Cerpen Oleh Aris Munandar
DMNETWORK – Sesudah hujan selesai bekerja, kemarau mengambil alih.
Sawah menguning bukan karena padi, tetapi karena putus asa.
Tikus datang lebih dulu daripada matahari.
Mereka tidak pernah terlambat. Mereka punya disiplin. Mereka tidak perlu apel pagi. Tidak perlu absensi. Tidak perlu rapat koordinasi. Mereka tahu persis batang mana yang harus dipatahkan, tongkol mana yang harus dikosongkan, harapan siapa yang harus dimakan lebih dulu.
Petani datang belakangan.
Selalu belakangan.
Membawa cangkul.
Membawa doa.
Membawa utang.
Pulang membawa diam.
Di balai desa diputuskan perang terhadap tikus.
Dipasang perangkap.
Diasapi lubang.
Diracun.
Difoto.
Diberitakan.
Tikus tidak marah.
Mereka justru tampak terharu.
Belum pernah mereka diperhatikan sedemikian serius.
Seekor tikus yang tertangkap bahkan sempat tersenyum sebelum mati.
Mungkin bangga telah menjadi tumbal.
Karena malam berikutnya, ribuan tikus lain datang mengenakan wajah yang berbeda.
Ada yang memakai sepatu.
Ada yang memakai jas.
Ada yang memakai peci.
Ada yang membawa map.
Ada yang membawa proposal.
Tidak ada yang membawa rasa malu.
Petani bingung.
Katanya semua itu tamu.
Harus disambut.
Harus diberi kopi.
Harus diberi kursi paling depan.
Padahal bau mereka sama.
Pesing.
Hanya parfum mereka lebih mahal.
Aneh.
Tikus sawah cuma menggigit padi.
Tikus yang lain menggigit angka.
Menggigit anggaran.
Menggigit pupuk.
Menggigit irigasi.
Menggigit bantuan.
Menggigit jalan tani.
Menggigit gudang.
Menggigit lumbung.
Menggigit masa depan.
Yang tersisa hanya kuitansi dan pidato.
Mereka makan tanpa suara.
Yang terdengar justru tepuk tangan.
Suatu malam aku bertanya kepada seekor tikus.
“Apakah kau tidak kasihan kepada petani?”
Ia tersinggung.
“Kami ini tikus,” katanya. “Kami makan karena lapar.”
“Lalu yang makan padahal sudah kenyang?”
Tikus itu menoleh ke arah kota.
“Aku juga heran. Mereka selalu menyebut kami hama. Padahal kami tidak pernah membuat janji.”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa seekor tikus sedang membela kehormatan bangsanya.
Musim berganti.
Padi habis.
Jagung habis.
Singkong habis.
Kesabaran habis.
Tetapi pidato tumbuh subur.
Spanduk berkembang biak.
Janji beranak-pinak.
Yang gagal panen selalu petani.
Yang panen selalu mereka yang tidak pernah menanam.
Lalu seseorang berkata di televisi,
“Keadaan masih terkendali.”
Aku percaya.
Sebab memang benar.
Yang terkendali bukan tikus.
Melainkan cara kita memanggil mereka.
Selama mereka masih dipanggil Yang Terhormat, sawah akan terus belajar menjadi kuburan. Dan tikus-tikus yang sebenarnya akan tetap hidup tenang di pematang, sambil sesekali berkata kepada anak-anaknya,
“Nak, jangan pernah jadi manusia. Mereka menggigit lebih pelan, tetapi tidak pernah berhenti.”
Penulis adalah petani yang tinggal di Magelang