JAKARTA, DMNETWORK – Gagasan Kementerian Pertanian membangun Dapur Susu Indonesia (Dasi) untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak sekadar berbicara soal pemenuhan gizi anak sekolah. Di balik konsep tersebut tersimpan harapan lama peternak sapi perah rakyat: adanya kepastian pasar bagi susu segar yang mereka hasilkan setiap hari.
Bagi masyarakat Jawa Tengah, terutama di Boyolali dan lereng Gunung Merbabu wilayah Sawangan, Kabupaten Magelang, persoalan penyerapan susu bukanlah cerita baru.
Pada era 1990-an hingga awal 2000-an, Sawangan dikenal sebagai salah satu sentra sapi perah rakyat yang cukup maju. Koperasi susu tumbuh dan menjadi penopang ekonomi peternak. Setiap pagi, susu segar dari kandang-kandang warga dikumpulkan untuk kemudian disalurkan ke industri pengolahan susu.
Namun, kejayaan itu perlahan memudar.
Ketergantungan peternak terhadap pabrik dan industri pengolahan susu membuat posisi tawar mereka sangat lemah. Ketika harga beli turun atau kuota penyerapan dikurangi, peternak tidak memiliki banyak pilihan. Susu segar merupakan komoditas yang mudah rusak dan harus segera dipasarkan.
Akibatnya, banyak peternak memilih menjual sapi perah mereka atau beralih ke usaha lain. Di sejumlah wilayah Sawangan bagian atas, populasi sapi perah yang dahulu menjadi penopang ekonomi desa kini menurun drastis. Sebagian koperasi susu yang dulu aktif menampung produksi peternak bahkan tidak lagi beroperasi.
Fenomena serupa terjadi di Boyolali yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi susu terbesar di Indonesia.
Pada November 2024, ratusan peternak sapi perah di Boyolali melakukan aksi protes dengan mandi susu dan membuang sekitar 50.000 liter susu ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Winong. Aksi tersebut dilakukan karena industri pengolahan susu membatasi kuota penerimaan susu segar dari peternak lokal sehingga ribuan liter susu tidak terserap pasar.
Koordinator aksi saat itu menyebutkan bahwa produksi susu peternak menumpuk di koperasi dan pengepul karena kuota pembelian dari pabrik dikurangi. Bahkan terdapat sekitar 30.000 liter susu per hari yang tidak terserap industri meskipun produksi susu Boyolali mencapai sekitar 140.000 liter per hari.
Aksi tersebut menjadi perhatian nasional karena terjadi ketika pemerintah tengah menyiapkan Program Makan Bergizi Gratis yang membutuhkan pasokan susu dalam jumlah besar.
Merespons peristiwa itu, Kementerian Pertanian kemudian mewajibkan industri pengolahan susu menyerap produksi susu peternak rakyat dan melakukan evaluasi terhadap tata niaga susu nasional. Bahkan sejumlah perusahaan sempat dikenai pembatasan impor sebagai bentuk tekanan agar lebih banyak menyerap produksi dalam negeri.
Dalam konteks itulah konsep Dapur Susu Indonesia menjadi menarik.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, menjelaskan bahwa Dasi dirancang sebagai unit pengolahan susu skala kecil yang terhubung langsung dengan dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Model ini memungkinkan susu segar dari peternak tidak harus bergantung sepenuhnya pada industri besar. Dengan investasi kurang dari Rp 5 miliar, satu unit Dasi disebut mampu memasok kebutuhan lima hingga sepuluh SPPG di sekitarnya.
Konsep tersebut pada dasarnya mempersingkat rantai distribusi dari kandang menuju konsumen. Peternak tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan baku yang bergantung pada kebijakan kuota pabrik, tetapi menjadi bagian dari rantai pasok program pemerintah yang memiliki pasar relatif pasti.
Bagi daerah seperti Boyolali maupun Sawangan, skema ini dapat menjadi peluang kebangkitan baru industri susu rakyat.
Namun demikian, persoalan persusuan nasional tidak hanya menyangkut pasar. Kualitas susu, manajemen pascapanen, rantai pendingin, dan produktivitas sapi perah juga menjadi tantangan yang harus dibenahi secara bersamaan. Produktivitas sapi perah Indonesia saat ini masih berada di bawah 20 liter per ekor per hari, jauh di bawah negara-negara produsen utama susu dunia.
Data Kementan menunjukkan populasi sapi perah nasional baru sekitar 540.657 ekor dan produksi dalam negeri masih memenuhi sekitar 25 persen kebutuhan nasional. Sisanya masih dipenuhi melalui impor.
Karena itu, keberhasilan Dapur Susu Indonesia nantinya tidak hanya diukur dari jumlah unit yang dibangun, tetapi juga dari kemampuannya memberikan kepastian usaha bagi peternak rakyat.
Pengalaman Sawangan dan Boyolali menunjukkan bahwa persoalan terbesar peternak bukan semata menghasilkan susu, melainkan memastikan susu yang dihasilkan setiap hari benar-benar memiliki pembeli.
Jika Dasi mampu menjawab persoalan tersebut, Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya menjadi program pemenuhan gizi anak Indonesia, melainkan juga menjadi momentum kebangkitan peternakan sapi perah rakyat yang selama bertahun-tahun menghadapi ketidakpastian pasar.
Aris Munandar
Redaksi