7 Inovasi Ketahanan Pangan Daging Kurban ala Muhammadiyah Ngawen yang Menginspirasi

5 Min Read
Jemaah Muhammadiyah Desa Ngawen mengikuti Sholat Iduladha dan kampanye ketahanan pangan daging kurban di Muntilan Magelang (GK/DMnetwork)

DMNETWORK.COM – MAGELANG – Semangat Iduladha di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, tahun ini tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual semata.

Ratusan warga Muhammadiyah yang memadati Lapangan Desa Ngawen pada Rabu pagi, 27 Mei 2026, turut diajak memperkuat semangat berbagi sekaligus membangun ketahanan pangan daging kurban bagi masyarakat.

Pelaksanaan Sholat Iduladha berlangsung khidmat dengan dipimpin Ustad Alvian Damastyo. Sejak pagi hari, masyarakat dari berbagai wilayah sekitar telah berdatangan untuk mengikuti ibadah tahunan tersebut.

Dalam khutbahnya, Ustad Alvian menekankan bahwa ibadah kurban memiliki dimensi sosial yang sangat luas. Menurutnya, distribusi daging kurban dapat dikelola secara lebih modern dan berkelanjutan agar manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam waktu singkat saat hari raya.

- Iklan -
Ad imageAd image

Kurban Tidak Hanya Ritual Tahunan

Ustad Alvian Damastyo menjelaskan, konsep ketahanan pangan daging kurban menjadi salah satu langkah strategis untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pangan bergizi.

Ia menilai, selama ini distribusi daging kurban masih identik dengan pembagian langsung yang hanya berlangsung satu hingga dua hari. Padahal, jika dikelola dengan inovasi pengolahan dan penyimpanan yang baik, daging kurban dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

“Nilai utama kurban bukan hanya penyembelihan hewan, tetapi bagaimana manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat secara luas,” ujarnya dalam khutbah Iduladha.

Menurutnya, inovasi pengolahan daging menjadi solusi penting agar distribusi pangan bergizi dapat menjangkau lebih banyak wilayah, termasuk daerah terpencil dan kawasan dengan keterbatasan akses pangan.

- Iklan -
Ad image

Inovasi Pengolahan Daging Kurban untuk Ketahanan Pangan

Dalam penyampaiannya, Ustad Alvian mencontohkan berbagai model pengolahan daging kurban yang kini mulai diterapkan oleh sejumlah lembaga sosial dan organisasi kemasyarakatan.

Daging kurban tidak hanya dibagikan dalam bentuk mentah, tetapi juga diolah menjadi produk pangan tahan lama dengan kandungan gizi tetap terjaga. Cara tersebut dinilai lebih efektif karena masa simpan produk menjadi lebih panjang.

Melalui sistem pengolahan modern, distribusi daging tidak harus dilakukan secara terburu-buru dalam waktu singkat. Dengan demikian, bantuan pangan dapat disalurkan secara bertahap dan lebih merata.

Konsep ini juga dianggap mampu membantu program penanganan stunting karena produk olahan daging memiliki kandungan protein tinggi yang dibutuhkan anak-anak maupun ibu hamil.

Distribusi Daging Kurban Bisa Menjangkau Wilayah Krisis

Ustad Alvian juga menyinggung bahwa inovasi pengelolaan daging kurban telah diterapkan hingga mampu menjangkau wilayah luar negeri.

Beberapa program distribusi bahkan disebut telah menyalurkan bantuan pangan ke daerah konflik dan wilayah krisis kemanusiaan seperti Suriah dan Palestina.

Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan daging kurban secara profesional mampu memperluas manfaat ibadah kurban melampaui batas wilayah.

“Ketika daging kurban dapat diolah dan disimpan lebih lama, distribusinya menjadi lebih fleksibel dan bisa menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan,” katanya.

Ia menilai, langkah tersebut sejalan dengan semangat Islam yang menekankan nilai kepedulian sosial, kemanusiaan, dan keikhlasan dalam berbagi.

Program RendangMu Jadi Solusi Distribusi Pangan Bergizi

Salah satu inovasi yang disampaikan dalam khutbah tersebut adalah program RendangMu yang dikelola melalui Lazismu.

Program itu mengolah daging kurban menjadi rendang kemasan dengan teknologi pengolahan tertentu sehingga produk mampu bertahan lama tanpa mengurangi kualitas gizi.

Melalui program tersebut, distribusi pangan berbasis daging kurban menjadi lebih efektif karena dapat disimpan dan dikirim ke berbagai daerah dalam waktu lebih panjang.

Selain membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan pangan, program semacam itu juga dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan daging kurban secara nasional.

Keberadaan produk olahan berbahan dasar daging kurban membuka peluang agar manfaat kurban tidak hanya dirasakan saat Iduladha, tetapi juga sepanjang tahun.

Semangat Berbagi Jadi Pesan Utama Iduladha

Di akhir khutbahnya, Ustad Alvian Damastyo mengajak masyarakat menjadikan Iduladha sebagai momentum memperkuat solidaritas sosial.

Menurutnya, nilai pengorbanan dalam ibadah kurban harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang berdampak bagi masyarakat luas.

Ia berharap semangat berbagi, kepedulian, dan gotong royong terus tumbuh di tengah masyarakat, terutama dalam menghadapi tantangan kebutuhan pangan dan kesejahteraan sosial.

Pelaksanaan Sholat Iduladha di Desa Ngawen pun berlangsung tertib hingga selesai. Warga terlihat antusias mengikuti rangkaian kegiatan dan menyambut gagasan pengelolaan daging kurban yang lebih inovatif dan berkelanjutan.

Melalui semangat tersebut, warga Muhammadiyah Ngawen tidak hanya menjalankan ibadah tahunan, tetapi juga menghadirkan pesan kemanusiaan dan ketahanan pangan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.(*)

Share This Article