“Membaca pesan di balik keberangkatan Sugiono dan Ahmad Muzani ke Teheran”
Oleh Aris Munandar
DMNETWORK – Kalau diplomasi hanya soal naik pesawat, tentu agen perjalanan lebih pantas menjadi menteri luar negeri.
Tetapi diplomasi tidak pernah sesederhana itu. Ia adalah bahasa yang tidak selalu memakai kata. Kadang cukup memakai daftar nama penumpang.
Karena itu, pada akhirnya ketika Presiden Prabowo mengutus Menteri Luar Negeri Sugiono bersama Ketua MPR Ahmad Muzani menghadiri pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, pertanyaan yang menarik bukanlah apakah Indonesia datang atau tidak. Pertanyaan yang lebih menarik adalah: mengapa mereka berdua?
Ada yang menganggap itu sekadar urusan protokol. Padahal, dalam diplomasi, protokol adalah tata bahasa. Salah memilih subjek, satu kalimat bisa berubah arti. Salah memilih utusan, satu negara bisa ditafsirkan sedang berpindah haluan.
Indonesia tidak mengirim Wakil Presiden. Tidak pula cukup diwakili Duta Besar. Yang berangkat adalah Menteri Luar Negeri, didampingi Ketua MPR yang juga merupakan salah satu orang kepercayaan Presiden.
Ukurannya terasa pas.
Tidak terlalu tinggi sehingga dibaca sebagai keberpihakan politik. Tidak terlalu rendah sehingga dianggap mengabaikan duka sebuah negara sahabat.
Ada bangsa yang gemar berbicara dengan pengeras suara. Indonesia tampaknya masih percaya pada bahasa volume sedang.
Di situlah menariknya.
Selama beberapa dasawarsa, politik luar negeri Indonesia sering diterjemahkan dengan dua kata yang sudah sangat akrab: bebas aktif. Kalimat itu begitu sering diulang sehingga kadang kehilangan tenaga. Padahal, di dalamnya tersimpan pekerjaan yang tidak ringan. Menjaga hubungan dengan semua pihak jauh lebih sulit daripada memilih satu kubu.
Dalam dunia yang semakin gemar membelah diri menjadi “kami” dan “mereka”, Indonesia justru berusaha tetap menjadi “kita”.
Tentu bukan semua orang menyukai posisi itu. Selalu ada yang ingin Indonesia berdiri lebih dekat ke Barat. Selalu ada pula yang berharap Indonesia lebih lantang bersama Timur. Kedua-duanya sama bersemangat menarik lengan Jakarta.
Indonesia memilih menjaga keseimbangan.
Dalam tradisi Islam, ada sebuah istilah yang terasa akrab untuk menggambarkan sikap semacam itu: ummatan wasathan. Sebuah umat yang berada di tengah. Tetapi “tengah” di sini bukan berarti bingung menentukan arah. Bukan pula netral karena takut mengambil sikap.
Tengah adalah posisi yang lahir dari keadilan.
Ia berdiri cukup dekat untuk memahami semua pihak, tetapi cukup jauh untuk tidak kehilangan kejernihan.
Barangkali itulah yang sedang dicoba Indonesia.
Menghormati Iran tanpa memusuhi negara lain.
Menjaga persahabatan dengan dunia Islam tanpa memutus dialog dengan Barat.
Melayat bukan karena menyetujui seluruh politik almarhum. Melayat karena bangsa yang beradab mengenal penghormatan kepada sesama bangsa.
Dalam hubungan antarnegara, etika kadang sama pentingnya dengan strategi.
Ada yang lupa bahwa pemakaman kepala negara atau pemimpin besar bukan hanya urusan keluarga. Ia juga panggung diplomasi. Negara-negara saling membaca siapa yang datang, siapa yang absen, siapa yang duduk di barisan depan, bahkan siapa yang sekadar mengirim karangan bunga.
Diplomasi memang mempunyai kebiasaan aneh. Ia sering berbicara melalui hal-hal yang tampaknya sepele.
Karena itu, kehadiran Sugiono dan Ahmad Muzani lebih tepat dibaca sebagai kalimat diplomatik daripada berita perjalanan.
Kalimat itu berbunyi sederhana: Indonesia menghormati Iran, tetapi Indonesia tetap Indonesia.
Bukan satelit siapa pun.
Bukan perpanjangan tangan blok mana pun.
Bukan pula penonton yang memilih menutup mata ketika bangsa lain sedang berkabung.
Mungkin inilah wajah politik luar negeri yang sedang dicari Presiden Prabowo. Tegas tanpa menjadi kasar. Bersahabat tanpa kehilangan martabat. Hadir tanpa harus larut. Orang boleh tetap menyebutnya politik bebas aktif.
Tetapi di tengah dunia yang semakin gemar memilih kutub, barangkali istilah ummatan wasathan terasa lebih hidup. Sebab ia bukan hanya mengajarkan keseimbangan, melainkan juga keberanian untuk tetap adil ketika semua orang sedang sibuk memilih berpihak.
Penulis, seorang petani tinggal di Magelang