Merawat Ingatan di Tanah Banyumas

3 Min Read
Prasasti rumah sastra yang ditandatangani oleh Fadli Zon (foto: Suho)

Esai tentang Rumah Sastra Ahmad Tohari, Bonokeling, dan Dua Tradisi Literasi Nusantara


Oleh Aris Munandar

- Iklan -
Ad imageAd image

DMNETWORK – Ada rumah yang dibangun untuk ditinggali. Ada pula rumah yang dibangun agar ingatan tidak kehilangan alamatnya.

Di Jatilawang, Banyumas, sebuah rumah semacam itu kini berdiri. Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan meresmikan revitalisasi Rumah Sastra Ahmad Tohari. Barangkali orang akan melihatnya sebagai perpustakaan baru, ruang diskusi, atau bangunan yang lebih representatif. Namun sesungguhnya yang sedang dibangun bukan sekadar tembok dan rak buku. Yang sedang dipulihkan adalah ruang tempat sebuah kebudayaan menyimpan ingatannya sendiri.

Peradaban selalu memiliki cara untuk melawan lupa. Mesir meninggalkan piramida, Eropa membangun museum, sementara Nusantara sejak dahulu menyimpan pengetahuan melalui cerita, tembang, dan kitab-kitab yang berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Rumah Sastra Ahmad Tohari berdiri di antara ikhtiar panjang itu.

Pilihan menjadikan rumah seorang sastrawan sebagai ruang publik bukan tanpa alasan. Ahmad Tohari tidak sekadar menulis novel. Ia menulis kehidupan. Sawah, langgar, pasar desa, suara kentongan, kegelisahan petani, hingga pergulatan batin manusia Banyumas berpindah dari kenyataan menjadi sastra tanpa kehilangan kejujurannya.

Di tangan Ahmad Tohari, desa bukanlah halaman belakang republik. Desa adalah pusat kehidupan manusia. Di sanalah nilai, harapan, kemiskinan, cinta, kekuasaan, dan keimanan saling berjumpa.

- Iklan -
Ad image

Karena itu, rumah sastra bukanlah monumen bagi seorang pengarang yang telah selesai berkarya. Ia adalah ruang percakapan yang terus hidup. Setiap buku yang dibaca akan melahirkan pembaca baru. Setiap pembaca yang tekun mungkin akan melahirkan seorang penulis baru.

Ahmad Tohari pernah mengingatkan bahwa media sosial dapat menyampaikan informasi dalam hitungan detik, tetapi buku mengajak seseorang tinggal lebih lama di dalam pikirannya sendiri. Membaca bukan sekadar memperoleh pengetahuan. Membaca adalah latihan menjadi manusia yang sanggup mendengar suara orang lain sebelum sibuk berbicara.

Di tengah zaman ketika perhatian manusia semakin pendek, perpustakaan justru menjadi ruang yang mengajarkan kesabaran. Ia tidak berlomba dengan kecepatan. Ia mengajak orang menikmati perjalanan pikiran.

Mungkin di situlah arti penting revitalisasi Rumah Sastra Ahmad Tohari. Negara tidak sedang membangun sebuah bangunan baru. Negara sedang mengirim pesan bahwa kebudayaan tidak cukup diperingati melalui pidato, tetapi harus disediakan ruang agar dapat terus bernapas.

Namun, ketika kita berbicara tentang cara sebuah masyarakat menyimpan ingatan, Banyumas ternyata memiliki kisah lain yang bahkan lebih tua daripada rak-rak buku. Ada masyarakat yang tidak mengenal perpustakaan, tetapi mampu menjaga warisan berabad-abad tanpa kehilangan satu pun maknanya.

Kisah itu hidup di Pekuncen, tidak jauh dari rumah sastra tersebut. ***

Aris Munandar adalah pelaku budaya dan petani

Share This Article