Seketika istilah tua itu keluar dari museum sejarah dan kembali berjalan di jalan raya politik.
DMNETWORK – Ada kata-kata yang tidak pernah benar-benar pensiun. Ia hanya berdiam di sudut kamus, menunggu suatu hari dipanggil kembali oleh sejarah.
Salah satunya ialah Londo Ireng.
Pada zaman kolonial, sebutan itu bukan ditujukan kepada orang Belanda. Justru kepada pribumi. Mereka berkulit sama, berbicara bahasa yang sama, makan nasi yang sama, tetapi hati dan kesetiaannya dipersembahkan kepada pemerintah kolonial. Mereka menjadi mata, telinga, bahkan tangan yang membantu penjajah menaklukkan bangsanya sendiri. Mereka bukan orang asing. Justru karena itulah mereka dianggap lebih berbahaya daripada orang asing.
Sejarah memang memiliki selera humor yang aneh. Musuh yang datang dari luar mudah dikenali. Yang sulit dikenali adalah mereka yang wajahnya akrab, tetapi pikirannya berlayar ke pelabuhan lain.
Presiden Prabowo Subianto, dalam pidatonya pada Harlah ke-28 PKB, menghidupkan kembali istilah itu. Ia mengatakan pemerintah tidak anti terhadap kritik. Namun, menurutnya masih ada orang Indonesia yang lebih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain. Ia menyebut mereka sebagai Londo Ireng, dan mengaitkannya dengan sebagian wartawan, pengamat, maupun LSM yang dinilai terus membangun narasi pesimistis tentang Indonesia.
Seketika istilah tua itu keluar dari museum sejarah dan kembali berjalan di jalan raya politik. Ada yang mengangguk. Ada yang tersinggung. Ada pula yang bertanya, apakah setiap kritik kini akan dicurigai sebagai pengkhianatan? Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa kritik memang tidak boleh menjadi kendaraan bagi kepentingan asing. Perdebatan pun lahir bukan hanya tentang siapa yang disebut Londo Ireng, melainkan juga tentang siapa yang berhak memberi cap itu.
Mah
Gus Dur mungkin akan tersenyum melihat kegaduhan ini. Sebab beliau tahu, politik Indonesia selalu gemar meminjam istilah sejarah untuk bertengkar di masa kini. Kadang “PKI”, kadang “kolonial”, kadang “antek asing”, kini “Londo Ireng”. Kata-kata itu ibarat keris pusaka. Semakin tua usianya, semakin mudah dikeluarkan dari sarung ketika perdebatan memanas.
Padahal sejarah tidak sesederhana label.
Pada masa perang kemerdekaan, memang ada pribumi yang memihak Belanda. Tetapi ada pula yang bekerja di pemerintahan kolonial sembari diam-diam membantu republik. Ada yang tampak patuh, tetapi menyelundupkan informasi. Ada yang tampak melawan, tetapi diam-diam berunding. Sejarah selalu lebih rumit daripada slogan.
Karena itu, istilah Londo Ireng seharusnya menjadi peringatan moral, bukan sekadar peluru politik.
Ia mengingatkan bahwa bangsa bisa runtuh bukan hanya karena meriam dari luar, melainkan juga karena hilangnya kesetiaan dari dalam. Tetapi ia juga mengingatkan bahwa negara yang sehat tidak takut pada kritik. Kritik yang lahir dari cinta tanah air bukanlah pengkhianatan. Sebaliknya, pujian yang lahir demi keuntungan pribadi pun belum tentu patriotisme.
Barangkali ukuran seseorang bukanlah seberapa keras ia memuji pemerintah atau seberapa tajam ia mengkritiknya. Ukurannya adalah kepada siapa nuraninya berpihak ketika kepentingan bangsa bertemu dengan kepentingan dirinya sendiri.
Di situlah setiap orang sedang bercermin.
Dan cermin, sebagaimana sejarah, tidak pernah berbohong. Yang sering berbohong hanyalah orang yang berdiri di depannya.
Aris Munandar, editor