P E M B U A L

4 Min Read
Ilustrasi ai

DMNETWORK – Di kota itu, orang-orang mengenalnya bukan karena pekerjaannya, bukan karena ilmunya, melainkan karena mulutnya.

Namanya tak penting.

Orang-orang memanggilnya Pembual.

- Iklan -
Ad imageAd image

Mula-mula ia hanya seorang pembenci.

Ia membenci matahari karena terlalu terang. Membenci hujan karena terlalu basah. Membenci burung karena masih sempat bernyanyi. Bahkan ketika melihat seorang tua membantu anak kecil menyeberang jalan, ia mendecak.

“Semua itu sandiwara.”

Kalimat itu menjadi sarapannya.

Lama-kelamaan kebencian terasa terlalu sepi bila dinikmati sendirian.

- Iklan -
Ad image

Ia mulai mengumpulkan orang.

Di warung.

Di perempatan.

Di media yang membuat suara lebih cepat daripada pikiran.

Ia berkata, “Jangan percaya pada orang baik. Orang baik hanya sedang menunggu kesempatan menjadi jahat.”

Orang-orang saling pandang.

Sebagian pulang.

Sebagian tinggal.

Yang tinggal kemudian belajar membenci bersama.

Mereka menemukan kenikmatan baru.

Ternyata marah bisa dipelihara seperti ayam.

Bisa diberi makan setiap hari.

Bisa diternakkan.

Pembual tersenyum.

Hari itu ia naik setingkat.

Dari pembenci menjadi provokator.

Ia tidak lagi membutuhkan kebenaran.

Yang ia perlukan hanyalah kerumunan.

Semakin banyak orang berteriak, semakin ia merasa hidup.

Anehnya, bila tak ada alasan untuk marah, ia menciptakan alasan.

Jika ada jembatan dibangun, ia berkata jembatan itu pasti menuju neraka.

Jika ada pohon ditanam, ia berkata akarnya sedang mencuri bumi.

Jika ada orang saling memaafkan, ia berteriak bahwa damai adalah konspirasi.

Orang-orang mulai kelelahan.

Tetapi Pembual tidak.

Ia hidup dari bara yang ia tiup sendiri.

Konon, pada suatu malam, para setan berkumpul.

Mereka sedang rapat tahunan.

Salah satu berkata, “Manusia sekarang semakin sulit digoda.”

Yang lain mengangguk.

Tiba-tiba datang Pembual.

Ia menawarkan pidato.

Belum lima menit berbicara, para setan saling mencakar.

Belum sepuluh menit, mereka saling menuduh.

Belum lima belas menit, rapat bubar tanpa keputusan.

Pemimpin mereka berdiri.

“Mulai hari ini,” katanya lirih, “kami pensiun. Engkaulah rajanya.”

Pembual tertawa.

Tawanya panjang.

Saking panjangnya, gema itu memantul ke bukit-bukit, masuk ke lorong-lorong, menyelinap ke rumah-rumah yang pintunya terbuka oleh amarah.

Sejak saat itu ia tak pernah berhenti berpidato.

Di jalan-jalan.

Di pasar-pasar.

Di terminal.

Di halaman-halaman kosong.

Bahkan di kuburan.

Ia berpidato kepada batu nisan.

Ia berpidato kepada rumput.

Ia berpidato kepada angin.

Tak peduli ada yang mendengar atau tidak.

Baginya, provokasi adalah ibadah.

Mengajak membenci adalah litani.

Menebarkan prasangka adalah wirid.

Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu mencari musuh.

Setiap doa yang dipanjatkannya tidak pernah meminta kedamaian.

Ia hanya meminta agar dunia terus gaduh, agar manusia saling curiga, agar persaudaraan retak sebelum sempat tumbuh.

Maka orang-orang pun tak lagi menyebut namanya.

Mereka hanya berkata,

“Hati-hatilah pada Pembual. Sebab ada orang yang menjadikan cinta sebagai doa. Ada pula yang menjadikan kebencian sebagai doa.”

Dan konon, sampai hari ini, jika suatu malam terdengar seseorang berpidato sendirian di antara nisan-nisan, jangan buru-buru mendekat.

Bisa jadi itu hanya angin.

Bisa jadi hanya gema.

Atau, mungkin, Pembual yang masih berusaha meyakinkan dunia bahwa kebencian adalah kebenaran, padahal yang terus ia dengar hanyalah suaranya sendiri.

Aris Munandar, adalah petani yang suka menulis

Share This Article