MBG Berubah dari Kotak ke Prasmanan: Siswa Senang Makanan Lebih Segar, tetapi Antrean Jadi Catatan

8 Min Read
Ujicoba Prasmanan untuk program MBG di sekolah (foto: istimewa/darmedianetwork)

930 Siswa, Empat Meja Prasmanan

Pengalaman SMP Negeri 4 Kota Sukabumi memberikan gambaran lebih konkret tentang tantangan operasional.

JAKARTA, DARMEDIANETWORK – 
Makan Bergizi Gratis atau MBG memasuki fase uji coba baru. Badan Gizi Nasional mengubah pola penyajian dari makanan yang sudah diporsikan dalam wadah menjadi sistem prasmanan di sekolah.

Sejak Senin (5/10/2026), lebih dari 60 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG mulai menguji model tersebut. Makanan dibawa dari dapur dalam kondisi hangat untuk kemudian disajikan di sekolah. BGN menyebut langkah ini ditujukan untuk memperpendek jeda antara makanan selesai dimasak dan saat dikonsumsi siswa.

Perubahan itu tampak sederhana. Namun, di sekolah, sistem prasmanan mengubah lebih banyak hal daripada sekadar cara mengambil makanan.

Siswa harus mengantre, memilih atau menerima porsi sesuai ketentuan, kemudian makan bersama. Guru dan sekolah pun harus mengatur alur siswa, waktu makan, kebersihan, hingga ketertiban selama makanan disajikan.

- Iklan -
Ad imageAd image

Makanan Lebih Segar, tetapi Harus Antre

Pengalaman di sejumlah sekolah yang lebih dulu mencoba sistem prasmanan memperlihatkan respons yang relatif positif, sekaligus menyisakan catatan.

Di SMA Kemala Bhayangkari 1, Pejaten, Jakarta Selatan, misalnya, sistem prasmanan sudah disimulasikan pada April 2026 untuk 336 siswa.

Seorang siswa menyambut baik makanan yang disajikan dengan model tersebut karena menurutnya makanan terasa lebih segar. Namun, ia juga menyampaikan konsekuensi yang langsung dirasakan siswa: harus mengantre sebelum makan.

Pengalaman itu memperlihatkan dua sisi perubahan.

Bagi siswa, prasmanan memberi pengalaman makan yang berbeda. Makanan dapat disajikan lebih dekat dengan waktu konsumsi. Namun, pola ini juga membutuhkan waktu dan pengaturan antrean.

- Iklan -
Ad image

Bagi sekolah, persoalannya bukan sekadar apakah makanan disukai siswa, tetapi apakah sistem tersebut dapat berjalan tanpa mengganggu proses belajar.

Kepala SMA Kemala Bhayangkari 1 Muryanto menilai model prasmanan memberi manfaat bagi siswa, terutama mereka yang belum sempat sarapan. Ia juga menilai makan bersama dapat membangun kebersamaan antarsiswa.

Kepala SPPG Polri Pejaten Muhammad Iqbal Salim menambahkan, sistem itu juga dapat melatih ketertiban dan kedisiplinan siswa. Porsi tetap dikontrol menggunakan alat takar berdasarkan arahan ahli gizi.

Dengan demikian, prasmanan bukan berarti siswa bebas mengambil makanan tanpa batas.

Ada standar porsi yang tetap harus dijaga.

930 Siswa, Empat Meja Prasmanan

Pengalaman SMP Negeri 4 Kota Sukabumi memberikan gambaran lebih konkret tentang tantangan operasional.

Sekolah itu memiliki sekitar 930 siswa. Ketika mencoba sistem prasmanan, sekolah menyiapkan empat ruang khusus, masing-masing untuk siswa kelas 7, 8, 9, serta guru.

Jalur masuk dan keluar diatur agar antrean tidak bertabrakan. Setiap meja prasmanan ditempatkan sekitar empat petugas SPPG.

Yang menarik, sekolah tidak menyerahkan sepenuhnya pengambilan makanan kepada siswa. Petugas dapur tetap membantu membagikan makanan untuk menjaga agar porsi tetap seimbang.

Wakasek Humas SMPN 4 Kota Sukabumi R. Niske Dewintania mengatakan respons siswa positif dan mereka terlihat antusias karena model tersebut merupakan pengalaman baru.

Namun, pengalaman itu juga menunjukkan bahwa prasmanan membutuhkan persiapan yang tidak sedikit.

Sekolah harus menyediakan ruang, mengatur jalur antrean, membagi kelompok siswa dan memastikan kegiatan tidak mengacaukan jadwal belajar. Sementara urusan higienitas dan keamanan makanan tetap menjadi tanggung jawab pihak dapur.

