadang-kadang lembaga survei diperlakukan seperti meteran tukang jahit: dipuji bila ukuran pas dengan selera, dicurigai bila ukuran terasa sempit.

Padahal angka tidak pernah benar-benar netral di mata manusia. Angka adalah makhluk yang mudah dipinang. Ketika hasilnya menguntungkan, ia dipanggil “suara rakyat”. Ketika merugikan, ia dituduh “pesanan”. Nasib angka di negeri ini tidak jauh beda dengan wasit sepak bola: dipuji kalau tim sendiri menang.

Yang menarik justru bukan pertentangan SMRC dan IDM. Yang menarik adalah kegembiraan para pendukung ketika menemukan angka yang sesuai keyakinannya. Mereka tidak membaca metodologi, tidak meneliti sampel, tidak bertanya kapan survei dilakukan. Mereka langsung menemukan iman politiknya. Survei berubah fungsi dari alat membaca kenyataan menjadi alat menguatkan keyakinan.

Begitulah hidup di zaman statistik. Dulu orang bertengkar memakai ayat, kini bertengkar memakai persentase. Dulu orang membawa kitab, sekarang membawa infografik. Peradaban memang maju; hanya cara marahnya yang berganti bentuk.

Tetapi ada hal yang sering dilupakan. Kepuasan publik bukan cuaca yang bisa diukur sekali lalu selesai. Ia lebih mirip air sungai: pagi keruh, siang jernih, sore naik, malam surut. 

Harga beras, pekerjaan, sekolah anak, pelayanan kesehatan, jalan rusak, pupuk langka, bahkan tetangga yang meminjam uang dapat ikut mempengaruhi jawaban responden. Manusia bukan angka tetap.

- Iklan -
Ad image

Karena itu saya tidak terlalu cemas melihat dua survei bertolak belakang. Demokrasi memang rumah besar yang berisik. Yang perlu dicemaskan ialah bila semua survei selalu sama persis. Keseragaman yang terlalu rapi kadang lebih menakutkan daripada perbedaan yang gaduh.

Maka biarlah SMRC dengan 51,1 persennya dan IDM dengan 81,5 persennya berjalan berdampingan. Yang satu mengingatkan pemerintah bahwa kritik masih hidup. Yang satu lagi mengingatkan oposisi bahwa dukungan belum mati. Di antara keduanya berdirilah rakyat, membawa tas belanja dan tagihan bulanan, sambil bertanya pelan: “Dari semua angka itu, mana yang bisa menurunkan harga cabai?”

Pertanyaan terakhir itulah yang biasanya tidak masuk kuesioner. Dan justru di situlah politik sering kehilangan ukurannya.

Aris Munandar, editor 

Share This Article
error: Content is protected !!