Anak membayar utang bapak. Cucu membayar utang kakek. Entah cicilan kereta cepat nanti sampai kepada cicit atau tidak, itu urusan sejarah.
DMNETWORK – Purbaya oh Purbaya.
Nasib seorang menteri keuangan rupanya tidak jauh berbeda dengan nasib orang yang sedang duduk di warung kopi. Baru saja kopinya datang, baru dua teguk diminum, tahu-tahu ada suara dari belakang: “Geser, Bang. Ada yang mau duduk.”
Bedanya, kalau di warung kopi yang bergeser cuma kursi. Di kabinet, yang bergeser bisa seorang menteri.
Purbaya Yudhi Sadewa barangkali masih ingat betul bagaimana ia pertama kali masuk ke kursi Menteri Keuangan pada September 2025. Menggantikan Sri Mulyani, ia datang dengan gaya yang tidak terlalu mirip menteri. Lebih mirip orang yang baru turun dari kendaraan, masuk warung, lalu berkata, “Tenang saja. Ekonomi ini saya urus.”
Maka lahirlah julukan: menteri koboi.
Blak-blakan. Percaya diri. Tidak banyak basa-basi.
Prabowo pun pernah memuji. Kalau Menteri Keuangan senyum, katanya, Presiden merasa aman.
Kalimat itu sebenarnya sederhana. Tetapi dalam politik, kalimat sederhana kadang bisa menjadi benda berbahaya.
Sebab kalau senyum seorang menteri dijadikan tanda keamanan negara, kita akhirnya mempunyai ukuran ekonomi yang agak unik: dolar naik, menteri senyum; pasar gelisah, menteri senyum; APBN pusing, menteri senyum lagi.
Purbaya sendiri pernah mengakui bahwa ia sengaja bicara optimistis untuk memulihkan kepercayaan pasar. Ada teorinya. Self-fulfilling prophecy. Kalau orang percaya ekonomi akan baik, keyakinan itu bisa ikut membuat ekonomi menjadi baik.
Bagus.
Tetapi ekonomi, seperti manusia, kadang mempunyai sifat keras kepala. Tidak semua bisa diselesaikan dengan pidato.
Pertumbuhan ekonomi memang sempat naik, dari 5,39 persen pada kuartal IV 2025 menjadi 5,61 persen pada kuartal I 2026. Tetapi kemudian turun menjadi 5,29 persen pada kuartal II.
Angka-angka itu tentu bukan kiamat.
Namun angka juga bukan anak kecil yang bisa dibujuk dengan permen.
Rupiah pernah tertekan. Outlook peringkat kredit Indonesia berubah dari positif menjadi negatif oleh dua lembaga pemeringkat. Kebijakan likuiditas perbankan menimbulkan perdebatan dengan Bank Indonesia.
Dan Purbaya?
Tetap tersenyum.
Bahkan berat badannya ikut menjadi bagian dari cerita. Pernah turun dari sekitar 102 kilogram menjadi 88 kilogram karena pekerjaan, kemudian naik lagi ke sekitar 97-98 kilogram.
Ekonomi naik turun.
Berat badan naik turun.
Senyum jangan turun.
Lalu datanglah Whoosh.
Kereta cepat Jakarta-Bandung yang dahulu dipuji sebagai lambang kemajuan itu sekarang juga membawa cerita tentang utang. Restrukturisasi membuat tenor pembayaran menjadi sangat panjang, sampai sekitar 80 tahun.
Purbaya menanggapinya dengan santai. Delapan puluh tahun, katanya, ya kita sudah mati.
Kalimat itu lucu.
Tetapi utang negara mempunyai satu kebiasaan yang tidak lucu: ia tidak ikut mati bersama pejabat yang membuat keputusan.
Ia diwariskan.
Anak membayar utang bapak. Cucu membayar utang kakek. Entah cicilan kereta cepat nanti sampai kepada cicit atau tidak, itu urusan sejarah.
Kemudian, mulai 15 September 2026, pengelolaan utang Whoosh bergeser dari Danantara ke Kementerian Keuangan melalui special mission vehicle di bawah Kemenkeu.
Nah.
Di sinilah orang mulai garuk-garuk kepala.
