Jam Terbang

4 Min Read
Ilustrasi gambar: Jam Terbang

Di sinilah jam terbang menjadi mata uang yang nilainya tidak dicetak oleh bank sentral.

DMNETWORK – Politik itu barangkali bukan lomba lari seratus meter. Ia lebih dekat dengan perjalanan menyeberangi sungai yang arusnya berubah setiap musim. Orang yang baru belajar berenang boleh saja memiliki tenaga besar, tetapi belum tentu tahu di mana pusaran air bersembunyi.

Itulah sebabnya orang-orang tua dulu mengenal istilah jam terbang. Bukan sekadar hitungan berapa lama seseorang duduk di kursi organisasi atau berapa kali namanya muncul di koran. Jam terbang adalah kumpulan benturan. Kumpulan kegagalan. Kumpulan rapat yang berakhir tanpa keputusan. Kumpulan perbedaan pendapat yang tidak berubah menjadi permusuhan.

Politik mengajarkan satu hal yang sering dilupakan: keputusan yang baik bukan hanya yang cepat, melainkan yang tidak meninggalkan puing-puing.

Isu mengenai siapa yang akan menggantikan Sudaryono sebagai Wakil Menteri Pertanian setelah ia dipercaya memimpin Badan Gizi Nasional pun bergerak ke arah itu. Nama boleh banyak disebut. Spekulasi boleh bertebaran. Namun hingga kini Istana belum mengumumkan sosok penggantinya, bahkan disebut belum membahas figur yang akan mengisi posisi tersebut.

- Iklan -
Ad imageAd image

Di sinilah jam terbang menjadi mata uang yang nilainya tidak dicetak oleh bank sentral.

Seorang wakil menteri pertanian tidak hanya memahami sawah. Ia harus membaca peta politik pangan nasional. Berhadapan dengan petani, birokrasi, akademisi, pelaku usaha, pemerintah daerah, hingga DPR. Setiap keputusan tentang pupuk, benih, irigasi, impor, ekspor, ataupun cadangan pangan memiliki ekor yang panjang. Salah membaca satu simpul, kusutnya bisa menjalar ke mana-mana.

Karena itu, pengalaman organisasi menjadi penting. Orang yang lama berada dalam pergerakan biasanya mempunyai kepekaan membaca suasana sebelum kegaduhan terjadi. Ia tahu kapan harus berbicara, kapan harus diam, dan kapan harus membiarkan orang lain lebih dahulu menyampaikan pendapat.

Jam terbang juga melahirkan satu kemampuan yang tidak diajarkan di ruang kuliah: membaca manusia. Sebab politik pada akhirnya bukan semata mengelola program, melainkan mengelola ego, kepentingan, dan harapan.

Sering kali seorang pemimpin tidak gagal karena kurang pintar. Ia gagal karena terlalu cepat mengambil keputusan. Ia melihat satu langkah di depan, tetapi lupa bahwa langkah itu menarik sepuluh langkah lain di belakangnya. Akibatnya, persoalan yang kecil berubah menjadi kusut, sementara yang besar semakin sulit dibereskan.

- Iklan -
Ad image

Dalam dunia pergerakan, orang-orang yang telah melewati banyak musim biasanya memiliki satu kebiasaan. Mereka tidak mudah bertepuk tangan ketika mendengar kabar. Mereka bertanya lebih dahulu. Mereka memeriksa lagi. Mereka mencari sisi yang belum tampak. Sebab mereka tahu, setiap keputusan politik selalu memiliki biaya yang tidak semuanya tertulis dalam laporan resmi.

Maka siapa pun yang kelak dipercaya menggantikan Sudaryono, ukuran utamanya tidak semata-mata usia, popularitas, ataupun kedekatan dengan pusat kekuasaan. Yang lebih menentukan ialah apakah ia memiliki jam terbang yang cukup untuk menjaga irama kerja Kementerian Pertanian tetap utuh, mampu berkomunikasi dengan para pelaku sektor pertanian, memahami denyut organisasi, dan mengambil keputusan tanpa meninggalkan pekerjaan rumah yang lebih besar.

Sebab jabatan bisa diberikan dalam satu sore. Tetapi kewibawaan hanya lahir dari perjalanan yang panjang.

Dan perjalanan itu, seperti kata orang desa, tidak pernah bisa dipinjamkan.***

Arist Munandar, editor

Share This Article
error: Content is protected !!