Bunyi yang Mengusir Burung, tetapi Tak Bisa Mengusir Kecemasan
DARMEDIANETWORK | Sejak beberapa hari terakhir, ada bunyi yang kembali terdengar dari tengah sawah. Bunyi yang sebenarnya sudah beberapa tahun tidak pernah saya dengar. Bunyi bambu beradu, berulang-ulang, bersahutan dari satu petak sawah ke petak sawah lainnya.
Plok… plok… plok… plok…
Orang-orang di kampung menyebutnya keplokan.
Alat itu sederhana. Terbuat dari bambu yang dibelah, kemudian disambungkan sedemikian rupa sehingga ketika diayun, kedua bagian bambu itu saling bertumbukan. Dari situlah muncul suara keras yang cukup untuk membuat burung-burung terkejut dan terbang menjauh.
Setidaknya, begitulah harapan pembuatnya.
Pagi tadi, dari kejauhan, saya melihat Yu Jum. Seorang perempuan tua yang berjalan menyusuri pematang sawah sambil membawa keplokan. Sejak selepas subuh, ia sudah berkeliling. Mengayunkan tangannya, menggerakkan bambu, lalu menghasilkan bunyi yang terdengar sampai ke rumah-rumah di sekitar persawahan.
Plok… plok… plok… plok…
Burung-burung yang semula hinggap di tanaman padi beterbangan. Beberapa saat kemudian, ketika keadaan kembali tenang, mereka datang lagi. Kali ini lebih banyak. Hinggap di batang-batang padi yang mulai berbuah.
Yu Jum kembali mengayunkan keplokannya.
Plok… plok… plok… plok…
Begitu terus. Berulang-ulang. Seolah-olah ada percakapan yang tak pernah selesai antara seorang perempuan tua dan sekawanan burung.
Yu Jum berhenti sebentar untuk makan atau minum di rumahnya. Setelah itu kembali ke sawah. Pekerjaan itu berlangsung sejak pagi, kadang sampai siang, bahkan hingga sore.
Saya membayangkan betapa melelahkannya pekerjaan itu. Bukan hanya karena ia harus berjalan mengitari petak-petak sawah, tetapi juga karena pekerjaan tersebut tidak pernah benar-benar selesai.
Burung pergi, lalu kembali.
Diusir, kemudian datang lagi.
Tidak ada yang bisa memastikan berapa kali Yu Jum harus mengayunkan keplokannya dalam sehari. Yang pasti, ia tidak boleh terlalu lama berhenti. Sebab burung-burung itu tidak mengenal jam istirahat pemilik sawah.
Ada sesuatu yang terasa getir melihat pemandangan itu.
Dua tahun sawah tidak menghasilkan panen. Dua tahun pula petani seperti kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi pegangan hidupnya. Sawah tetap ada, tanah tetap bisa dicangkul, air sesekali datang, tetapi hasilnya tidak selalu bisa dibawa pulang.
Kini, setelah sekian lama, tanaman padi mulai berbuah. Ada harapan yang perlahan tumbuh bersama bulir-bulir padi yang mulai merunduk.
Tetapi rupanya harapan itu belum boleh terlalu cepat dirayakan.
Burung-burung datang lebih dahulu.
Yu Jum harus berjaga setiap hari, mengusir mereka dengan keplokan bambu. Namun, ancaman tidak hanya datang dari udara.
Dari bawah, ada musuh lain yang bekerja tanpa suara.
Tikus.
Setiap pagi, selalu ada saja tanaman padi yang rebah. Batangnya digerogoti, pangkalnya terputus, dan sebagian tanaman tergeletak begitu saja di lumpur. Tidak ada bunyi keplokan yang bisa mengusir tikus. Tidak ada teriakan yang bisa membuatnya takut. Ia bekerja ketika petani tidur, menyisakan kerusakan yang baru diketahui saat matahari terbit.
Jadi, beginilah keadaan sawah sekarang.
Dari atas, burung-burung mengincar bulir padi yang mulai berisi. Dari bawah, tikus menggerogoti batangnya. Sementara di tengah-tengahnya, seorang perempuan tua berjalan menyusuri pematang, mengayunkan bambu dengan tenaga yang entah masih tersisa berapa banyak.
Plok… plok… plok… plok…
Saya kembali memandang Yu Jum dari kejauhan.
Bunyi keplokan itu terdengar sederhana, bahkan mungkin bagi sebagian orang hanya bunyi biasa dari kehidupan desa. Tetapi bagi saya, bunyi itu menyimpan cerita panjang tentang seorang petani yang sedang mempertahankan harapannya.
Dua tahun tidak panen. Kini ketika padi mulai berbuah, burung datang. Tikus pun tidak mau ketinggalan.
Petani harus menjaga sawah dari segala arah. Dari atas dan dari bawah. Dari sesuatu yang terlihat dan sesuatu yang bekerja diam-diam.
Dan yang paling menyedihkan, petani tidak mempunyai banyak pilihan. Tidak ada sawah lain untuk berpindah. Tidak ada tanah cadangan untuk menanam harapan baru.
Di situlah saya merasa bunyi keplokan itu bukan lagi sekadar bunyi pengusir burung.
Ia adalah bunyi seseorang yang sedang berusaha mempertahankan hidupnya.
Plok… plok… plok… plok…
Sampai kapan Yu Jum harus mengayunkan keplokan itu?
Sampai burung-burung pergi? Sampai tikus berhenti menggigiti batang padi? Atau sampai panen tiba?
Entahlah.
Yang jelas, di sawah itu, seorang nenek tua masih terus berjalan. Mengayunkan bambu, mengusir burung, menjaga padi yang belum tentu bisa dipanen.
Sebab bagi petani, bahkan ketika dua tahun tidak panen, menanam tetap harus dilakukan. Bukan karena mereka tidak tahu betapa berat risikonya, melainkan karena mereka tidak punya tempat lain untuk menanam harapan.
Dan pagi itu, harapan tersebut berbunyi:
Plok… plok… plok… plok…***
Aris Munandar, seorang petani tinggal di Magelang