Ritam Tak Langsung Pulang, Membawa Manisnya Kelengkeng dari Bapeltan untuk Keluarga di Rumah

2 Min Read
Sebelum pulang, Ritam peserta Diklat asal Banokeling Banyumas sebelum pulang memilih belanja buah di demlot Bapeltan (foto: Nezar)

TEMANGGUNG, DMNETWORK – Setelah mengikuti seluruh rangkaian Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Tani Merdeka Indonesia (TMI) Angkatan II Jawa Tengah, Ritam belum bergegas meninggalkan Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Minggu (5/7/2026).

Peserta yang mewakili Dewan Pimpinan Wilayah Khusus (DPWK) Komunitas Adat Bonokeling itu justru memilih berjalan santai menyusuri kawasan Bapeltan. Di tengah suasana yang mulai lengang karena ratusan peserta telah kembali ke daerah masing-masing, langkah Ritam berhenti di sebuah kebun kelengkeng yang sedang memasuki masa panen.

Butiran buah yang menggantung lebat menarik perhatiannya. Tanpa berpikir panjang, ia membeli beberapa kilogram kelengkeng yang dijual seharga Rp45.000 per kilogram. Buah itu bukan untuk dirinya sendiri, melainkan sebagai oleh-oleh bagi keluarga yang telah menunggu kepulangannya.

“Biar keluarga di rumah ikut merasakan hasil pertanian dari tempat saya belajar selama beberapa hari ini,” tuturnya sambil tersenyum.

- Iklan -
Ad imageAd image

Perjalanan Ritam belum berhenti. Ia kemudian menyusuri area demplot pertanian yang menjadi laboratorium lapangan Bapeltan. Di sana, hamparan tanaman melon dan semangka tumbuh rapi di atas bedengan yang terawat. Sesekali ia berhenti memperhatikan teknik budidaya yang diterapkan, seolah mengulang kembali pelajaran yang diperoleh selama mengikuti diklat.

Beberapa hasil panen dari lahan percontohan itu juga dibelinya untuk dibawa pulang. Baginya, buah-buahan tersebut bukan sekadar buah tangan, melainkan kenangan dari sebuah proses belajar yang mempertemukan teori dengan praktik pertanian di lapangan.

Di sudut-sudut lain Bapeltan, pemandangan serupa juga terlihat. Sejumlah peserta memanfaatkan waktu sebelum perjalanan pulang untuk berbelanja hasil panen yang diproduksi dari kebun dan demplot pelatihan. Ada yang memilih kelengkeng, ada pula yang membawa semangka maupun hasil hortikultura lainnya.

Ketika kendaraan satu per satu mulai meninggalkan kawasan Bapeltan, yang dibawa para peserta bukan hanya sertifikat diklat dan catatan materi. Mereka juga membawa pulang hasil bumi yang dipanen dari lahan pelatihan, sebagai pengingat bahwa ilmu pertanian akan selalu menemukan maknanya ketika kembali ke rumah, tumbuh di sawah, kebun, dan ladang yang mereka rawat bersama masyarakat. ***

Share This Article