Dokter mendengarkan bunyi “duk-duk-duk”. Netizen mendengar bunyi “dugaan-dugaan-dugaan”.
DMNETWORK -;Ada semacam penyakit baru yang mendadak jadi wabah nasional. Jangan buru-buru menyalahkan nyamuk Aedes aegypti, dan tidak usah menuduh angin malam yang kebetulan lewat. Penyakit ini tidak masuk dalam kurikulum fakultas kedokteran mana pun, tapi menyerang hampir siapa saja yang memegang telepon genggam di tangan kanannya dan cangkir kopi di tangan kirinya.
Orang-orang menyebutnya dengan nada agak terengah-engah: jantungen.
Gejalanya tidak selalu berupa nyeri di dada bagian kiri. Sering kali ia datang dalam bentuk rasa kaget yang datang bertubi-tubi. Belum habis seruputan kopi pertama di pagi hari, notifikasi berita sudah menjerit. Belum sempat otak ini mencerna kenapa suatu urusan bisa begitu melintir, sudah menyusul kabar lain yang membuat denyut nadi berdegup lebih cepat dari setelan awal penciptaannya.
Jantung, organ yang dari sononya bertugas memompa darah dengan tenang dan jujur, kini seolah-olah dipaksa naik pangkat menjadi panitia tetap yang harus menampung segala macam kehebohan Republik.
Maka, tatkala Nanik S. Deyang yang memimpin Badan Gizi Nasional itu menyatakan mundur dengan alasan harus mengobati jantungnya, seketika itu pula para ahli matematika sosial berbondong-bondong membawa penggaris. Segala macam titik yang sebenarnya tidak punya hubungan keluarga mulai disambung-sambungkan. Yang lurus dibengkokkan sedikit, yang bengkok dipilin sampai bentuknya mirip tanda tanya besar.
Padahal, urusan medis ya urusan medis. Orang butuh istirahat, ya istirahat.
Tapi begitulah. Di negeri yang teramat gemar beramah-tamah ini, kita punya dua rumpun spesialisasi jantung. Yang pertama diurus oleh para dokter yang belajar bertahun-tahun pakai stetoskop. Yang kedua diurus oleh netizen yang belajarnya cukup dari kolom komentar.
Dokter mendengarkan bunyi “duk-duk-duk”. Netizen mendengar bunyi “dugaan-dugaan-dugaan”.
Begitu ada pejabat bergeser atau meletakkan jabatan, yang diperiksa laboratorium bukan lagi hasil EKG atau kadar kolesterol, melainkan riwayat foto bersama, siapa yang pernah duduk satu meja di perkawinan anak rekan sejawat, sampai siapa yang senyumnya terlalu lebar waktu konferensi pers tiga bulan lalu.
Imajinasi publik berjalan secepat kilat, sementara fakta masih terbirit-birit memakai sepatu di pintu belakang.
Badan Gizi itu sendiri kini tampak menyerupai rumah di pinggir jalan raya: orang di luar sibuk menghitung berapa kali papan namanya diganti, sementara orang di dalam mungkin sedang pusing tujuh keliling mencari tahu mana berkas yang harus diselamatkan sebelum datang badai berikutnya. Sungguh satire yang agak keterlaluan—di sebuah lembaga yang dibentuk untuk mengurus gizi rakyat, publik justru disajikan menu spekulasi yang kelewat kenyang.
Dulu orang bilang politik itu bikin pusing. Itu pendapat abad lalu. Sekarang politik itu bikin jantungen. Hari ini ada berita bantahan, besok ada klarifikasi atas bantahan, lusa ada pelurusan atas klarifikasi, dan minggu depannya lagi terbit naskah penyangkalan atas pelurusan terhadap klarifikasi yang membantah berita semula. Kalau irama kehidupan bernegara terus-terusan seperti ini.
saya khawatir yang paling kaya raya di negeri ini kelak bukan konsultan politik atau juru bicara, melainkan dokter spesialis jantung.
Saya membayangkan, esok lusa di rumah sakit akan ada loket pendaftaran baru.
“Keluhannya apa, Pak?” tanya suster dengan wajah prihatin.
“Dada saya sering berdebar tidak karuan, Sus.”
“Sejak kapan?”
“Sejak rajin membaca berita nasional jam delapan pagi.”
Suster mengangguk paham, seolah-olah itu penyakit yang sudah masuk BPJS. “Baik, silakan duduk. Bapak nomor antrean 1.267.”
Lalu dokter keluar membawa stetoskop. Bukannya ditempelkan ke dada pasien, stetoskop itu malah ditempelkan ke layar HP sang pasien yang masih menyala. Dokter menggeleng-gelengkan kepala.
“Dada Bapak sebetulnya sehat walafiat. Yang tidak normal itu linimasa media sosial Bapak. Tolong dikurangi konsumsinya dua kali sehari.”
Memang repot kalau sudah begini. Tuhan menciptakan jantung manusia itu untuk memompa darah supaya kita bisa bernapas dan berpikir jernih, bukan untuk memompa prasangka tanpa henti. Di tengah zaman yang makin bising dan riuh rendah ini, rupanya menjaga agar pikiran tetap waras jauh lebih mulia daripada berkeras hati ingin jadi orang pertama yang menyebarkan kabar paling keras.
Sebab tidak semua deg-degan itu tanda penyakit. Kadang-kadang, itu cuma akibat dari kebiasaan bangsa kita yang terlalu kreatif: senang sekali menghubungkan segala hal, sampai-sampai denyut jantung orang yang sedang berobat pun ingin diberi tafsir politik. Redaksi