Politik Kuitansi

4 Min Read
Esai pagi, menjelang siang (ilustrasi: DMNetwork)

DMNETWORK – Dalam politik, kata ikhlas barangkali adalah kata yang paling murah diucapkan, tetapi paling mahal pembuktiannya. Semua orang mengaku ikhlas ketika berdiri di belakang seorang calon. Mereka tersenyum di panggung, mengangkat tangan, mengibarkan bendera, bahkan rela tidak tidur berhari-hari. Seolah kemenangan orang lain adalah kemenangan batinnya sendiri.

Tetapi politik memiliki kebiasaan yang ganjil. Ia seperti hujan pertama. Ketika turun, semua tampak bersih. Baru beberapa hari kemudian lumpur mulai terlihat.

Di awal perjuangan, dukungan lahir dari keyakinan. Orang datang membawa tenaga, pikiran, bahkan isi dompetnya. Mereka percaya bahwa yang sedang diperjuangkan bukan sekadar kursi, melainkan harapan. Tidak ada kuitansi yang disimpan. Tidak ada daftar tagihan yang diselipkan di balik pidato.

Begitu kemenangan datang, suasana berubah. Sebagian orang mulai membuka laci yang sebelumnya terkunci rapat. Dari dalamnya keluar proposal, daftar nama, rekomendasi, proyek, jabatan, konsesi, dan segala macam benda yang rupanya sudah dipersiapkan sejak tepuk tangan pertama.

- Iklan -
Ad imageAd image

Barulah kita sadar, ternyata ada yang sejak awal tidak sedang mendukung. Ia sedang berinvestasi.

Dukungan berubah menjadi faktur. Kesetiaan berubah menjadi piutang. Kemenangan dianggap jatuh tempo.

Ada pula yang berjuang seperti orang berjudi. Ketika meja permainan masih ramai, ia berteriak paling keras, mengepalkan tangan paling tinggi, dan mengaku paling yakin akan menang. Namun ketika hasilnya tidak sesuai harapan, ia datang ke kasir kehidupan sambil bertanya dengan wajah polos, “Mana uang kembalian saya?” Seakan-akan perjuangan adalah permainan yang menyediakan pengembalian modal bagi siapa pun yang merasa pernah ikut memasang taruhan.

Padahal perjuangan bukan kasino. Tidak ada loket pengembalian chip. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa sesuatu yang benar memang patut diperjuangkan, meskipun tidak selalu menghadiahkan keuntungan pribadi.

Sebaliknya, ada jenis pejuang yang lain. Mereka tidak terlalu sibuk menghitung hasil untuk dirinya sendiri. Setelah satu perjuangan selesai, entah berakhir dengan kemenangan ataupun kekalahan, ia akan menemukan perjuangan berikutnya. Hari ini membela petani. Besok mengajar anak-anak. Lusa mendampingi rakyat kecil. Minggu depan mungkin memperjuangkan kebudayaan atau lingkungan. Bukan karena sedang mencari panggung, melainkan karena hidup baginya memang tidak pernah selesai sebagai sebuah pengabdian.

Pejuang seperti itu tidak pensiun hanya karena satu pertempuran usai. Baginya, kemenangan bukan tempat beristirahat, dan kekalahan bukan alasan untuk pulang. Selama masih ada ketidakadilan, selama masih ada yang perlu dibela, selalu ada jalan baru untuk diperjuangkan.

- Iklan -
Ad image

Di sinilah kata ikhlas menemukan maknanya. Ia tidak meminta balasan. Ia tidak menagih jasa. Ia tidak menghitung berapa yang telah dikeluarkan untuk kemudian ditukar dengan jabatan atau proyek.

Orang yang benar-benar ikhlas biasanya justru tidak banyak terlihat. Setelah kemenangan diraih, ia pulang. 

Ia kembali mengurus sawah, toko, kantor, atau keluarganya. Kalau sesekali bertemu, ia hanya berkata, “Semoga amanah.” Tidak lebih.

Sebaliknya, mereka yang paling sering berkata, “Kami berjuang dari nol,” sering kali bukan sedang mengenang perjuangan. Mereka sedang menyusun alasan mengapa mereka merasa berhak mengambil bagian yang lebih besar.

Politik akhirnya menjadi ruang yang aneh. Di sana, tepuk tangan bisa berubah menjadi kuitansi. Senyum bisa berubah menjadi proposal. Dan pelukan dapat menjelma kontrak kerja yang tak pernah ditandatangani.

Padahal dukungan sejati tidak mengenal bunga. Ia tidak meminta pengembalian modal. Ia tidak menghitung untung rugi.

Ikhlas memang tidak menghasilkan dividen. Tetapi ia melahirkan martabat.

Kepentingan mungkin menghasilkan keuntungan. Namun bila dibiarkan menguasai seluruh ruang, ia pelan-pelan mengubah kemenangan menjadi ladang rampokan yang dibungkus ucapan selamat.

Mungkin itulah sebabnya sejarah lebih mudah mengingat mereka yang terus berjalan, bukan mereka yang sibuk menghitung ongkos perjalanan. Sebab sejarah, tidak seperti politik sehari-hari, masih memiliki ingatan yang cukup baik untuk membedakan mana pengabdian dan mana transaksi.

Aris Munandar, petani tinggal di Magelang

Share This Article