Ia berbisik lewat lengkungan huruf. Lewat tekanan pena yang kadang kuat, kadang samar, seolah dapat ditebak kapan anak itu sedang tergesa, kapan ia sedang berpikir lama sebelum menuliskan satu kalimat.
Ia berbisik lewat lengkungan huruf. Lewat tekanan pena yang kadang kuat, kadang samar, seolah dapat ditebak kapan anak itu sedang tergesa, kapan ia sedang berpikir lama sebelum menuliskan satu kalimat.
DMNETWORK – Di zaman ketika orang tua menunggu bunyi notifikasi lebih sering daripada suara pintu rumah diketuk, menerima surat dari anak sendiri terasa seperti menemukan mata air di tengah kota yang penuh beton.
Anak-anak hari ini menulis kepada orang tuanya karena uang sakunya habis. Ada yang meminta dikirimkan biaya membeli sabun mandi. Ada yang memohon uang untuk buku LKS. Kalimat-kalimatnya pendek, lugas, seperlunya. Surat itu datang bukan membawa kerinduan, melainkan daftar kebutuhan.
Tidak ada yang salah.
Hidup memang harus berjalan.
Namun, surat yang ditulis di atas kertas perlahan menjadi makhluk langka. Ia seperti burung yang kehilangan hutan tempat bersarang.
Anakku berusia tujuh belas tahun.
Ia duduk di bangku SMA, tinggal di pondok pesantren. Di sana telepon genggam bukan teman tidur. Tidak ada WhatsApp yang berkedip tengah malam. Tidak ada Instagram yang memamerkan senyum yang bahkan belum tentu bahagia. Tidak ada panggilan video yang membuat wajah orang tua memenuhi layar.
Yang ada hanyalah selembar kertas.
Sepucuk amplop.
Tulisan tangan yang kadang miring ke kanan, kadang turun mengikuti rasa lelah setelah belajar.
Setiap beberapa pekan, tukang pos datang membawa surat itu. Anehnya, setiap kali amplop cokelat itu berada di tangan, rumah mendadak sunyi. Bahkan suara televisi terasa terlalu keras untuk menemani seseorang membaca tulisan anaknya sendiri.
Tulisan tangan ternyata mempunyai suara.
Ia berbisik lewat lengkungan huruf. Lewat tekanan pena yang kadang kuat, kadang samar, seolah dapat ditebak kapan anak itu sedang tergesa, kapan ia sedang berpikir lama sebelum menuliskan satu kalimat.
“Assalamu’alaikum, Bapak dan Ibu…”
Begitu hampir semua suratnya dimulai.
Tidak ada emoji.
Tidak ada stiker.
Tidak ada tombol untuk menghapus kalimat yang salah.
Jika ada kata yang keliru, ia dicoret pelan. Bekasnya tetap tinggal. Seolah ingin mengatakan bahwa hidup memang tidak selalu bersih dari kesalahan.
Kadang ia hanya meminta uang membeli sabun.
Kadang hanya mengatakan bukunya sudah harus diganti.
Kadang hanya menanyakan kabar adiknya.
Namun anehnya, yang paling lama dibaca justru bukan bagian itu.
Melainkan penutupnya.
“Doakan saya sehat dan kuat belajar.”
Kalimat sederhana itu mempunyai berat yang tidak dimiliki ribuan pesan digital.
Aku sering membayangkan, sebelum surat itu sampai ke tangan tukang pos, ia pernah disentuh berkali-kali oleh jari anakku. Mungkin ia sempat dilipat ulang karena belum rapi. Mungkin sempat dibaca sekali lagi sebelum dimasukkan ke dalam amplop.
Ada waktu yang diberikan kepada setiap kata.
Hari ini orang bisa mengirim seribu pesan dalam sehari.
Tetapi barangkali tidak satu pun yang disimpan bertahun-tahun.
Sedangkan surat…
Ia diselipkan di dalam lemari. Kadang di antara kitab-kitab lama. Kadang di dalam laci yang hanya dibuka ketika rindu datang tanpa diundang.
Kertas memang akan menguning.
Tintanya akan memudar.
Tetapi justru karena ia bisa menua, surat menjadi saksi bahwa cinta pernah ditulis dengan kesabaran.
Suatu hari nanti, ketika anakku telah dewasa, mungkin ia akan menemukan kembali surat-surat itu. Ia akan tertawa melihat bentuk hurufnya yang masih canggung. Ia mungkin lupa pernah meminta uang membeli sabun atau buku sekolah.
Namun aku yakin, ia akan mengerti sesuatu.
Bahwa pada zaman ketika dunia bergerak secepat sentuhan jempol, pernah ada masa ketika seorang anak berjalan menuju kotak pos membawa selembar amplop.
Di dalamnya bukan hanya permintaan.
Melainkan waktu.
Perhatian.
Dan kerinduan yang sengaja ditulis pelan-pelan agar tidak tercecer di sepanjang perjalanan. ***
Penulis adalah seorang petani yang suka menulis