Mengenal AMT Lebih Dekat: Kopi Subuh di Gang Jawa

6 Min Read
AMT bersama isteri tercintanya (foto: istimewa)

DMNETWORK – Saat itu saya masih tinggal di Yogyakarta sebagai aktivis. Hidup saya lebih banyak diisi rapat, diskusi, menulis selebaran, dan mondar-mandir antara kampung aktivis dan kampus. Namun Jakarta bukan kota yang asing. Saat itu tahun 90 an saya sering bolak-balik Jogja–Jakarta dengan kereta api dari Stasiun Lempuyangan. Tiketnya waktu itu masih sekitar lima puluh ribuan, harga yang bagi kami para aktivis terasa murah sekaligus mahal: murah karena masih bisa dijangkau, mahal karena setiap lembar uang harus dipikirkan penggunaannya.

Suatu kali saya sedang berada di Jakarta. Makroof mengabari bahwa malam nanti kami akan diajak ke rumah seorang tokoh bernama Ali Musthofa Trajutisna, atau yang kemudian akrab saya panggil AMT. Saat itu saya belum mengenalnya. Makroof sendiri bekerja sebagai wartawan dan penulis di buletin masjid dan Media Dakwah. Ia bergaul dengan para aktivis DDII, termasuk Ahmad Muzani yang kini dikenal sebagai Ketua MPR RI. Bagi saya, nama-nama itu masih berada di dunia yang saya dengar dari cerita dan tulisan, belum menjadi wajah yang saya temui langsung.

Karena siang hari saya punya janji dengan seorang teman, kami baru bertemu setelah Magrib di Jalan Surabaya. Dari sana kami naik KRL dari Stasiun Cikini menuju Depok. Kereta malam Jakarta waktu itu masih menyimpan bau besi, asap rokok, dan percakapan orang-orang yang pulang kerja. Sampai di Depok kami berganti angkot menuju Gang Jawa. Persis alamatnya sekarang saya sudah lupa. Sudah terlalu lama saya tidak kembali ke tempat itu.

Rumah yang kami datangi sederhana, tetapi di depannya terparkir sebuah mobil Volvo besar, mobil yang pada masa itu identik dengan pejabat tinggi. Saya tiba sekitar pukul sepuluh malam. Di ruang tengah sudah ada beberapa orang: Mas Heri, I Nyoman Parito, Anwar Haryono, dan seorang lelaki yang kemudian saya ketahui sebagai AMT. Mereka sedang berbicara serius. Saya dan Thoha memilih duduk di teras sambil mengudut, merasa tidak enak mengganggu pembicaraan mereka. Padahal dari dalam rumah asap rokok mengepul lebih tebal. Hampir semua merokok, kecuali AMT yang rupanya sudah berhenti.

Tak lama kemudian Makroof memanggil saya masuk. “Ayo gabung,” katanya.

- Iklan -
Ad imageAd image

Saya masuk dengan agak canggung. Perkenalan dimulai. Saya menyebut asal dari Yogyakarta dan Mangkuyudan 34. Dari situ percakapan mengalir tanpa arah yang jelas: tentang gerakan mahasiswa, dakwah, organisasi, kampung, hingga program-program yang ingin dikerjakan. Kopi dituang berkali-kali. Gudang Garam Filter dinyalakan satu demi satu. Malam yang tadinya terasa asing berubah menjadi ruang persahabatan.

Menjelang dini hari suasana mencair sepenuhnya. Tikar digelar di lantai ruang tengah. Kami bermain gaple sebentar, tertawa keras, saling meledek pejabat-pejabat yang sedang berkuasa sambil sesekali melempar kartu remi. Saya masih ingat suara tawa itu memantul di dinding rumah yang sempit. Tidak ada yang tampak seperti orang penting. Semua duduk lesehan, kopi murah, rokok murah, dan mimpi-mimpi besar.

Entah kapan saya tertidur di pojok kursi ruang tamu.

Saya terbangun karena aroma kopi yang sangat kuat. Ketika membuka mata, saya melihat tiga gelas kopi dan sepiring gorengan sudah tersedia di meja. AMT masih duduk di depan komputer. Printer dot-matrix berdetak keras memecah sunyi subuh. Saya sempat bingung, apakah beliau sejak tadi belum tidur.

Tiba-tiba ia berseru, “Bangun, bangun! Kita berangkat ke Jakarta sekarang.”

- Iklan -
Ad image

Saya mengucek mata. Jam menunjukkan sekitar pukul lima pagi. AMT sudah rapi mengenakan kemeja, dasi, dan jas. Di tangannya terselip sebuah map biru berisi proposal. Saya sama sekali tidak tahu hendak diajak ke mana. Setelah salat Subuh kami berangkat dengan Volvo itu menuju Jakarta.

Perjalanan sekitar satu jam terasa hening. Jakarta pagi masih berkabut tipis. Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar, kemungkinan di kawasan Pejaten, meskipun saya tidak yakin karena saat itu saya tidak mengenal arah kota. Ketika turun, saya baru sadar rumah itu milik Adi Sasono, tokoh yang selama ini saya kagumi dari Yogyakarta.

Saya membayangkan akan ada rapat penting, pembahasan proyek besar, atau diskusi serius tentang gerakan nasional. Ternyata tidak. Kami hanya diajak sarapan bersama Adi Sasono dan keluarganya.

Justru di meja sarapan itulah saya mulai memahami AMT.

Ia datang membawa proposal, mengenakan jas dan dasi sejak subuh, menempuh perjalanan jauh, tetapi tujuan utamanya bukan semata-mata urusan proposal. Ia memelihara silaturahmi. Ia merawat jaringan manusia. Bagi AMT, gerakan tidak dibangun hanya dengan pidato dan konsep, melainkan dengan kopi, perjalanan, pertemuan, dan sarapan pagi yang tampaknya sederhana.

Pagi itu saya merasa sedang melihat pelajaran yang tidak pernah diajarkan di kampus. Seorang aktivis bisa bekerja keras semalaman, menulis sampai subuh, lalu tetap hadir dengan wajah segar untuk menghormati sahabatnya. Ada disiplin, ada ketulusan, dan ada kegembiraan yang menyertai kerja-kerja sosialnya.

Ketika kami pulang, yang paling saya ingat bukan rumah besar Adi Sasono, bukan pula mobil Volvo itu. Yang melekat justru bau kopi subuh di Gang Jawa, suara printer yang berdetak sebelum matahari terbit, dan sosok AMT yang sudah berpakaian lengkap ketika saya masih setengah terjaga. Dari peristiwa kecil itulah hubungan saya dengan AMT bermula, bukan melalui seminar atau pidato, melainkan melalui secangkir kopi yang membangunkan saya dari tidur panjang seorang aktivis muda.

Aris Munandar, kini sebagai petani dan tinggal di Magelang 

Share This Article
error: Content is protected !!