Pendakian Gunung Merapi Tetap Ditutup, Status Siaga Level III Tegaskan Keselamatan Harus Jadi Prioritas

4 Min Read
Status Siaga Level III Tegaskan Keselamatan Harus Jadi Prioritas, Pendakian Gunung Merapi Tetap Ditutup (gh/DMnetwork)

DMNETWORK.COM – Keputusan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) mempertahankan penutupan jalur pendakian Gunung Merapi hingga waktu yang belum ditentukan kembali menegaskan bahwa aspek keselamatan publik masih menjadi pertimbangan utama dalam pengelolaan kawasan konservasi di tengah aktivitas vulkanik yang belum mereda.

Penegasan tersebut disampaikan setelah beredarnya sejumlah unggahan di media sosial yang memperlihatkan aktivitas pendakian menuju kawasan Merapi, bahkan disertai ajakan agar jalur pendakian kembali dibuka. BTNGM mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan informasi yang beredar di media sosial sebagai acuan, melainkan tetap mengikuti rekomendasi resmi dari otoritas vulkanologi.

Status Siaga Belum Berubah Sejak 2020

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, T. Heri Wibowo, menjelaskan bahwa larangan pendakian telah diberlakukan sejak 22 Mei 2018, ketika status Gunung Merapi naik dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada).

Selanjutnya, pada 5 November 2020, status aktivitas kembali meningkat menjadi Level III (Siaga) dan hingga kini belum mengalami penurunan.

- Iklan -
Ad imageAd image

Artinya, dasar ilmiah yang menjadi landasan penutupan kawasan pendakian masih tetap berlaku sehingga pembukaan jalur belum dapat dipertimbangkan.

Aktivitas Vulkanik Masih Menunjukkan Suplai Magma Berlangsung

Laporan aktivitas Gunung Merapi periode 19–25 Juni 2026 yang diterbitkan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menunjukkan aktivitas vulkanik masih didominasi erupsi efusif dengan suplai magma yang terus berlangsung.

Fenomena tersebut menandakan masih adanya potensi guguran lava dan awan panas yang sewaktu-waktu dapat terjadi, terutama pada sektor-sektor yang telah dipetakan sebagai kawasan rawan bencana.

Di sektor selatan hingga barat daya, ancaman guguran lava dan awan panas berpotensi mengarah ke Sungai Boyong sejauh lima kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga tujuh kilometer.

Sementara itu, sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer. Dalam skenario letusan eksplosif, material vulkanik diperkirakan dapat terlontar hingga radius tiga kilometer dari puncak.

- Iklan -
Ad image

Jalur Pendakian Masuk Kawasan Berisiko Tinggi

BTNGM menegaskan bahwa jalur pendakian New Selo berada di dalam kawasan yang masuk zona bahaya. Area tersebut mencakup Pintu Gerbang, Pos I, Pos II hingga Pasar Bubrah yang selama ini menjadi lintasan utama para pendaki.

Tidak hanya jalur pendakian, sejumlah destinasi wisata alam berbasis trekking juga masih berada dalam kawasan yang memerlukan pengawasan ketat.

Objek Wisata Alam (OWA) Kalitalang, misalnya, berada sekitar 3,3 kilometer dari Pos IV pendakian sehingga masih masuk dalam area yang memerlukan mitigasi risiko.

Menurut Heri Wibowo, kebijakan penutupan bukan sekadar aturan administratif, melainkan implementasi dari prinsip mitigasi bencana yang mengedepankan keselamatan masyarakat.

“Pendakian Gunung Merapi sampai saat ini masih ditutup hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan, semata-mata untuk mematuhi rekomendasi dari pihak yang berwenang serta menjaga keselamatan dan keamanan semua pihak,” ujarnya.

Mitigasi Tetap Dilakukan di Kawasan Wisata

Di sisi lain, Kepala Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Cangkringan, Prakasita Nastiti, mengatakan pengelola kawasan terus melakukan langkah mitigasi bagi wisatawan yang berkunjung ke OWA Kalitalang maupun kawasan Plunyon.

Salah satu kebijakan yang masih diterapkan adalah penutupan jalur trekking menuju Watu Gebyok Plunyon, mengingat lokasi tersebut masih memiliki tingkat risiko apabila terjadi peningkatan aktivitas Gunung Merapi.

“Kami hingga saat ini masih menutup jalur trekking yang menuju ke arah Watu Gebyok Plunyon,” katanya.

Keselamatan Publik Menjadi Prioritas

Penutupan pendakian Gunung Merapi menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan konservasi tidak hanya berorientasi pada aktivitas wisata, tetapi juga pada pengurangan risiko bencana berbasis data ilmiah.

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata alam dan pendakian gunung, kepatuhan terhadap rekomendasi lembaga teknis menjadi faktor penting untuk mencegah terjadinya korban akibat aktivitas vulkanik yang masih berlangsung.

Selama status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga), masyarakat diimbau tidak memaksakan diri memasuki jalur pendakian maupun kawasan yang telah dinyatakan tertutup demi keselamatan bersama.(*)

Share This Article