Dari 472 Suara ke Musyawarah Sembilan Kiai, Gus Kikin Dipilih Memimpin PBNU

2 Min Read
Gus Kikin Dipilih Memimpin PBNU (foto: istimewa/DMNetwork)

Keputusan AHWA menjadi konsekuensi langsung dari perubahan mekanisme pemilihan yang disepakati muktamirin.

JOMBANG, DMNetwork — KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026-2031.

Gus Kikin ditetapkan melalui musyawarah sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026).

Musyawarah AHWA berlangsung pada pagi hari. Sembilan ulama tersebut berkumpul di Ndalem Kasepuhan Tambakberas untuk menentukan Ketua Umum PBNU. Musyawarah berlangsung sekitar 40 menit, sebelum akhirnya menghasilkan keputusan memilih Gus Kikin.

Pilihan tersebut sekaligus menuntaskan proses panjang yang berlangsung sejak Muktamar dibuka pada Kamis (27/8/2026).

- Iklan -
Ad imageAd image

Gus Kikin sebelumnya memperoleh dukungan tertinggi dalam proses tabulasi bakal calon dengan 472 suara. Namun, angka tersebut bukan suara kemenangan dalam pemilihan Ketua Umum. Penetapan sebagai Ketua Umum baru sah setelah AHWA melakukan musyawarah.

Dengan mekanisme tersebut, Gus Kikin melewati dua tahapan penting.

Pertama, ia memperoleh dukungan paling tinggi dalam penjaringan nama calon. Kedua, ia mendapatkan kepercayaan AHWA yang diberi mandat oleh Muktamar untuk menentukan Ketua Umum.

Keputusan AHWA menjadi konsekuensi langsung dari perubahan mekanisme pemilihan yang disepakati muktamirin.

Dalam sidang sebelumnya, 401 dari 552 pemilik suara memilih AHWA. Sebanyak 150 suara memilih mekanisme one man one vote dan satu suara tidak sah.

- Iklan -
Ad image

Dengan demikian, Ketua Umum PBNU periode baru tidak ditentukan melalui pertarungan suara langsung antarkandidat.

Keputusan akhir berada di tangan sembilan ulama.

Sebelum keputusan itu diambil, lima nama telah mengerucut untuk dimusyawarahkan, yakni Gus Kikin, KH Zulfa Mustofa, Gus Salam, Gus Yahya, dan Gus Rozin.

Gus Kikin kemudian keluar sebagai pilihan AHWA.

Ia akan memimpin PBNU bersama KH Miftachul Akhyar yang kembali dipercaya sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031.

Dengan terpilihnya Gus Kikin, pertarungan panjang perebutan kursi Ketua Umum PBNU akhirnya berakhir.

Tetapi keputusan tersebut sekaligus membuka pekerjaan baru.

Setelah Muktamar selesai, NU menghadapi tantangan untuk mengakhiri ketegangan yang muncul selama proses pemilihan dan menyatukan kembali seluruh kelompok yang terlibat dalam kontestasi.***

Share This Article
error: Content is protected !!