DMNETWORK, — Ada satu kebiasaan menarik di republik ini. Orang sering lebih berani membicarakan suatu tempat daripada mengunjunginya. Lebih bersemangat berdebat tentang sebuah kenyataan daripada menyaksikannya sendiri.
Barangkali karena ongkos perdebatan jauh lebih murah daripada ongkos perjalanan.
Beberapa waktu lalu, film Pesta Babi: Colonialism in Our Time diputar dan didiskusikan di lingkungan akademik UGM. Film itu berbicara tentang Papua, tentang masyarakat adat, tentang hutan, tentang relasi negara, modal, dan warga yang hidup di ujung timur Indonesia. Bahkan diskusi resmi yang diadakan Fakultas Hukum UGM menghadirkan akademisi dan aktivis yang membahas persoalan ekologis serta hak-hak masyarakat adat Papua. Pesertanya ratusan orang. Tepuk tangan mengiringi akhir pemutaran film.
Lalu baru kemarin kejadiannya, Senin (15-6/26) malam, dalam sebuah forum kebangsaan di GIK UGM yang menghadirkan pejabat pemerintah, tema film itu kembali muncul. Papua kembali dibicarakan. Pesta babi kembali menjadi bahan argumentasi. Mahasiswa mengkritik. Pejabat menjawab. Suasana memanas. Interupsi datang bertubi-tubi. Forum yang awalnya diskusi berubah menjadi gelanggang adu keyakinan.
Yang menarik bukan perdebatan itu.
Yang menarik justru ketika muncul ajakan sederhana dari mas Dar (panggilan wamentan Sudaryono).
Kalau memang ingin mengetahui Papua, mengapa tidak datang ke Papua? Ayo aku yang mengajak, kata mas Dar.
Kalau ingin melihat bagaimana masyarakat adat hidup, mengapa tidak melihat sendiri?
Kalau ingin memastikan apakah yang ada di film sama dengan yang ada di lapangan, mengapa tidak membandingkan dengan mata kepala sendiri?
Konon ajakan itu tidak disambut antusias. Di sinilah asal usul persoalan sering bermula.
Kita hidup pada zaman ketika kesimpulan sering lahir lebih cepat daripada perjalanan. Pendapat muncul sebelum pengamatan. Vonis datang sebelum pemeriksaan.
Padahal nenek moyang bangsa ini mengajarkan metode yang berbeda. Mereka berjalan dulu.
Para wali berjalan dari kampung ke kampung. Para peneliti berjalan dari gunung ke gunung.
Para pedagang berlayar dari pulau ke pulau.
Bahkan para mahasiswa zaman dahulu dikenal dengan istilah “maha-siswa”, manusia yang bersedia menjadi pengembara ilmu.
Hari ini, terkadang yang terjadi sebaliknya. Google menjadi pengganti perjalanan. Potongan video menjadi pengganti observasi. Cuplikan film menjadi pengganti penelitian lapangan.
Bukan berarti film salah.
Film memang dibuat untuk menyampaikan perspektif. Tetapi perspektif adalah jendela, bukan seluruh rumah. Dari jendela kita bisa melihat pemandangan. Namun kita belum tentu mengetahui seluruh isi bangunan.
Karena itu, ketika ada ajakan datang ke Papua, sesungguhnya yang diajak bukan hanya tubuh. Yang diajak adalah keberanian intelektual.
Sebab ilmu pengetahuan memiliki satu kebiasaan yang agak keras kepala: ia lebih percaya pada kenyataan daripada prasangka.
Mahasiswa tentu berhak mengkritik pemerintah. Itu bagian dari tradisi akademik. Pejabat juga berhak menjelaskan kebijakan. Itu bagian dari tanggung jawab publik.
Tetapi ketika kesempatan melihat langsung ditolak, perdebatan menjadi seperti dua orang yang memperdebatkan rasa gudeg hanya dari foto.
Yang satu berkata terlalu manis. Yang lain berkata tidak manis. Keduanya belum mencicipi.
Papua akhirnya berubah menjadi medan simbolik. Bukan lagi wilayah geografis yang nyata dengan manusia nyata, melainkan arena tempat berbagai kelompok menaruh keyakinannya masing-masing.
Padahal Papua tidak hidup di layar proyektor. Papua hidup di kampung-kampung. Di kebun-kebun. Di pasar-pasar. Di sekolah-sekolah.
Dan kenyataan di sana sering kali jauh lebih rumit daripada slogan apa pun.
Mungkin itulah pelajaran kecil dari perdebatan tentang pesta babi dan mahasiswa.
Bahwa kebenaran tidak selalu ditemukan oleh mereka yang paling keras berbicara.
Kadang ia justru ditemukan oleh mereka yang bersedia membeli tiket, berangkat, melihat, mendengar, lalu pulang dengan kepala yang lebih penuh pertanyaan daripada sebelumnya.
Karena dalam ilmu pengetahuan, pertanyaan yang lahir dari perjalanan biasanya lebih berharga daripada jawaban yang lahir dari dugaan.***
Aris Munandar, petani mantan aktifis ’90-an tinggal di Magelang.