Jumat Berkah: OTT KPK Sukoharjo

3 Min Read
Jumat berkah OTT KPK Sukoharjo (foto: ilustrasi)

Maka setiap OTT seharusnya membuat kita lebih malu daripada kagum

Oleh Aris Munandar 

DMNETWORK – Ada istilah yang selalu berulang setiap kali hari Jumat datang: Jumat Berkah. Di masjid, kotak infak lebih cepat penuh. Di pinggir jalan, nasi bungkus berpindah tangan tanpa banyak tanya. Di kantor-kantor, orang saling mengirim doa agar pekan ditutup dengan kabar baik.

Tetapi rupanya, Jumat juga punya cara sendiri membagi “berkah”. 

- Iklan -
Ad imageAd image

Bagi Komisi Pemberantasan Korupsi, Jumat acap kali menjadi hari ketika pintu mobil tahanan terbuka.

Sukoharjo barangkali tak pernah membayangkan menjelang ulang tahunnya yang ke-80, kabar yang paling ramai bukan soal pembangunan, bukan pula pesta rakyat. Yang datang justru berita operasi tangkap tangan. Perayaan yang mestinya dihiasi umbul-umbul, mendadak diselimuti pertanyaan.

Korupsi memang memiliki sifat aneh. Ia tidak pernah mengaku datang sebagai korupsi. Ia selalu menyamar menjadi “kebiasaan”, “setoran”, “ucapan terima kasih”, “biaya koordinasi”, atau istilah-istilah lain yang terdengar lebih sopan daripada kenyataannya.

Bahasa sering kali lebih dulu dikorupsi sebelum uangnya.

Di negeri ini, jabatan kadang berubah menjadi meja kasir. Semakin tinggi kursi, semakin panjang antrean yang harus menyetor. Yang menyedihkan, orang yang diperas pun perlahan menganggap pemerasan sebagai bagian dari administrasi.

- Iklan -
Ad image

Lalu KPK datang.

Bukan membawa pidato. Bukan membawa spanduk antikorupsi. Mereka datang membawa borgol dan waktu yang hanya satu kali dua puluh empat jam untuk menjawab sebuah pertanyaan sederhana: benarkah kekuasaan sedang dipakai untuk memungut upeti?

Di situlah ironi bekerja.

Rakyat memilih pemimpin agar pelayanan menjadi ringan. Namun dalam banyak perkara, justru pelayanan yang terasa berat karena harus mengangkat beban yang tidak pernah tertulis dalam APBD.

OTT sebenarnya bukan perayaan keberhasilan hukum. Ia lebih menyerupai alarm yang berbunyi karena rumah sudah mulai terbakar. Tidak ada orang waras yang bersorak ketika alarm kebakaran berbunyi. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa sesuatu sedang tidak baik-baik saja.

Maka setiap OTT seharusnya membuat kita lebih malu daripada kagum.

Sebab yang ditangkap bukan hanya seseorang. Yang ikut diborgol adalah kepercayaan masyarakat. Yang ikut diperiksa adalah etika birokrasi. Dan yang ikut duduk di kursi pesakitan adalah harapan bahwa jabatan masih bisa dijalankan sebagai amanah, bukan kesempatan.

Barangkali itulah makna Jumat yang sesungguhnya.

Hari ketika manusia diajak menghitung bukan hanya jumlah rezeki, melainkan juga asal-usulnya.

Karena pada akhirnya, bukan KPK yang paling menakutkan.

Yang paling menakutkan adalah ketika seseorang sudah tidak lagi mampu membedakan mana amanah dan mana peluang.***

Aris Munandar, seorang petani yang gemar menulis

Share This Article