Di sinilah perubahan sistem MBG mulai terlihat sebagai persoalan tata kelola, bukan sekadar persoalan penyajian.

Guru Tak Lagi Sekadar Menerima Kotak Makanan

Dalam sistem pembagian biasa, sebagian besar pekerjaan sekolah selesai setelah makanan diterima dan dibagikan.

Model prasmanan mengubah keadaan.

Sekolah harus menyiapkan ruang dan alur pergerakan siswa. Guru perlu membantu menjaga ketertiban. Siswa harus memahami aturan mengambil makanan dan mengembalikan peralatan.

Dengan kata lain, sekolah ikut menjadi bagian dari rantai pelayanan MBG.

BGN sendiri menyebut model baru itu memiliki unsur edukatif. Siswa dapat dilibatkan dalam pelayanan secara bergiliran dengan pelatihan dan perlengkapan yang sesuai. Sistem tersebut juga dikembangkan dengan melihat pembelajaran dari penyelenggaraan makan sekolah di Jepang, meski penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi Indonesia.

Manfaat yang ingin dicapai pun lebih luas.

Siswa dapat belajar mengambil makanan sesuai kebutuhan. Kebiasaan itu diharapkan mengurangi makanan yang tersisa. Mereka juga belajar antre, menjaga kebersihan, berbagi ruang dengan teman, dan bertanggung jawab atas makanan yang telah diambil.

Tetapi semua manfaat itu masih harus dibuktikan dengan data.

Bukan Berarti Prasmanan Otomatis Lebih Aman

BGN menyatakan model prasmanan dikembangkan untuk menjaga kualitas makanan sekaligus mengurangi jeda antara proses memasak dan konsumsi. Makanan yang lebih cepat disajikan diharapkan tetap hangat dan segar.

Namun, satu hal perlu ditegaskan: makanan hangat tidak otomatis berarti makanan aman.

Keamanan pangan tetap bergantung pada seluruh rantai pengolahan makanan, mulai dari bahan baku, proses memasak, pengangkutan, penyimpanan sementara, penyajian hingga makanan masuk ke tubuh siswa.

Karena itu, uji coba prasmanan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah siswa menyukai makanan yang lebih hangat.

Yang harus diukur adalah apakah sistem tersebut benar-benar memperbaiki kualitas dan keamanan makanan.

Berapa suhu makanan ketika meninggalkan SPPG?

Berapa suhu ketika sampai di sekolah?

Berapa lama makanan berada di meja prasmanan?

Bagaimana kebersihan alat saji?

Bagaimana makanan yang tersisa diperlakukan?

Dan yang tidak kalah penting, apakah jumlah makanan yang terbuang benar-benar turun?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting karena BGN juga menyebut pengurangan food waste sebagai salah satu manfaat yang diharapkan dari sistem prasmanan. Siswa dapat menyesuaikan porsi dengan kebutuhan dan mengambil tambahan apabila makanan masih tersedia.

Ujian Sesungguhnya Ada di Sekolah

Sistem prasmanan kini diuji di lebih dari 60 dapur SPPG. BGN menegaskan bahwa ini masih merupakan pilot project, bukan penggantian total sistem MBG secara nasional.

Karena itu, pengalaman sekolah yang telah lebih dulu mencoba model tersebut menjadi penting.

Dari sisi siswa, ada keuntungan berupa makanan yang dinilai lebih segar dan pengalaman makan bersama. Ada pula catatan mengenai antrean.

Dari sisi guru dan sekolah, prasmanan dapat menjadi sarana pendidikan kedisiplinan dan kebersamaan. Namun, sekolah juga harus menyediakan ruang dan mengatur waktu serta alur siswa.

Dari sisi pemerintah, sistem ini berpotensi memperpendek rantai waktu antara dapur dan meja makan serta mengurangi sisa makanan.

Namun, seluruh manfaat itu masih harus diuji.

MBG bukan sekadar program membagikan makanan. Di dalam satu piring terdapat persoalan gizi, keamanan pangan, logistik, pendidikan, anggaran, hingga perilaku anak.

Karena itu, keberhasilan prasmanan tidak semestinya diukur hanya dari seberapa lahap siswa makan.

Yang harus diukur adalah apakah makanan lebih aman, lebih bergizi, lebih sedikit terbuang, lebih efisien, dan benar-benar membantu sekolah serta siswa.

Prasmanan boleh menjadi wajah baru MBG.

Tetapi wajah baru itu baru bisa disebut berhasil apabila perubahan di meja makan benar-benar menghasilkan perubahan di dapur, di sekolah, dan terutama pada kesehatan anak-anak yang menjadi penerima manfaat. (Berbagai sumber)

Share This Article
error: Content is protected !!