Bongkahan Es 20 Cm Jebol Atap Rumah Warga di Bantul, BMKG Belum Bisa Pastikan Asalnya

4 Min Read

Diperlukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui asal-usul dan proses terbentuknya bongkahan es tersebut.

BANTUL, DARMEDIANETWORK – Sebuah rumah warga di Padukuhan Jodog, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengalami kerusakan setelah tertimpa bongkahan es berdiameter sekitar 20 sentimeter, Senin (2/11/2026) pagi.

Bongkahan es tersebut diduga jatuh menembus atap rumah hingga merusak plafon dan sejumlah perabot di ruang tamu.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIB di rumah milik Veronica Suharti.

Saat kejadian, Petrus, kakak pemilik rumah, sedang berada di gazebo depan rumah. Ia mendengar suara dentuman dari dalam bangunan.

- Iklan -
Ad imageAd image

Setelah memeriksa sumber suara, ditemukan bongkahan es berukuran sekitar 20 sentimeter yang telah menembus bagian atap.

Akibat kejadian tersebut, atap galvalum pasir dan plafon PVC beserta rangkanya mengalami kerusakan. Sebuah kursi kayu di ruang tamu juga dilaporkan patah.

Bagian bangunan yang mengalami kerusakan diperkirakan seluas 1 x 1 meter.

Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa tersebut karena ruangan yang tertimpa bongkahan es sedang tidak digunakan.

BMKG belum bisa memastikan asal bongkahan es

- Iklan -
Ad image

Fenomena tersebut menjadi perhatian karena ukuran bongkahan es yang ditemukan tergolong tidak biasa.

Forecaster on Duty Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Heri, menjelaskan bahwa berdasarkan pengamatan radar BMKG, tidak terdeteksi hujan di sekitar lokasi kejadian pada pukul 08.00 WIB.

Hujan ringan di wilayah Pandak baru terpantau sekitar pukul 09.00 WIB.

BMKG memang mendeteksi keberadaan awan hujan di sekitar Pajangan dan Panggungharjo, Sewon. Namun, lokasi awan tersebut tidak tepat berada di sekitar rumah yang tertimpa bongkahan es.

BMKG juga mencatat adanya potensi gangguan atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) di wilayah Pulau Jawa.

Meski demikian, kondisi atmosfer tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab jatuhnya bongkahan es.

Diperlukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui asal-usul dan proses terbentuknya bongkahan es tersebut.

BPBD lakukan pemeriksaan lokasi

Sekretaris BPBD Kabupaten Bantul, Ribut Bimo Haryo Tejo, membenarkan adanya kejadian tersebut.

BPBD telah mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan dan berkoordinasi dengan BMKG DIY guna mengetahui kemungkinan penyebab fenomena tersebut.

Berdasarkan pemeriksaan awal, BPBD tidak menemukan pabrik es di sekitar lokasi kejadian.

BPBD juga menyebut tidak ada laporan hujan maupun angin kencang sebelum dan ketika peristiwa berlangsung.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul, Antoni Hutagaol, menyampaikan bahwa pihaknya baru menerima satu laporan kejadian serupa.

Dengan demikian, belum ada indikasi bahwa peristiwa tersebut merupakan fenomena yang terjadi secara meluas di wilayah Pandak.

Hujan es bisa terjadi, tetapi asal bongkahan masih diteliti

Secara meteorologis, hujan es dapat terjadi akibat pertumbuhan awan Cumulonimbus yang memiliki arus udara naik kuat.

Di dalam awan tersebut, tetesan air dapat membeku dan membentuk butiran es. Namun, ukuran bongkahan yang dilaporkan di Pandak, sekitar 20 sentimeter, memerlukan pemeriksaan lebih lanjut sebelum dapat dikategorikan sebagai fenomena hujan es.

BMKG belum menyimpulkan bahwa bongkahan tersebut berasal dari proses hujan es alami.

Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui sumber bongkahan, karakteristik fisiknya, serta kaitannya dengan kondisi cuaca saat kejadian.

Hingga kini, asal-usul bongkahan es yang merusak rumah warga di Pandak tersebut masih belum dapat dipastikan.

Editor: Aris Munandar 

Share This Article
error: Content is protected !!