Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui
Oleh: Mbah Roso, petani dan gemar menulis, tinggal di Magelang
DMNETWORK – Barangkali sebuah kata tidak selalu meminta kita mencari sinonimnya. Ada kalanya ia justru mengajak kita menoleh ke arah yang berlawanan. Di sana, pada kata yang tampaknya bertentangan, sebuah makna lain diam-diam menunggu untuk ditemukan.
Saya menyebutnya pendekatan antonim.
Ketika Al-Qur’an mengisahkan dialog tentang khalifah dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, para malaikat bertanya, “Apakah Engkau akan menjadikan di bumi makhluk yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah?” Pertanyaan itu bukan sekadar deskripsi. Ia adalah sebuah dugaan tentang manusia.
Namun Allah tidak membenarkan ataupun mengulang definisi tersebut. Jawaban-Nya singkat: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Di titik itulah saya mencoba membaca dari arah sebaliknya. Jika manusia bukan semata-mata makhluk yang diciptakan untuk merusak dan menumpahkan darah, maka makna yang berdekatan justru adalah menghadirkan kehidupan yang layak.
Layak bukanlah istilah yang muluk. Ia hadir dalam pengalaman sehari-hari. Makan benar-benar menjadi makan, bukan sekadar mengenyangkan perut. Tidur menghadirkan ketenteraman. Air yang digunakan untuk mandi tetap bersih. Sungai tidak dipenuhi limbah. Udara dapat dihirup tanpa rasa cemas.
Suasana yang layak itulah yang menjadi ruang bagi kehidupan untuk bertumbuh.
Jika demikian, tugas manusia di bumi memperoleh wajah yang lebih konkret. Bukan sekadar hadir, melainkan menciptakan kondisi agar kehidupan dapat berlangsung dengan baik.
Setiap profesi memiliki ukurannya sendiri.
Dokter menjaga kesehatan masyarakat.
Guru membangun mutu generasi.
Petani memastikan pangan tersedia.
Insinyur menghadirkan teknologi yang memudahkan kehidupan.
Aparat keamanan menjaga rasa aman, Ukurannya berbeda, tetapi arahnya sama: menghadirkan kelayakan hidup.
Karena itu bekerja tidak hanya bernilai ekonomi. Ia menjadi bagian dari ibadah ketika dijalankan sebagai pelaksanaan tugas yang diamanahkan Allah. Ilmu yang menopang pekerjaan tersebut pun memperoleh kedudukan penting. Dalam tradisi fikih, banyak di antaranya dipahami sebagai fardu kifayah, sebab tanpanya masyarakat tidak dapat hidup dengan baik.
Barangkali di sinilah perbedaan antara kewajiban dan tugas menjadi penting. Kewajiban mengatur hubungan manusia dengan Allah. Tugas menghubungkan manusia dengan kehidupan di bumi. Keduanya bertemu, tetapi tidak selalu berada pada ruang yang sama.
Pendekatan serupa dapat digunakan ketika membaca ayat tentang kaum Bani Israil yang “membunuh para nabi” sebagaimana disebut dalam Surah Al-Baqarah ayat 61.
Mungkin yang dimaksud tidak berhenti pada peristiwa sejarah. Lawannya bukan sekadar tidak membunuh, melainkan menghidupkan.
Yang dihidupkan tentu bukan pribadi para nabi, melainkan gagasan yang mereka bawa.
Sebab seorang nabi selalu datang dengan cara pandang baru terhadap kehidupan. Ia memperkenalkan nilai, etika, dan konsep yang membuat manusia mampu membangun peradaban.
Dari sini saya membedakan pengertian nabi dan rasul.
Nabi menyampaikan konsep-konsep dasar kehidupan agar manusia mampu menjalankan tugasnya sebagai khalifah.
Rasul menyampaikan risalah agama sebagai petunjuk hubungan manusia dengan Tuhannya.
Keduanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Mungkin karena melupakan konsep-konsep kehidupan itulah suatu masyarakat dapat kehilangan martabatnya. Sebaliknya, ketika konsep-konsep itu dihidupkan kembali, sebuah kebangkitan menjadi mungkin.
Nabi Daud dikenang bukan hanya sebagai raja, tetapi juga melalui pengetahuan mengolah logam, fondasi bagi kekuatan, kemakmuran, dan kemandirian suatu bangsa.
Nabi Sulaiman menghadirkan teladan tentang pentingnya ilmu, keadilan, penguasaan informasi, pengenalan terhadap alam, kepedulian kepada rakyat kecil, serta semangat produktivitas.
Nabi Musa mengajarkan hal-hal yang tampak sederhana namun menentukan peradaban: menghormati orang tua, tertib dalam antrean, adab berjalan bersama perempuan, hingga pentingnya kemampuan berkomunikasi melalui seorang juru bicara.
Barangkali sejarah tidak hanya meminta kita mengingat nama para nabi. Yang lebih mendesak adalah menghidupkan kembali cara berpikir yang mereka wariskan.
Sebab sebuah bangsa tidak kehilangan masa depannya ketika kekurangan sumber daya. Ia mulai kehilangan masa depan ketika berhenti merawat konsep-konsep yang membuat kehidupan menjadi layak bagi semua.***