Ketika kemarau memanjang, kekurangan air tampak di mana-mana. Parit menyusut, kebun rumah kehilangan kelembapan, dan tanaman pekarangan bertahan dengan sisa-sisa embun.
DMNETWORK – Sudah beberapa pekan langit tak menurunkan hujan. Panas terasa menempel di kulit sejak pagi. Rumput-rumput di pematang menguning, daun-daun pohon tampak layu, dan tanah di halaman mulai retak-retak. Di kampung pesisir, sebagian warga mengeluh air sumur berubah payau karena terpengaruh air laut. Sementara di daerah perbukitan, orang-orang mulai menandai penurunan muka air sumur dari hari ke hari.
Dalam suasana seperti itu, seorang petani tua di lereng pegunungan lebih sering duduk di dekat sumurnya. Ia tidak hanya mengukur kedalaman air dengan timba, melainkan juga mencoba mengukur keadaan manusia. Baginya, kemarau bukan sekadar peristiwa cuaca, melainkan saat ketika manusia diuji dalam memandang alam dan memandang firman Tuhan.
Ingatan laki-laki itu selalu kembali kepada kisah Nabi Yusuf AS. Ia menyebut bagian ketika penguasa Mesir bermimpi melihat tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus. Dalam tafsir Nabi Yusuf, mimpi itu menandai datangnya tujuh tahun masa subur yang akan diikuti tujuh tahun masa paceklik. Yang paling membekas baginya bukan hanya ramalan tentang kemarau, melainkan petunjuk agar hasil panen tidak dihabiskan seluruhnya.
“Jangan dimakan semua,” demikian ia mengulang makna ayat itu dengan bahasa sederhana.
Dari kalimat itulah ia melihat Nabi Yusuf bukan hanya seorang nabi, tetapi juga seorang pengelola pangan. Yusuf berani menerima amanah sebagai bendahara negeri karena memiliki pengetahuan tentang penyimpanan hasil panen, pemeliharaan benih, dan pengelolaan cadangan makanan agar tetap layak ditanam maupun dimakan.
Pertanyaan itu kemudian ia bawa ke sawah-sawah masa kini: sejauh mana petani masih memiliki kemampuan menyimpan benih sendiri? Ia prihatin karena banyak petani lebih akrab sebagai konsumen benih produksi industri daripada penjaga benih warisan ladang mereka sendiri.
Ketika kemarau memanjang, kekurangan air tampak di mana-mana. Parit menyusut, kebun rumah kehilangan kelembapan, dan tanaman pekarangan bertahan dengan sisa-sisa embun. Pada saat itulah ia merenungkan makna syukur. Selama ini, menurut pengamatannya, masyarakat lebih sering diajarkan mengucapkan alhamdulillah, melakukan sujud syukur, atau mengadakan syukuran. Namun syukur sebagai tindakan merawat lingkungan sering kali terlupakan.
Ia memberi contoh yang sangat dekat: air bekas wudu. Di banyak tempat air itu langsung mengalir ke selokan, padahal pada musim kemarau ia dapat dipakai menyirami tanaman. Baginya, menjaga setetes air sama berharganya dengan mengucapkan syukur atas turunnya hujan.
Renungannya tidak berhenti pada kisah Nabi Yusuf. Ia juga teringat Surah Ath-Thariq, terutama frasa wal ardli dzatish-shad’, “dan bumi yang mempunyai belahan.” Ia tidak tergesa-gesa menyatakan tafsir tunggal. Dengan kerendahan hati seorang pembelajar, ia melihat ayat itu sebagai isyarat tentang bumi yang dapat dibelah akar, ditembus tiang pancang, dan menyerap air hujan ke dalam pori-porinya.
Dari pengamatan sehari-hari ia memahami bahwa air yang meresap ke tanah dapat muncul kembali sebagai mata air setelah melewati lapisan-lapisan bumi. Air itu berubah karena bersentuhan dengan berbagai unsur alam. Manusia, pikirnya, diberi akal untuk mempelajari proses tersebut dan mengembangkan teknologi penjernihan air.
Karena itu ia sering bertanya, mengapa masyarakat lebih mudah membeli air daripada belajar memelihara sumber air? Mengapa pengetahuan tentang tanah, resapan, dan penyaringan alami tidak menjadi bagian penting pendidikan desa?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak lahir dari kemarahan, melainkan dari kegelisahan seorang petani yang menyaksikan perubahan zaman. Ia merasa manusia modern perlahan digiring menjadi konsumen: konsumen benih, konsumen pupuk, bahkan konsumen air. Padahal alam di sekeliling mereka masih menyimpan banyak pelajaran.
Di halaman rumahnya, ia membuat saluran kecil agar air cucian dapat mengalir ke rumpun pisang. Ia menampung air hujan yang sesekali turun dalam bak sederhana. Ia menanam pohon di dekat sumber air dan mengajak anak cucunya mengenali benih-benih lokal yang dulu disimpan nenek moyang mereka di loteng rumah.
Baginya, membaca Al-Qur’an tidak berhenti pada suara yang dilantunkan. Ayat harus menuntun tangan bekerja: menyimpan benih ketika panen melimpah, menghemat air ketika kemarau datang, dan merawat tanah agar tetap mampu menampung kehidupan.
Kemarau tahun ini mungkin akan berlalu ketika hujan kembali turun. Namun lelaki tua itu percaya, yang lebih penting dari datangnya hujan adalah tumbuhnya kesadaran bahwa syukur bukan hanya ucapan di bibir, melainkan cara manusia memperlakukan bumi yang dipercayakan kepadanya.
ngubaedi Ahmad, pensiunan yang suka menulis dan tinggal di Semarang