“Sebuah partai meluncurkan lagu”
DMNETWORK, — Kalimat itu terdengar biasa. Bahkan terlalu biasa. Lagu datang dan pergi. Seperti spanduk, slogan, atau baliho yang sebentar kemudian diganti oleh musim berikutnya. Politik kita telah lama akrab dengan bunyi-bunyian: mars, hymne, yel-yel, tepuk tangan yang disusun rapi.
Tetapi kali ini ada sebuah nama yang dipanggil kembali: Marhaen.
Dan ketika sebuah nama dipanggil, sejarah ikut bergerak.
Kita tak pernah benar-benar tahu siapa Marhaen yang sesungguhnya. Yang kita kenal adalah Marhaen yang telah menjadi kisah. Ia seorang petani yang ditemui Soekarno di Priangan. Dari perjumpaan yang sederhana itu lahir sebuah istilah yang kemudian hidup lebih lama daripada orang yang menyandang nama tersebut.
Barangkali memang demikian cara sejarah bekerja.
Seorang manusia berubah menjadi simbol.
Simbol berubah menjadi gagasan.
Dan gagasan, setelah puluhan tahun, menjelma lagu.
PDI Perjuangan kini meminta kadernya menyanyikan lagu “Bung Karno Bapak Marhaenisme” dalam acara resmi partai. Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai urusan internal organisasi. Sebagian lagi mungkin menganggapnya sekadar ritual.
Tetapi ritual selalu menarik.
Manusia menciptakan ritual ketika ia takut lupa.
Di dalam agama ada doa yang diulang. Di dalam kebudayaan ada tembang yang diwariskan. Di dalam politik ada mars yang dinyanyikan berulang-ulang. Semuanya berangkat dari kegelisahan yang sama: bagaimana menjaga sesuatu agar tidak hilang ditelan waktu.
Sebab waktu adalah penghapus yang sabar.
Ia mengikis monumen. Ia memudarkan slogan. Ia membuat sebuah cita-cita yang dahulu menggetarkan jutaan orang perlahan berubah menjadi kalimat di buku pelajaran.
Mungkin itulah yang sedang dilawan oleh lagu tersebut.
Bukan lawan politik.
Bukan partai lain.
Melainkan lupa.
Lupa bahwa di balik kata “Marhaenisme” pernah ada pertanyaan besar tentang ketimpangan. Tentang mereka yang bekerja tetapi tak pernah cukup menikmati hasil kerjanya. Tentang mereka yang memiliki cangkul, perahu, gerobak, atau lapak kecil, tetapi tetap berada di pinggir arus kemakmuran.
Di zaman Soekarno, mereka disebut kaum marhaen.
Hari ini mereka hadir dalam bentuk yang berbeda.
Pedagang daring yang hidup dari algoritma.
Pengemudi yang menggantungkan nasib pada aplikasi.
Petani yang panennya ditentukan harga pasar yang tak pernah mereka kendalikan.
Nelayan yang bertarung dengan cuaca sekaligus biaya solar.
Nama mereka berubah. Kegelisahannya tetap sama.
Karena itu menarik ketika sebuah partai memilih menghidupkan kembali sebuah ideologi melalui lagu.
Bukan melalui seminar.
Bukan melalui buku tebal.
Tetapi melalui nada.
Barangkali karena manusia lebih mudah mengingat nyanyian daripada pidato.
Namun di situlah pula pertanyaan muncul.
Apakah sebuah gagasan dapat hidup hanya karena dinyanyikan?
Ataukah ia baru hidup ketika diwujudkan?
Lagu dapat mengingatkan. Tetapi ia tidak menggantikan kenyataan.
Marhaenisme, pada akhirnya, bukan perkara lirik. Ia adalah soal apakah politik masih mampu mendengar suara mereka yang tidak memiliki pengeras suara.
Dan di titik itu, lagu tersebut bukanlah akhir.
Ia hanya pembuka percakapan lama yang belum selesai.
Percakapan tentang rakyat kecil.
Tentang keadilan.
Tentang janji yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebuah lagu mungkin hanya berlangsung beberapa menit.
Tetapi pertanyaan yang dibawanya telah berumur hampir satu abad.
Editor: Aris Munandar