Gibran Hadiri Dharmasanti Waisak Borobudur, Pesan Perdamaian Menggema dari Taman Lumbini

6 Min Read
Gibran Hadiri Dharmasanti Waisak di Taman Lumbini Borobudur (gk/DMnetwork)

DMNETWORK.COM – Gibran Hadiri Dharmasanti Waisak menjadi salah satu momen penting dalam rangkaian perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE/2026 yang berlangsung di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Setelah prosesi puncak Waisak yang diwarnai pelepasan ribuan lampion ke langit Borobudur, suasana spiritual kembali terasa melalui pelaksanaan Dharmasanti Waisak Nasional yang digelar di Taman Lumbini pada Minggu malam, 31 Mei 2026.

Kegiatan tersebut menjadi penutup resmi rangkaian Waisak Nasional sekaligus menghadirkan ruang refleksi bagi umat Buddha dan masyarakat luas untuk memperkuat nilai-nilai perdamaian, toleransi, serta persaudaraan di tengah keberagaman bangsa Indonesia.

Kehadiran Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, menambah makna penting dalam acara yang dihadiri ribuan umat Buddha dari berbagai daerah tersebut.

- Iklan -
Ad imageAd image

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tiba di kompleks Candi Borobudur sekitar pukul 20.00 WIB. Mengenakan kemeja putih dipadukan celana panjang hitam, Gibran disambut panitia dan sejumlah tokoh agama yang telah hadir lebih dahulu di lokasi acara.

Kehadiran orang nomor dua di Indonesia itu menunjukkan dukungan pemerintah terhadap pelaksanaan kegiatan keagamaan yang menjadi bagian penting dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selain Gibran, sejumlah pejabat kabinet turut hadir mendampingi. Di antaranya Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Djamari Chaniago, serta Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.

Mereka bergabung bersama tokoh-tokoh agama Buddha, perwakilan organisasi keagamaan, dan masyarakat yang memenuhi kawasan Taman Lumbini.

Malam itu, suasana Borobudur tampak berbeda. Setelah ribuan lampion menerangi langit dalam prosesi puncak Waisak sehari sebelumnya, kini perhatian peserta tertuju pada pesan-pesan kebajikan yang disampaikan dalam Dharmasanti.

- Iklan -
Ad image

Dharmasanti merupakan tradisi yang memiliki makna penting dalam rangkaian perayaan Waisak. Acara ini menjadi momentum mempererat hubungan antarsesama sekaligus memperdalam pemahaman terhadap ajaran Buddha.

Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), Hartati Murdaya, dalam sambutannya mengajak umat Buddha untuk menjadikan Waisak sebagai sarana refleksi diri.

Menurutnya, perayaan Waisak tidak hanya mengenang kelahiran, pencapaian pencerahan, dan wafatnya Sang Buddha Gautama, tetapi juga menjadi kesempatan untuk meneladani nilai-nilai yang diajarkan beliau.

“Waisak merupakan momentum untuk mengingat riwayat kehidupan Sang Buddha Gautama yang bercita-cita membebaskan diri dari penderitaan dan menemukan jalan menuju pencerahan,” ujar Hartati di hadapan ribuan peserta.

Pesan tersebut disambut khidmat oleh para hadirin yang memenuhi area Taman Lumbini. Banyak peserta terlihat mengikuti jalannya acara dengan penuh perhatian, mencerminkan penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual yang menjadi inti perayaan Waisak.

Perayaan Waisak di Borobudur setiap tahun tidak hanya menjadi agenda keagamaan nasional, tetapi juga menarik perhatian masyarakat internasional.

Sebagai salah satu situs warisan dunia UNESCO, Borobudur telah lama menjadi simbol harmoni, spiritualitas, dan perjumpaan lintas budaya.

Dalam perayaan tahun ini, makna tersebut kembali terlihat jelas. Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah dan negara hadir untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung selama beberapa hari.

Momentum tersebut memperlihatkan bagaimana perbedaan latar belakang budaya, bahasa, maupun kebangsaan dapat menyatu dalam suasana yang penuh penghormatan dan kedamaian.

Tak hanya umat Buddha, masyarakat umum juga turut menyaksikan berbagai kegiatan yang berlangsung di kawasan Borobudur. Hal ini menunjukkan bahwa Waisak telah berkembang menjadi perayaan yang memiliki nilai universal dan dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.

Salah satu pesan utama yang mengemuka dalam Dharmasanti tahun ini adalah pentingnya menjaga toleransi di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Dalam konteks tersebut, nilai-nilai welas asih yang diajarkan Buddha dinilai relevan untuk terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan Dharmasanti, para peserta diajak untuk memperkuat rasa saling menghormati, menghindari sikap permusuhan, serta membangun hubungan sosial yang harmonis.

Pesan tersebut semakin terasa kuat ketika ribuan peserta bersama-sama mengikuti rangkaian acara dalam suasana damai dan penuh kekeluargaan.

Malam yang sejuk di kawasan Borobudur seakan menjadi saksi bahwa semangat toleransi masih hidup dan terus dijaga oleh masyarakat Indonesia.

Kehadiran Wakil Presiden dalam acara ini juga dipandang sebagai simbol dukungan negara terhadap kebebasan beragama dan kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat.

Dalam berbagai kesempatan, pemerintah terus mendorong penguatan nilai toleransi sebagai fondasi penting bagi persatuan nasional.

Karena itu, momentum Gibran Hadiri Dharmasanti Waisak tidak hanya bermakna dalam konteks keagamaan, tetapi juga memiliki pesan kebangsaan yang kuat.

Dari pelataran Borobudur, masyarakat kembali diingatkan bahwa perdamaian tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan untuk menghargai perbedaan.

Nilai-nilai tersebut menjadi warisan penting yang terus dijaga dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Ketika malam semakin larut dan rangkaian Dharmasanti berakhir, pesan yang tertinggal bukan hanya tentang perayaan keagamaan. Lebih dari itu, Borobudur kembali mengirimkan pesan kepada dunia bahwa toleransi, welas asih, dan perdamaian tetap menjadi kekuatan yang menyatukan bangsa.

Melalui perayaan Waisak dan Dharmasanti yang berlangsung khidmat, Indonesia kembali menunjukkan wajahnya sebagai rumah bersama bagi keberagaman. Dari Taman Lumbini, gema perdamaian itu kembali terdengar, mengingatkan bahwa masa depan yang harmonis selalu dimulai dari hati yang menghormati sesama.(*)

Share This Article