Dulu utang itu seperti tamu yang katanya tidak akan masuk rumah APBN.
Sekarang pelan-pelan sudah mengetuk pintu Kemenkeu.
“Permisi.”
“Siapa?”
“Utang Whoosh.”
“Lho, kok ke sini?”
“Saya sudah lama sebenarnya.”
Belum selesai soal Whoosh, datang pula gubernur-gubernur.
Sebanyak 18 gubernur mendatangi kantor Menteri Keuangan mempersoalkan pemotongan Transfer ke Daerah. Ada daerah yang mengeluh kesulitan membayar gaji ASN dan PPPK. Ada pula kekhawatiran pelayanan pemerintahan terganggu.
Purbaya menjawab dengan logika fiskal: ruang anggaran terbatas. Kalau penerimaan negara membaik, ada kemungkinan transfer ditambah.
Logis.
Tetapi politik mempunyai logika lain.
Yang satu menghitung uang.
Yang satu menghitung suara.
Dan di antara keduanya berdirilah kepala daerah dengan wajah yang tentu saja tidak sedang ingin tersenyum.
Belum lagi muncul kontroversi soal usulan biaya di Selat Malaka, lalu pengumuman transfer Rp120 triliun dari Danantara.
Makin lengkaplah isi panci.
Menteri Keuangan memang bukan jabatan untuk orang yang ingin hidup tenang.
Ia harus membuat Presiden tenang, pasar tenang, gubernur tenang, pengusaha tenang, DPR tenang, Bank Indonesia tenang.
Sementara rakyat?
Rakyat disuruh ikut tenang.
Lalu tibalah Senin, 14 September 2026.
Pagi hari Purbaya masih menghadiri rapat di DPD. Ia masih berbicara tentang perekonomian yang tetap terjaga.
Sore harinya, cerita berubah.
Purbaya diganti.
Suahasil Nazara, wakilnya sendiri, dilantik menjadi Menteri Keuangan.
Begitulah politik.
Pagi masih duduk di kursi.
Sore kursinya sudah punya nama baru.
Istana tidak menjelaskan secara rinci alasan pergantian itu. Secara konstitusional, pengangkatan dan pemberhentian menteri memang merupakan hak prerogatif Presiden.
Tetapi publik tidak pernah puas dengan kata “hak prerogatif”.
Publik ingin sebab.
Maka lahirlah berbagai dugaan: evaluasi kinerja, kepercayaan investor, pertumbuhan ekonomi yang belum mencapai sasaran 6-8 persen, sampai kebutuhan memperkuat kembali kredibilitas fiskal.
Benar atau tidak, sejarah nanti yang mungkin menjawab.
Yang jelas, Purbaya kini menjadi mantan Menteri Keuangan.
Dan kita pun belajar satu perkara yang sangat sederhana.
Jangan terlalu cepat mengira pujian adalah jaminan.
Pujian Presiden bisa terasa seperti payung pada waktu hujan. Tetapi payung itu milik orang lain. Sewaktu-waktu bisa dilipat.
Kemarin Purbaya dipuji karena senyumnya.
Hari ini ia diganti.
Mungkin besok ia masih tersenyum.
Cuma kursinya sudah tidak ada.
Purbaya oh Purbaya.
Begitulah nasib orang yang duduk di kursi kekuasaan.
Kursi itu kelihatannya empuk. Tetapi ternyata tidak pernah benar-benar menjadi milik kita.
Ia cuma dipinjamkan.
Dan yang meminjamkan bisa mengambilnya kembali kapan saja.
Maka kalau suatu hari seorang atasan berkata, “Selama kamu tersenyum, semuanya aman,” sebaiknya jangan buru-buru merasa lega.
Tengok dulu kursinya.
Barangkali yang sedang diamankan bukan kita.
Kursinya.
Dan dalam politik, kadang-kadang kursi lebih cepat diamankan daripada orang yang sedang duduk di atasnya.
Begitulah.
Koptagul hari ini tidak perlu banyak teori.
Cukup satu teguk kopi.
Senyum boleh.
Optimistis boleh.
Tetapi jangan lupa: kursi menteri bukan kursi pribadi.
Purbaya oh Purbaya.
Aris Munandar: Editor DMNetwork