Final yang Tak Pernah Hanya Soal Bola

3 Min Read
Dunia yang sakit (foto ilustrasi)

Gol Ferran Torres tidak lahir karena resolusi PBB. Ia tidak datang dari rapat NATO. Ia tidak berasal dari pidato di parlemen Israel atau Iran

DMNETWORK – Ada pertandingan yang selesai ketika peluit panjang berbunyi. Ada pula pertandingan yang justru dimulai setelahnya.

Spanyol mengangkat trofi. Argentina menundukkan kepala. Di Buenos Aires, sebagian orang menangis, sebagian lagi marah. Sepak bola selalu mengaku dirinya netral, tetapi penontonnya jarang benar-benar netral. Mereka membawa sejarah, luka, ideologi, bahkan dendam yang tak pernah ikut diperiksa oleh wasit.

Lalu orang mulai menghubung-hubungkan kemenangan Spanyol dengan sikap Madrid terhadap Palestina. Mereka mengingat pemerintahan Pedro Sánchez yang berulang kali mengkritik operasi militer Israel, mengakui negara Palestina, bahkan menolak logika bahwa bom adalah jalan menuju perdamaian. Di sisi lain, Argentina di bawah Javier Milei bergerak ke kutub berbeda. Buenos Aires semakin mesra dengan Washington dan Tel Aviv. Milei bahkan menyebut dirinya sebagai presiden paling Zionis di dunia.

Tetapi bola tidak memilih ideologi.

- Iklan -
Ad imageAd image

Gol Ferran Torres tidak lahir karena resolusi PBB. Ia tidak datang dari rapat NATO. Ia tidak berasal dari pidato di parlemen Israel atau Iran. Ia lahir dari ruang kecil yang berhasil dibuka beberapa detik, ketika pertahanan Argentina terlambat membaca waktu.

Namun manusia selalu tergoda mencari pola. Kekalahan sepak bola lalu dipinjam menjadi metafora kemenangan politik. Trofi menjadi lambang peradaban. Stadion berubah menjadi sidang geopolitik.

Mungkin memang begitulah zaman bekerja.

Amerika Serikat tidak lagi hanya hadir sebagai negara. Ia hadir sebagai poros. Israel bukan sekadar sekutu, melainkan simbol pilihan. Iran bukan sekadar republik, tetapi nama bagi kutub yang lain. Dunia bergerak dalam garis-garis yang semakin tegas, seolah setiap negara harus memilih tempat berdiri.

Padahal sejarah lebih suka berjalan zigzag daripada lurus.

Argentina pernah menjadi negeri yang melahirkan Maradona, ikon yang tak segan memusuhi hegemoni Amerika. Kini ia dipimpin Milei yang justru merapat ke Washington dan Tel Aviv. Spanyol, anggota NATO dan bagian dari Eropa Barat, justru sering mengambil posisi yang berbeda dari Amerika dalam isu Gaza dan konflik Iran. Sejarah ternyata tidak mengenal kesetiaan abadi. Yang abadi hanyalah perubahan.

- Iklan -
Ad image

Karena itu, final Piala Dunia barangkali bukan sekadar cerita tentang siapa yang lebih baik memainkan bola.

Ia adalah cermin kecil yang memantulkan dunia besar.

Di atas rumput, sebelas orang mengejar satu bola. Di luar stadion, negara-negara mengejar kepentingannya masing-masing. Kadang keduanya tampak bertemu. Padahal sering kali mereka hanya kebetulan berpapasan.

Barangkali sepak bola tetap menyimpan pelajaran yang paling sederhana.

Bahwa sesudah sorak-sorai berhenti, sesudah bendera dilipat, sesudah trofi dipamerkan, manusia tetap harus kembali belajar hidup bersama. Sebab kemenangan, sebagaimana kekalahan, hanya bertahan semalam. Yang tinggal jauh lebih lama adalah bagaimana kita memperlakukan sesama manusia, bahkan ketika mereka berdiri di sisi lapangan yang berbeda.***

Aris Munandar, petani yang suka duduk duduk di sawah sendirian 

Share This Article
error: Content is protected !!