Anehnya, manusia modern semakin mahir memainkan peran. Ia bisa bersedih sesuai kebutuhan, marah sesuai jadwal, tersenyum sesuai kepentingan.
DMNETWORK – Seolah-olah baik.
Seolah-olah peduli.
Seolah-olah seperti nabi.
Seolah-olah penolong.
Seolah-olah menjadi orang yang paling humanis.
Padahal yang terjadi pada dirinya justru kebalikan. Semua hanya kedok. Semua hanya cara menutupi kerakusan terhadap kekuasaan, harta benda, dan pujian manusia. Seolah-olah. Hidup hanya seolah-olah.
Maka lahirlah zaman yang penuh topeng. Orang tidak lagi sibuk menjadi baik, melainkan sibuk tampak baik. Kebaikan dipajang seperti papan nama toko. Kepedulian dipotret, diberi keterangan panjang, lalu disebarkan ke segala penjuru. Air mata pun kadang tidak jatuh karena iba, melainkan karena kamera sudah menyala.
Ada orang yang suaranya lembut seperti embun pagi, tetapi keputusan-keputusannya keras seperti palu godam. Di depan umum ia berbicara tentang kasih sayang, sementara di belakang meja ia menghitung untung rugi manusia seperti pedagang menimbang beras. Ada pula yang rajin menyebut nama Tuhan, tetapi lebih rajin lagi menyebut namanya sendiri dalam setiap kesempatan.
Seolah-olah.
Kata itu pendek, tetapi daya rusaknya panjang. Ia bisa mengubah serigala menjadi gembala, menjadikan pencuri tampak dermawan, dan membuat orang lupa bahwa watak tidak dapat disamarkan terus-menerus. Topeng memang bisa menutupi wajah, tetapi tidak pernah benar-benar menutupi jejak kaki.
Saya sering membayangkan dunia ini seperti pasar malam. Lampu warna-warni menggantung di mana-mana. Musik diperdengarkan keras-keras. Orang tertawa, berfoto, membeli balon, membeli mimpi. Tetapi ketika listrik dipadamkan, barulah terlihat mana yang emas dan mana yang hanya kertas mengilap. Begitulah manusia. Dalam terang tepuk tangan, semua tampak mulia. Dalam gelap kesendirian, watak asli mulai berbicara.
Anehnya, manusia modern semakin mahir memainkan peran. Ia bisa bersedih sesuai kebutuhan, marah sesuai jadwal, tersenyum sesuai kepentingan. Bahkan kata ikhlas pun kadang dipakai seperti kosmetik: cukup dioleskan di bibir agar wajah tampak suci. Padahal keikhlasan tidak pernah membutuhkan pengeras suara.
Dahulu orang tua di kampung menilai seseorang dari cara ia memperlakukan tetangga ketika tidak ada tamu. Sekarang penilaian sering diambil dari layar kecil di telapak tangan. Yang tampil dianggap nyata, yang diam dianggap tidak ada. Maka lahirlah perlombaan citra. Orang lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan nurani.
Di sinilah kesedihan itu bermula. Kita hidup di tengah keramaian yang miskin kejujuran. Banyak tangan terangkat memberi salam, sedikit tangan yang benar-benar siap menolong. Banyak mulut mengucap persaudaraan, sedikit hati yang rela berbagi beban. Persahabatan menjadi kartu nama, bukan lagi tempat pulang.
Namun hidup mempunyai cara sendiri untuk membuka kedok. Waktu adalah penyidik paling sabar. Ia tidak tergesa-gesa, tetapi hampir tidak pernah keliru. Sedikit demi sedikit, lapisan cat akan mengelupas. Orang yang seolah-olah bijak akan terlihat dari cara ia memperlakukan orang lemah. Orang yang seolah-olah dermawan akan terlihat ketika tidak ada yang memuji. Orang yang seolah-olah suci akan terlihat ketika godaan datang tanpa saksi.
Pada akhirnya manusia tidak diingat karena pencitraannya, melainkan karena bekas yang ditinggalkannya di hati orang lain. Sebab sejarah tidak terlalu tertarik pada topeng; sejarah tertarik pada wajah asli.
Mungkin karena itu kita perlu curiga terlebih dahulu kepada diri sendiri sebelum curiga kepada dunia. Jangan-jangan selama ini kita pun diam-diam memelihara beberapa seolah-olah: seolah-olah sabar, seolah-olah rendah hati, seolah-olah tulus. Pengakuan semacam itu memang tidak enak, tetapi lebih menyehatkan daripada pujian yang dibangun di atas kepalsuan.
Saya teringat nasihat seorang kiai tua di sebuah desa yang jalannya masih berbatu. Katanya, “Nak, manusia itu tidak usah bercita-cita tampak bercahaya. Jadilah lampu minyak saja. Tidak gemerlap, tetapi sungguh-sungguh menerangi.” Nasihat itu sederhana, bahkan mungkin terlalu sederhana untuk zaman yang gemar sorotan. Tetapi justru kesederhanaannya menyimpan keselamatan.
Sebab hidup bukan panggung sandiwara yang menuntut tepuk tangan terus-menerus. Hidup adalah perjalanan pulang. Dan dalam perjalanan pulang itu, yang paling dibutuhkan bukan wajah yang tampak suci, melainkan hati yang berani jujur.
Jujur bahwa kita punya salah.
Jujur bahwa kita punya nafsu.
Jujur bahwa kita bisa tergelincir.
Jujur bahwa kita tidak selalu baik.
Dari kejujuran itulah barangkali lahir kebaikan yang sesungguhnya. Kebaikan yang tidak berisik, tidak mencari kamera, tidak meminta penghargaan, dan tidak marah ketika dilupakan.
Karena yang benar-benar baik biasanya tidak sempat berkata, “Lihatlah aku baik.” Ia sibuk berbuat baik.
Sedangkan yang hidupnya hanya seolah-olah akan terus sibuk menjaga topeng agar tidak jatuh. Dan betapa melelahkannya hidup yang setiap hari harus berpura-pura.
Editor: Aris Munandar