Tiyo Ardianto, aktifis, sandal dan Fortuner

5 Min Read
Tiyo Ardianto, aktifis (foto: istimewa)

DMNETWORK — Di republik ini, kritik mempunyai nasib yang unik. Ketika disampaikan dengan suara pelan, ia dianggap bisik-bisik. Ketika disampaikan dengan suara keras, ia dituduh marah. Ketika disampaikan dengan data, orang mencari siapa yang membiayainya. Ketika disampaikan dengan emosi, orang lupa membaca datanya.

Barangkali itulah yang sedang menimpa Tiyo Ardianto.

Anak muda ini muncul dari kampus yang sejak dahulu gemar memproduksi oposisi moral. Dari halaman-halaman kampus itu pernah lahir aktivis yang mengkritik Orde Baru, mengkritik reformasi, mengkritik presiden yang sedang berkuasa, bahkan mengkritik presiden yang belum berbuat apa-apa.

- Iklan -
Ad imageAd image

Tiyo mengambil jalan yang sama, tetapi dengan gaya generasinya sendiri.

Generasi terdahulu menulis memorandum.

Generasi sekarang membuat video pendek.

Generasi terdahulu berdebat di aula kampus. Generasi sekarang berdebat di TikTok. Generasi terdahulu mengutip buku.

Generasi sekarang mengutip meme.

- Iklan -
Ad image

Karena itu, jangan heran bila kritik Tiyo sering terdengar lebih tajam daripada dingin. Ia bukan produk zaman mesin tik. Ia anak zaman algoritma.

Beberapa kali ia melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Presiden Prabowo. Bahkan pernah muncul diksi yang menimbulkan kontroversi luas dan memancing perdebatan tentang batas antara kritik dan penghinaan. Ia juga dikenal karena pernyataan-pernyataan yang meledak lebih dahulu sebelum sempat didinginkan oleh jeda refleksi.

Di situlah menariknya.

Dalam politik, emosi adalah bensin.

Tetapi akal sehat adalah rem.

Bensin membuat kendaraan bergerak.

Rem membuat kendaraan tidak masuk jurang.

Kadang-kadang Tiyo terlihat sangat kaya bensin.

Yang dipersoalkan publik adalah apakah remnya bekerja sebaik mesinnya.

Namun zaman memang suka bercanda.

Dahulu aktivis dikenal dari sandal jepitnya.

Sekarang aktivis dikenal dari algoritmanya.

Dahulu mahasiswa datang ke aksi dengan sepeda ontel, sepatu lusuh, dan tas yang lebih banyak berisi fotokopian daripada baterai cadangan.

Kini aktivis bisa datang dengan telepon pintar yang harganya setara sepeda motor, siaran langsung beresolusi tinggi, dan sesekali, seperti yang sedang ramai dibicarakan media sosial, sebuah Fortuner.

Di situlah republik gemar menciptakan ironi.

Bukan karena seorang aktivis dilarang naik Fortuner.

Demokrasi tidak pernah mensyaratkan kritik harus diantar angkutan kota.

Tetapi publik mempunyai kebiasaan lama.

Mereka tidak hanya mendengar apa yang dikatakan seseorang.

Mereka juga memperhatikan kendaraan yang membawanya datang.

Ketika Tiyo berbicara tentang ketimpangan sosial, sebagian orang justru sibuk menghitung harga mobil yang tampak di belakangnya.

Ketika ia berbicara tentang kekuasaan, sebagian warganet lebih tertarik meneliti siapa pemilik kendaraan yang ditumpanginya.

Begitulah nasib aktivis di zaman kamera telepon genggam. Setiap kritik diperiksa.

Setiap unggahan dibedah. Setiap simbol dicurigai.

Bahkan sebuah Fortuner dapat berubah menjadi bahan diskusi politik yang lebih panjang daripada isi pidato itu sendiri.

Padahal mobil hanyalah kendaraan.

Tetapi dalam politik, kendaraan sering berubah menjadi metafora.

Dan metafora, seperti kita tahu, kadang lebih berisik daripada fakta.

Puncaknya ketika beredar video yang memperlihatkan dirinya menamai seekor kucing dengan sebutan yang dianggap merendahkan Presiden.

Peristiwa itu segera mengundang kecaman dari banyak pihak.

Bukan semata karena kritiknya.

Melainkan karena cara kritik itu dibungkus.

Padahal sejarah mengajarkan satu hal.

Kritik yang baik membuat orang berpikir.

Ejekan yang berlebihan membuat orang bertengkar.

Kritik yang tajam bisa mengubah kebijakan.

Sindiran yang kelewat personal sering kali hanya mengubah suasana menjadi keributan.

Namun demikian, mengabaikan kritik hanya karena penyampainya emosional juga bukan kebijaksanaan.

Sebab dalam sejarah republik ini, banyak perubahan besar lahir dari kemarahan anak muda.

Hanya saja kemarahan yang paling efektif biasanya telah melewati dapur pemikiran yang panjang.

Tiyo tampaknya sedang berdiri di persimpangan itu.

Di satu sisi ia mewakili keberanian mahasiswa yang merasa pemerintah harus terus diawasi.

Di sisi lain ia sedang berhadapan dengan pertanyaan klasik yang menghantui semua aktivis. Apakah kemarahan masih mampu menerangi? Ataukah ia mulai membakar apa yang ingin diperjuangkannya sendiri?

Itulah asal muasal persoalannya. Bukan soal seorang mahasiswa. Bukan pula soal seorang presiden.

Melainkan soal bangsa yang masih terus belajar membedakan antara keberanian berbicara dan kebijaksanaan memilih kata.

Dan mungkin juga, di zaman yang serba visual ini, membedakan antara isi pikiran seseorang dan kendaraan yang kebetulan mengantarnya.

Sebab republik ini kadang aneh. Pidato satu jam bisa terlupakan dalam sehari. Tetapi sebuah Fortuner mampu bertahan berminggu-minggu di linimasa. 

Redaksi: Aris Munandar 

Share This Article