Menyapu Halaman, Menyapu Hati

3 Min Read
Membersihkan dan mengotori

DMNETWORK — Manusia itu makhluk yang lucu. Baru bangun tidur, matanya belum genap terbuka, tetapi pikirannya sudah penuh daftar kewajiban. Ada yang langsung menjerang air, ada yang menyapu halaman, ada yang tergesa menuju kandang sapi sambil menguap setengah sadar. Bahkan sebelum itu semua, tubuh terlebih dahulu meminta hak purbanya: buang air kecil dan besar. Seolah-olah Tuhan sengaja mengingatkan sejak pagi bahwa hidup dimulai dari membersihkan kotoran.

Rumah disapu. Halaman dibersihkan. Gelas dicuci. Perut dikosongkan. Tetapi belum juga matahari naik setinggi pohon kelapa, halaman sudah penuh daun lagi, gelas kembali kotor, dan perut yang tadi kosong sudah diisi nasi panas, sambal, kopi, tempe goreng, atau kadang cuma singkong rebus dengan garam.

Manusia rupanya hidup di antara dua pekerjaan yang tidak pernah selesai: membersihkan dan mengotori.

- Iklan -
Ad imageAd image

Maka jangan heran kalau dalam batin pun begitu. Seseorang habis berbuat baik pagi hari, siangnya sudah marah kepada tetangga. Tadi malam menangis ketika berdoa, paginya masih sempat iri melihat keberuntungan orang lain. Mulutnya memuji Tuhan, tetapi pikirannya diam-diam menghitung keuntungan. Hatinya ingin menjadi malaikat, tetapi perutnya tetap meminta sate kambing.

Barangkali memang begitu cara hidup mendidik manusia. Ia tidak dijadikan suci seperti malaikat, juga tidak dibiarkan liar seperti angin di pasar hewan. Ia diberi kemampuan membersihkan diri, sekaligus kecenderungan untuk kembali kotor.

Karena itu orang-orang tua zaman dahulu tidak terlalu sibuk mencari manusia sempurna. Mereka hanya mencari manusia yang masih mau membersihkan batinnya setiap hari. Sebab kesalahan kecil yang disadari sering kali lebih sehat daripada kesalehan besar yang dipamerkan.

Dan memang ada kebiasaan aneh pada manusia: merasa paling bersih ketika sapunya belum selesai bekerja. Baru bersedekah sekali sudah ingin disebut dermawan. Baru hafal beberapa ayat sudah memandang rendah tetangganya. Padahal hidup ini seperti lantai dapur pada musim hujan: dipel sekarang, sebentar lagi sudah ada jejak kaki dan cipratan kopi.

Mungkin itulah sebabnya pagi selalu datang berulang-ulang. Supaya manusia tidak terlalu bangga pada kebersihan kemarin. Setiap subuh adalah pengingat diam-diam bahwa hidup harus dimulai lagi. Menyapu lagi. Membersihkan lagi. Memperbaiki diri lagi.

- Iklan -
Ad image

Sebab hidup, agaknya, memang bukan perlombaan menjadi paling suci. Hidup lebih mirip pekerjaan seorang ibu di dapur desa: mencuci piring yang tidak pernah habis, sambil tetap tersenyum menghadapi dunia yang terus mengotori.***

Editor: Aris Munandar

Share This Article