Kalau Orang Jawa Sudah Berkata “Nitis”

5 Min Read
Nitip (ilustrasi: Mbah Roso)

“Wajah boleh kebetulan. Tetapi sejarah sering mencari tubuh baru untuk meneruskan pekerjaannya.”

Oleh: Aris Munandar

- Iklan -
Ad imageAd image

DMNETWORK – Orang Jawa memang mempunyai cara sendiri dalam membaca manusia. Mereka tidak selalu percaya bahwa segala sesuatu selesai dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.
Ketika melihat dua orang memiliki wajah yang mirip, mereka tidak buru-buru menyebutnya kebetulan genetik. Mereka justru saling menatap, tersenyum kecil, lalu berkata, “Iki kaya nitis.”
Nitis.
Satu kata yang sukar diterjemahkan ke dalam bahasa modern. Ia bukan sekadar reinkarnasi sebagaimana dipahami dalam tradisi lain. Ia lebih merupakan keyakinan bahwa ada watak, semangat, daya juang, bahkan panggilan sejarah yang seperti menemukan rumah baru.
Yang berpindah bukan raganya. Yang berpindah adalah nyala api.
Orang Jawa juga mengenal istilah wahyu keprabon atau pulung. Sebuah isyarat bahwa kepemimpinan bukan semata-mata hasil ambisi, melainkan juga hasil perjalanan batin yang panjang.
Karena itu, ketika masyarakat melihat seseorang memiliki wajah yang mengingatkan pada tokoh besar, mereka sesungguhnya sedang membaca sesuatu yang lebih dalam daripada bentuk hidung atau sorot mata.
Mereka sedang membaca tanda
Belakangan, tidak sedikit orang yang memperbincangkan kemiripan wajah Sudaryono dengan Sukarno pada masa muda. Ada yang sekadar bergurau. Ada pula yang mengunggah dua foto berdampingan sambil mengajak orang lain membandingkan sendiri.
Mungkin itu hanya kebetulan
Tetapi bagi orang Jawa, pertanyaan menariknya bukanlah apakah wajah mereka benar-benar mirip.
Melainkan, apakah semangat perjuangannya juga sedang berjalan menuju arah yang sama?
Di sinilah sejarah mulai menarik.
Sukarno lahir pada zaman ketika Indonesia belum menjadi Indonesia. Yang ada hanyalah pulau-pulau yang dipisahkan laut, suku-suku yang dipisahkan identitas, dan rakyat yang dipersatukan hanya oleh penderitaan akibat penjajahan.
Sukarno datang membawa satu kata yang kemudian mengubah segalanya. Persatuan.
Ia tidak mengumpulkan orang berdasarkan agama. Tidak berdasarkan suku. Tidak pula berdasarkan bahasa daerah. Ia mengajak semuanya berdiri di bawah satu nama yang waktu itu bahkan masih terasa asing. Indonesia.
Kalimat-kalimatnya bukan sekadar pidato. Ia menjahit kepulauan dengan gagasan. Ia membuat jutaan orang percaya bahwa mereka sedang berjalan menuju rumah yang sama.
Sudaryono lahir pada zaman yang berbeda. Indonesia telah merdeka.
Tetapi kemerdekaan ternyata tidak otomatis membuat petani hidup sejahtera.
Anak petani ini tumbuh mengenal sawah lebih dahulu daripada panggung politik. Ia mengetahui bahwa bau rumput yang dipikul untuk pakan sapi jauh lebih jujur daripada banyak janji yang diucapkan menjelang pemilu.
Karena itu, ketika kemudian menjadi kader militan Prabowo Subianto dan dipercaya menjabat Wakil Menteri Pertanian, ia tidak datang membawa romantisme. Ia membawa pengalaman.
Pengalaman itulah yang membuat perjuangannya selalu kembali kepada satu pertanyaan sederhana. Bagaimana petani bisa hidup lebih baik?
Kalau Sukarno dahulu menyatukan bangsa yang tercerai oleh penjajahan, Sudaryono sedang berusaha menyatukan petani yang selama bertahun-tahun berjalan sendiri-sendiri.
Ia membangun Tani Merdeka Indonesia bukan sekadar organisasi. Ia sedang membangun kesadaran bahwa petani bukan kelompok pinggiran. Petani adalah fondasi republik.
Tanpa petani, kemerdekaan hanya menjadi teks dalam buku pelajaran.

Di sinilah kemiripan itu mulai terasa. Bukan kemiripan wajah.
Melainkan kemiripan cara berpikir. Sukarno percaya bahwa bangsa yang besar harus bersatu. Sudaryono percaya bahwa petani yang kuat juga harus bersatu.

Sukarno melawan kolonialisme.
Sudaryono menghadapi persoalan zaman yang lebih rumit. Ketergantungan pangan, distribusi pupuk, harga hasil panen, regenerasi petani, hingga perubahan iklim.
Musuhnya tidak mengangkat senjata. Tetapi dampaknya sama-sama dapat melemahkan bangsa. Karena itu bahasa perjuangannya pun berubah.
Sukarno berbicara tentang revolusi. Sudaryono berbicara tentang pupuk, benih, hilirisasi, irigasi, koperasi, dan kesejahteraan petani. Sekilas terdengar biasa.
Padahal di balik kata-kata itu tersimpan perjuangan agar Indonesia tetap mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Mungkin karena itulah sebagian masyarakat Jawa mulai menghubungkan kemiripan wajah itu dengan istilah nitis.
Bukan karena percaya bahwa Sukarno lahir kembali.
Melainkan karena mereka melihat ada semangat yang seperti sedang mencari jalannya sendiri pada zaman yang berbeda.
Sebab sejarah memang mempunyai kebiasaan yang aneh. Ia jarang mengulang peristiwa. Tetapi sering mengulang semangat.

Dahulu semangat itu bernama kemerdekaan. Hari ini ia mungkin bernama kedaulatan pangan.
Dahulu ia mengumpulkan rakyat menjadi bangsa. Hari ini ia mengumpulkan petani menjadi kekuatan.
Apakah Sudaryono adalah Sukarno muda? Biarlah sejarah yang menjawab. Orang Jawa tidak pernah tergesa-gesa memberi kesimpulan. Mereka hanya berkata lirih, “Yen pancen nitis, wektu sing bakal mbuktekake.”
Jika memang semangat itu benar sedang menemukan rumahnya yang baru, waktulah yang kelak akan menjadi saksinya.
Sebab pada akhirnya sejarah tidak diingat karena wajah yang mirip. Sejarah hanya mengingat mereka yang berhasil meninggalkan jejak bagi orang banyak.

- Iklan -
Ad image

Aris Munandar, spiritual petani tinggal di Magelang 

Share This Article