Di balik lembutnya roti yang dibuat Babydough, tersimpan kisah tentang seorang anak yang memilih menunda mimpinya.
TANGERANG, DMNETWORK – Tidak semua orang yang meninggalkan bangku kuliah melakukannya karena menyerah.
Sebagian justru sedang mempertahankan sesuatu yang lebih penting.
Bagi Lanang Taufiqul Hakim, keputusan mengambil cuti kuliah dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menjelang penyelesaian skripsi bukanlah pilihan yang mudah. Saat teman-temannya bersiap menuntaskan pendidikan dan mengenakan toga wisuda, ia memilih pulang.
Bukan karena gagal belajar.
Bukan pula karena kehilangan semangat.
Ia pulang untuk menemani ibunya.
Ayah yang selama ini menjadi sandaran keluarga telah berpulang setelah berjuang melawan sakit. Sejak saat itu, kehidupan keluarga berubah. Sang ibu harus membesarkan tiga anak tanpa lagi ditemani pasangan hidup.

Di tengah keadaan tersebut, Lanang merasa ada tanggung jawab yang tidak bisa ditunda.
Ia memilih berada di sisi ibunya.
“Masih ada kuliah yang bisa diselesaikan nanti. Tetapi kesempatan menemani ibu melewati masa sulit tidak akan datang dua kali,” begitu kira-kira prinsip yang dipegangnya.
Keputusan itu membuat langkah menuju gelar sarjana harus berhenti sejenak.
Namun bukan berarti cita-cita ikut berhenti.
Sebagai anak yatim, Lanang tidak ingin beban keluarga semakin berat. Ia justru bercita-cita suatu hari dapat kembali menyelesaikan kuliahnya dengan biaya hasil jerih payahnya sendiri.
Ia tidak ingin lagi meminta kepada ibunya.
Keinginan itu perlahan menemukan jalannya ketika bersama sang istri, Ruth Suci Wadini, ia mulai merintis usaha roti rumahan yang diberi nama Babydough.
Usaha yang resmi diluncurkan pada 25 Mei 2026 itu belum memiliki gerai. Produknya dipasarkan melalui sistem pre-order lewat WhatsApp, dari satu pelanggan ke pelanggan lainnya.
Modal mereka bukanlah toko yang besar.
Bukan pula mesin-mesin produksi yang lengkap.
Yang mereka miliki hanyalah dapur rumah, beberapa peralatan sederhana, serta keyakinan bahwa kerja keras suatu hari akan menemukan hasilnya.
Setiap keuntungan yang diperoleh tidak langsung dinikmati.
Uang hasil penjualan justru diputar kembali untuk membeli mixer, oven, loyang, dan berbagai perlengkapan produksi secara bertahap.
Sedikit demi sedikit.
Hari demi hari.
Di balik lembutnya roti yang dibuat Babydough, tersimpan kisah tentang seorang anak yang memilih menunda mimpinya agar keluarganya tidak kehilangan harapan.
Keputusan itu mungkin tidak terlihat oleh pelanggan yang menikmati Mexican Bun hangat buatan mereka.
Yang terlihat hanya roti yang empuk dengan aroma mentega.
Padahal, di baliknya ada cerita tentang kuliah yang belum selesai.
Tentang seorang ibu yang harus membesarkan tiga anak seorang diri.
Tentang seorang anak yang berusaha menjadi penopang keluarga sebelum mengejar cita-citanya sendiri.
Perekonomian Indonesia yang belum sepenuhnya pulih juga menjadi tantangan bagi usaha-usaha kecil seperti Babydough. Daya beli masyarakat yang masih berhati-hati membuat setiap pesanan menjadi sangat berarti.
Namun Lanang percaya, usaha tidak selalu diukur dari seberapa besar keuntungan yang diperoleh hari ini.
Kadang usaha adalah tentang menjaga harapan agar tetap hidup.
Ia percaya bahwa setiap roti yang keluar dari oven adalah langkah kecil menuju mimpi yang pernah ia tunda.
Mimpi untuk kembali ke kampus.
Menyelesaikan skripsi.
Mengenakan toga bersama teman-temannya, meski waktunya mungkin berbeda.
Dan yang lebih penting, membuktikan kepada ibunya bahwa pengorbanan hari ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari masa depan yang sedang dibangun.
Babydough akhirnya bukan sekadar merek roti.
Ia menjadi simbol keteguhan seorang anak yang memilih berbakti kepada ibunya tanpa mengubur cita-citanya.
Sebab Lanang percaya, mimpi boleh tertunda, tetapi tidak boleh ditinggalkan.
Selama masih ada kemauan untuk bekerja keras, selalu ada kesempatan untuk kembali melangkah.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika toga itu benar-benar dikenakan, ia akan mengenang bahwa semuanya berawal dari sebuah dapur kecil, aroma roti yang baru matang, dan doa seorang ibu yang tak pernah putus. Rist