Jika Don Muzakir Menggantikan Sudaryono sebagai Wakil Menteri Pertanian, Siapa Menjaga Barisan?

4 Min Read
Ketika Don Muzakir mendapatkan penghargaan dari presiden Prabowo Subianto (foto: istimewa)

Ia justru memulainya dari desa-desa, dari pertemuan kecil, dari posko-posko yang kemudian menjalar menjadi jaringan organisasi

DMNETWORK – Ada organisasi yang tumbuh karena anggaran. Ada pula yang tumbuh karena seorang penggerak. Tani Merdeka Indonesia, setidaknya hingga hari ini, masih lebih dekat kepada kategori kedua.

Karena itu, jika suatu hari Don Muzakir benar-benar dipanggil negara untuk menggantikan Sudaryono sebagai Wakil Menteri Pertanian, pertanyaan yang muncul bukan sekadar apakah ia layak. Yang lebih menarik justru: siapa yang akan memegang obor yang ditinggalkannya di lapangan?

Ini tentu sebuah analisis hipotetis, bukan informasi mengenai rencana atau keputusan pemerintah. Hingga saat ini tidak ada pengumuman resmi mengenai kemungkinan pergantian tersebut.

Perjalanan Don Muzakir di Tani Merdeka tidak dibangun dari ruang rapat kementerian. Ia justru memulainya dari desa-desa, dari pertemuan kecil, dari posko-posko yang kemudian menjalar menjadi jaringan organisasi. Berbagai laporan mengenai aktivitasnya menunjukkan bagaimana ia berkeliling melantik pengurus kabupaten, mengonsolidasikan kader, sekaligus menghubungkan organisasi dengan agenda ketahanan pangan pemerintah.

- Iklan -
Ad imageAd image

Di Jawa, terutama Jawa Tengah, gaya kepemimpinannya memperlihatkan satu pola yang khas. Ia jarang sekadar memberi instruksi. Ia hadir. Ia berbicara. Ia mendengarkan. Ia memotret persoalan petani, lalu menjadikannya bahan konsolidasi berikutnya.

Dalam organisasi seperti ini, pemimpin bukan hanya administrator. Ia menjadi perekat emosional.

Di sinilah letak tantangannya.

Sejarah menunjukkan banyak organisasi melemah bukan ketika kehilangan kantor, melainkan ketika kehilangan tokoh sentralnya. Sebab yang hilang bukan meja kerja, melainkan gravitasi yang selama ini membuat seluruh elemen tetap mengorbit.

Apabila Don Muzakir masuk ke dalam struktur pemerintahan sebagai Wakil Menteri Pertanian, otomatis ruang geraknya akan berubah. Seorang pejabat negara bekerja berdasarkan tata kelola birokrasi. Ia harus menjaga jarak yang sama kepada seluruh organisasi masyarakat. Waktunya pun tidak lagi sepenuhnya untuk membangun organisasi.

- Iklan -
Ad image

Akibatnya, Tani Merdeka akan menghadapi fase yang paling sulit dalam siklus organisasi: transisi kepemimpinan.

Apakah hari ini sudah ada figur yang mampu menggantikannya?

Mungkin ada beberapa nama yang menonjol di tingkat provinsi maupun kabupaten. Namun dari pengamatan terhadap perkembangan organisasi selama dua tahun terakhir, figur-figur tersebut masih kuat sebagai pemimpin daerah, belum sepenuhnya menjadi pemersatu nasional. Banyak ketua DPD berhasil membangun wilayahnya masing-masing, tetapi belum tentu memiliki daya ikat lintas provinsi sebagaimana Don Muzakir.

Itulah sebabnya, bila Don Muzakir benar-benar memasuki pemerintahan, pekerjaan terbesarnya justru bukan menjalankan program kementerian. Melainkan memastikan kaderisasi di Tani Merdeka berjalan sebelum ia melangkah lebih jauh.

Organisasi tidak boleh terus bergantung kepada satu orang.

Lapisan kedua harus mulai dibentuk.

Lapisan ketiga harus mulai diberi panggung.

Ketua-ketua DPD tidak cukup hanya pandai menggelar pelantikan atau rapat kerja. Mereka harus mulai dilatih mengambil keputusan, menyelesaikan konflik, membangun komunikasi nasional, hingga menjadi wajah organisasi ketika ketua umum tidak berada di tempat.

Kalau tidak, Tani Merdeka akan mengalami apa yang dalam ilmu organisasi disebut sebagai founder’s trap, yaitu organisasi yang tumbuh besar bersama pendirinya, tetapi kesulitan melanjutkan perjalanan ketika sang pendiri memasuki babak baru.

Barangkali justru di sinilah ujian terbesar Don Muzakir.

Bukan apakah ia mampu menjadi Wakil Menteri Pertanian.

Melainkan apakah ia mampu menciptakan sepuluh Don Muzakir baru.

Sebab pemimpin yang baik melahirkan pengikut. Tetapi pemimpin besar melahirkan pemimpin-pemimpin berikutnya.

Jika hari itu tiba, Tani Merdeka tidak akan kehilangan arah. Ia hanya berganti nahkoda, sementara kapal tetap berlayar menuju tujuan yang sama. Dan mungkin, itulah tanda bahwa sebuah organisasi telah benar-benar dewasa. (Aris Munandar, editor DMNETWORK)

Share This Article
error: Content is protected !!