DMNETWORK — Di tengah hiruk-pikuk politik yang mulai mereda pasca Pilpres dan Pilkada, seorang tokoh tampak kembali menempuh perjalanan panjang melintasi jalan-jalan kabupaten di Jawa Tengah. Dari Demak, Kudus, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Sukoharjo hingga Wonogiri, Don Muzakir memilih berada di tengah pedagang pasar dan petani desa daripada menikmati kenyamanan ruang-ruang kekuasaan.
Pertanyaannya sederhana: apa yang sebenarnya dicari Don Muzakir?
Jawabannya mungkin bukan kekuasaan. Sebab kontestasi politik telah usai. Bukan pula pencitraan sesaat. Sebab kegiatan yang dilakukan justru berlangsung dari satu pasar ke pasar lain, dari satu desa ke desa berikutnya, dalam ritme yang nyaris tanpa jeda.
Yang sedang dilakukan Don Muzakir adalah membangunkan kembali dua kekuatan sosial yang selama ini menjadi fondasi ekonomi rakyat Indonesia, yakni petani dan pedagang pasar tradisional.
Dalam beberapa bulan terakhir, hampir setiap hari berlangsung deklarasi, musyawarah daerah, rapat kerja, atau pengukuhan kepengurusan organisasi. Kadang tiga hingga empat agenda dalam sehari. Dua kendaraan utama gerakan itu adalah Tani Merdeka Indonesia dan APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia).
Tani Merdeka merupakan organisasi yang lahir dari perjuangan panjang memperkuat posisi petani sebagai subjek pembangunan nasional. Sementara APPSI merupakan organisasi yang memiliki sejarah panjang sejak diperjuangkan dan didukung oleh Prabowo Subianto lebih dari dua dekade lalu sebagai wadah perjuangan pedagang pasar tradisional.
Bagi Don Muzakir, keduanya bukan sekadar organisasi. Keduanya adalah infrastruktur sosial yang menghubungkan negara dengan rakyat kecil.
Selama bertahun-tahun, banyak organisasi kerakyatan mengalami stagnasi. Pergantian kepemimpinan, perubahan orientasi politik, hingga lemahnya konsolidasi menyebabkan banyak kepengurusan daerah tidak lagi aktif. APPSI di sejumlah wilayah Jawa Tengah misalnya, mengalami penurunan aktivitas yang cukup panjang setelah era kepemimpinan sebelumnya. Di luar Jakarta sebagai tempat kelahirannya, denyut organisasi tidak lagi terdengar sekuat masa-masa awal.
Karena itulah perjalanan Don Muzakir dapat dipahami sebagai upaya menghidupkan kembali mesin sosial yang lama berhenti bekerja.
Di dalam cara pandang Prabowoisme, politik tidak berhenti ketika pemilu selesai. Politik justru dimulai ketika negara harus menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat yang memilihnya.
Prabowo Subianto berulang kali menegaskan bahwa kekuatan bangsa bertumpu pada swasembada pangan, kemandirian ekonomi, dan perlindungan terhadap kelompok produktif rakyat kecil. Petani dan pedagang pasar berada di garis depan agenda tersebut.
Data menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi sumber penghidupan puluhan juta penduduk Indonesia. Sementara pasar tradisional tetap menjadi ruang ekonomi terbesar yang menampung jutaan pedagang kecil dan pelaku usaha mikro. Mereka bukan kelompok pinggiran. Mereka adalah fondasi ekonomi nasional.
Namun dalam praktiknya, petani sering berhadapan dengan persoalan pupuk, akses modal, dan fluktuasi harga. Di sisi lain, pedagang pasar menghadapi tekanan dari ekspansi ritel modern, perubahan pola konsumsi, dan persaingan digital yang tidak selalu berpihak kepada usaha kecil.
Di sinilah Don Muzakir tampaknya membaca amanah politik pemerintahan Prabowo secara berbeda.
Ia tidak memulainya dari seminar besar atau panggung-panggung nasional. Ia memulainya dari konsolidasi organisasi.
Sebab dalam sejarah pembangunan, kesejahteraan tidak pernah lahir dari individu yang berjalan sendiri. Kesejahteraan lahir dari rakyat yang terorganisasi.
Petani yang terorganisasi lebih mudah mengakses program pemerintah. Pedagang yang terorganisasi lebih kuat memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada pasar rakyat. Organisasi menjadi jembatan antara kebutuhan masyarakat dengan keputusan negara.
Karena itu, ketika Don Muzakir hadir dalam pengukuhan APPSI di Sukoharjo, rapat kerja Tani Merdeka, atau konsolidasi organisasi di berbagai daerah, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan sekadar kepengurusan baru. Yang sedang dibangun adalah jaringan sosial pendukung agenda besar pemerintahan Prabowo.
Perjalanan dari Demak hingga Wonogiri bukan sekadar perjalanan geografis. Ia adalah perjalanan menyusuri denyut ekonomi rakyat.
Di pasar-pasar tradisional, ia bertemu pedagang yang berharap omzet meningkat. Di sawah-sawah, ia bertemu petani yang berharap hasil panen lebih menguntungkan. Dari pertemuan-pertemuan itulah lahir energi baru yang kemudian diterjemahkan menjadi gerakan organisasi.
Prabowoisme pada akhirnya bukan hanya soal memenangkan pemilu atau menguasai pemerintahan. Prabowoisme adalah keberpihakan yang diwujudkan melalui kerja nyata kepada kelompok-kelompok produktif bangsa.
Dan di Jawa Tengah hari ini, salah satu wajah dari kerja itu tampak dalam langkah-langkah panjang Don Muzakir yang terus bergerak dari pasar ke pasar dan dari sawah ke sawah, menghidupkan kembali organisasi rakyat sebagai alat perjuangan kesejahteraan.
Sebab bagi sebagian orang, perjalanan adalah perpindahan tempat.
Namun bagi seorang penggerak organisasi, perjalanan adalah cara memastikan bahwa amanah politik benar-benar sampai ke tangan rakyat yang paling membutuhkan.
Aris Munandar, spiritual petani tinggal di Magelang