BNPB: 71 Ribu Hektare Karhutla Gambut Berhasil Dipadamkan, 939 Hektare Masih Ditangani

4 Min Read
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat operasi penanganan kebakaran lahan gambut di enam provinsi prioritas telah memadamkan 71.069,65 hektare area terbakar. (dok. BNPB)

DMNETWORK.COMJAKARTA, – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat operasi penanganan kebakaran lahan gambut di enam provinsi prioritas telah memadamkan 71.069,65 hektare area terbakar.

Capaian tersebut setara sekitar 98 persen dari total 72.009,10 hektare lahan gambut yang teridentifikasi terbakar di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Kepala BNPB Suharyanto menyampaikan data tersebut dalam Rapat Terbatas Perkembangan Penanganan Bencana Alam, Senin (7/9/2026).

Kami sudah berhasil memadamkan 71.069,65 hektare di enam provinsi per hari ini,” kata Suharyanto.

- Iklan -
Ad imageAd image

Operasi dilakukan melalui penanganan darat dan udara dengan melibatkan unsur gabungan. Namun, pemerintah masih harus menangani sekitar 939,45 hektare lahan yang belum sepenuhnya padam.

Kalimantan Barat Jadi Wilayah Terparah

Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas lahan gambut terbakar paling besar dalam penanganan enam wilayah prioritas.

BNPB mencatat luas kebakaran di Kalimantan Barat mencapai 38.310,86 hektare.

Riau berada di posisi berikutnya dengan 15.738,92 hektare, disusul Kalimantan Selatan 8.019,63 hektare.

Tiga provinsi lainnya mencatat luasan lebih rendah, yakni Kalimantan Tengah 7.634,46 hektare, Sumatera Selatan 1.926,23 hektare, dan Jambi 379 hektare.

- Iklan -
Ad image

Lahan yang terbakar tersebut mencakup area konsesi serta lahan masyarakat maupun kawasan hutan.

Pemerintah Verifikasi Hotspot Sebelum Bertindak

BNPB menegaskan data luas kebakaran diperoleh melalui proses pemantauan berlapis.

Kementerian Kehutanan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terlebih dahulu mengidentifikasi titik panas atau hotspot berdasarkan data satelit.

Namun, setiap hotspot tidak serta-merta dikategorikan sebagai kebakaran.

Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi harus melalui proses verifikasi. Petugas melakukan patroli udara menggunakan helikopter dan patroli darat untuk memastikan sumber panas tersebut benar-benar merupakan kebakaran.

Setelah area terbakar dipastikan, petugas menentukan lokasi yang perlu ditangani melalui operasi pemadaman.

“Ketemulah yang betul-betul terbakar. Nah, ini kami padamkan dengan operasi darat dan operasi udara,” ujar Suharyanto.

939 Hektare Masih Jadi Sasaran

Capaian pemadaman sekitar 98 persen belum membuat operasi dihentikan.

Sisa 939,45 hektare lahan yang masih menjadi sasaran penanganan terus dipadamkan pada Senin (7/9/2026).

Tantangan terbesar berada pada karakteristik lahan gambut yang memungkinkan api kembali menyala meskipun sebelumnya telah berhasil dipadamkan.

Selain itu, petugas masih dapat menemukan titik kebakaran baru selama operasi berlangsung.

Kondisi tersebut membuat angka luas area yang terbakar dapat berubah dan tidak selalu langsung turun secara signifikan.

Suharyanto menjelaskan bahwa area yang telah dipadamkan tetap harus diawasi karena potensi munculnya kembali api masih ada.

Kadang-kadang juga tidak berkurang signifikan karena hari ini juga ditemukan titik kebakaran yang baru, atau kebakaran yang lama yang sudah dipadamkan tiba-tiba hidup kembali,” ujarnya.

Kewaspadaan Belum Berakhir

BNPB tetap meningkatkan kewaspadaan meski sebagian besar area kebakaran telah berhasil dikendalikan.

Pemantauan hotspot, verifikasi lapangan, serta operasi pemadaman darat dan udara terus dilakukan untuk mengendalikan titik api yang tersisa.

Penanganan tersebut menjadi penting untuk mencegah kebakaran kembali meluas di enam provinsi prioritas.

Pemerintah juga harus memastikan area yang telah dipadamkan tidak kembali menjadi sumber kebakaran baru.

Dengan demikian, capaian 71.069,65 hektare pemadaman menjadi bagian penting dari operasi pengendalian karhutla gambut, tetapi belum menandai berakhirnya penanganan.

Fokus berikutnya adalah menuntaskan sisa area terbakar sekaligus mengantisipasi titik api baru dan potensi munculnya kembali api di kawasan yang sebelumnya telah dipadamkan.***

Share This Article
error: Content is protected !!