Editorial Siang: Lomba Kebaikan di 17an Kampungku

6 Min Read
Ilustrasi gambar

Aristoteles dahulu berbicara tentang kebajikan sebagai kebiasaan baik yang dilakukan terus-menerus sampai menjadi watak

DMNETWORK – Di media sekarang sedang ramai berbagai survei. Ada tokoh paling rajin, paling giat, paling cepat bekerja, paling tinggi kepuasannya, bahkan mungkin nanti ada survei siapa yang paling sering tersenyum di depan kamera. Negeri ini rupanya sedang gemar memberi angka kepada manusia. Yang tidak bisa diberi angka dianggap belum resmi menjadi warga statistik.

Tiba-tiba menjelang tujuhbelasan di kampung saya muncul pengumuman yang membuat saya berhenti mengunyah singkong rebus. Panitia menulis besar-besar: LOMBA KEBAIKAN ANTARWARGA.

Saya membaca sekali lagi, takut keliru. Ternyata benar. Bukan lomba makan kerupuk, bukan lomba panjat pinang, bukan lomba gapura, melainkan lomba kebaikan.

Saya langsung bingung. Kebaikan model apa yang hendak dilombakan? Apakah yang paling sering memberi utang tanpa menagih? Ataukah yang paling rajin menyapu jalan kampung? Atau yang paling sering mengucapkan “monggo” sambil tersenyum? Kalau ada warga yang diam-diam membiayai sekolah keponakannya, apakah ia mendapat tambahan poin? Dan kalau ia sengaja menceritakan kebaikannya kepada panitia supaya nilainya naik, apakah poin itu tetap utuh atau dipotong ongkos riya?

- Iklan -
Ad imageAd image

Pertanyaan terakhir ini rupanya sudah dipikirkan para ahli tasawuf berabad-abad lalu. Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam mengingatkan bahwa amal yang dipamerkan bisa kehilangan ruhnya. Kebaikan yang terlalu sadar sedang ditonton orang mudah berubah menjadi pertunjukan. Amal lahir masih tampak, tetapi cahaya batinnya bisa padam. Dalam bahasa kampung saya: sedekahnya sampai, tetapi wanginya hilang.

Maka saya membayangkan panitia lomba kebaikan akan mengalami kesulitan besar. Kebaikan yang paling tulus justru sering tidak kelihatan. Ia seperti akar pohon. Tidak ikut berfoto, tidak ikut rapat, tetapi menahan pohon tetap berdiri. Yang tampak di permukaan biasanya daun, bunga, dan spanduk ucapan selamat.

Aristoteles dahulu berbicara tentang kebajikan sebagai kebiasaan baik yang dilakukan terus-menerus sampai menjadi watak. Orang baik bukan orang yang sekali-sekali berbuat baik ketika ada juri, melainkan orang yang spontan menolong ketika tidak ada penonton. Konfusius juga menekankan keluhuran budi dalam hubungan sehari-hari: menghormati orang tua, menjaga ucapan, dan berlaku pantas kepada sesama. Rupanya para filsuf dari Yunani sampai Tiongkok sepakat bahwa kebaikan lebih mirip latihan panjang daripada perlombaan satu sore.

Tetapi kampung saya tetap kampung saya. Panitia sudah telanjur semangat. Ketua RT bahkan menyiapkan formulir penilaian. Kolomnya macam-macam: membantu tetangga, hadir kerja bakti, tidak bergunjing, meminjamkan cangkul, mengembalikan piring hajatan tepat waktu. Saya mencari kolom “diam-diam mendoakan orang lain”, tetapi tidak ketemu. Mungkin sulit diverifikasi.

Di sinilah letak lucunya manusia modern. Kita ingin segala sesuatu dapat diukur, padahal tidak semua yang penting bisa ditimbang. Cinta tidak punya meteran. Rindu tidak punya timbangan. Ikhlas tidak punya penggaris. Kalau malaikat disuruh membuat laporan harian dengan format tabel Excel, mungkin mereka juga perlu pelatihan administrasi.

- Iklan -
Ad image

Saya teringat seorang kiai tua yang pernah berkata, “Kebaikan itu seperti minyak wangi. Semakin dikejar baunya, semakin cepat habis.” Orang yang sibuk menghitung kebaikannya sendiri biasanya sedang membuka toko pahala. Padahal dalam tasawuf, seorang salik justru diajari melupakan amalnya dan lebih sibuk melihat kekurangannya. Ibnu Athaillah bahkan memberi isyarat bahwa merasa besar karena amal adalah tanda belum mengenal karunia Allah.

Kalau begitu, apakah lomba kebaikan harus dibatalkan?

Belum tentu. Bisa jadi panitia sebenarnya sedang mencari alasan agar warga saling memperhatikan. Anak-anak diajak membantu orang tua, pemuda diminta menyapa tetangga, orang yang bertengkar didorong berdamai sebelum malam tirakatan. Kalau maksudnya demikian, lomba itu berubah fungsi: bukan mengukur kebaikan, melainkan mengingatkan bahwa hidup bertetangga tidak cukup dengan pagar tinggi dan grup WhatsApp.

Saya akhirnya membayangkan hasil pengumumannya. Juara satu mungkin bukan orang terkaya. Bisa jadi seorang nenek yang tiap pagi menaruh air minum di depan rumah untuk tukang sampah. Juara dua mungkin bapak yang diam-diam mengantar tetangga sakit ke puskesmas. Juara tiga mungkin anak kecil yang mengembalikan uang seribuan yang ia temukan di mushala. Mereka tidak pernah mendaftar. Bahkan mungkin tidak tahu sedang dinilai.

Dan di situlah saya mulai mengerti. Kebaikan memang boleh dirayakan, tetapi jangan terlalu cepat diberi piala. Sebab piala mudah berdebu, sedangkan kebaikan yang tulus kadang tetap hidup meski nama pelakunya sudah lupa disebut orang.

Malam tujuhbelasan nanti saya tetap datang ke balai desa. Bukan untuk mengejar juara, melainkan ingin melihat bagaimana kampung kecil mencoba mengingat sesuatu yang sering hilang dari berita dan survei: bahwa manusia pada akhirnya dikenang bukan karena rankingnya, melainkan karena bekas hangat yang ditinggalkannya di hati sesama.

Kalau panitia akhirnya bertanya kepada saya siapa yang pantas menang, saya akan menjawab pelan-pelan: “Yang tidak merasa sedang berlomba.”

Aris Munandar, editor DMNETWORK 

Share This Article
error: Content is protected !!