Ia hafal tanggal ulang tahunku, nama anakku, makanan kesukaanku, bahkan keluhan kecil tentang suamiku.
DMNETWORK – Namaku bukan Shinta. Itu hanya nama samaran yang kupilih agar anak-anakku tidak menanggung malu yang sama. Aku tinggal di Bogor, di sebuah rumah yang dulu terasa hangat. Sekarang, setiap sudut rumah itu seperti menyimpan gema suara asing yang pernah menemaniku siang dan malam.
Semua bermula dari sebuah pesan singkat di media sosial.
“Hallo, saya ingin belajar bahasa Indonesia. Boleh berteman?”
Foto profilnya laki-laki muda berwajah Asia Timur. Senyumnya rapi, pakaiannya sederhana, dan bahasa Indonesianya terbata-bata. Aku mengira itu percakapan biasa. Tidak ada niat mencari pasangan baru. Aku masih menikah, punya keluarga, dan hidupku terlihat baik-baik saja dari luar.
Namun percakapan itu tidak pernah berhenti.
Pagi hari ia mengucapkan selamat pagi. Siang menanyakan aku sudah makan atau belum. Sore mengirim foto kopi dan hujan. Malam menelepon sebelum tidur. Lama-lama bukan lagi pesan singkat, melainkan video call berjam-jam. Kadang aku sedang memasak, ia tetap menemani. Kadang aku bangun tengah malam, ia masih mengirim pesan.
Rasanya seperti minum obat yang harus diminum terus-menerus. Bedanya, ini bukan tiga kali sehari. Ini dua puluh empat jam.
Nomor teleponnya berganti-ganti. Pernah memakai kode negara Jerman, lalu Inggris, lalu nomor lain yang katanya dari Pakistan karena sedang bekerja di sana. Setiap kali aku bertanya, jawabannya selalu masuk akal. Ia mengaku bekerja di perusahaan internasional dan sering berpindah negara.
Aku tidak sadar sedang dibangun sebuah dunia baru.
Ia hafal tanggal ulang tahunku, nama anakku, makanan kesukaanku, bahkan keluhan kecil tentang suamiku. Ketika aku bercerita sedang lelah, ia berkata, “Kamu pantas diperlakukan lebih baik.” Kalimat sederhana itu masuk lebih dalam daripada yang kusadari.
Suamiku mulai curiga. Aku lebih sering menatap layar ponsel daripada wajahnya. Makan malam menjadi sunyi. Aku mudah marah jika ia menanyakan dengan siapa aku berbicara. Pertengkaran kecil berubah menjadi pertengkaran besar.
Suatu malam ia merebut ponselku. Aku panik seperti orang kehilangan napas. Kami saling berteriak. Anak-anak menangis. Saat itu aku masih merasa akulah yang disakiti.
Sekarang aku tahu, rumah tanggaku mulai retak sejak aku memberikan seluruh perhatianku kepada orang yang bahkan belum pernah kutemui.
Beberapa bulan kemudian ia mulai bercerita tentang investasi. Katanya ada peluang aman dengan keuntungan tinggi. Awalnya aku menolak. Ia tidak memaksa. Ia justru berkata, “Aku hanya ingin masa depan kita baik.”
Kata “kita” itulah jeratnya.
Aku mencoba dengan jumlah kecil. Keuntungannya terlihat masuk ke aplikasi. Aku senang dan percaya. Lalu aku menambah uang. Tabungan pendidikan anak kugunakan sebagian. Perhiasan kujual diam-diam. Ketika uangku habis, aku meminjam atas nama pribadi.
Setiap kali ragu, ia menelepon. Suaranya lembut, sabar, meyakinkan. “Percayalah padaku.”
Aku percaya.
Sampai suatu pagi semua akun tidak bisa dibuka.
Pesan terkirim hanya centang satu. Video call tidak pernah dijawab. Foto profil hilang. Nomor telepon tidak aktif. Dunia yang selama berbulan-bulan terasa nyata mendadak lenyap seperti kabut.
Aku duduk di lantai kamar sambil memegang ponsel yang dingin. Saat itulah aku benar-benar sadar: aku tidak sedang jatuh cinta. Aku sedang ditipu.
Kerugianku tidak sampai miliaran rupiah seperti yang sering diberitakan, tetapi cukup untuk menghancurkan ketenangan keluargaku. Suamiku merasa dikhianati. Kami sempat hidup terpisah beberapa bulan. Pertengkaran kami pernah begitu keras hingga hampir berujung kekerasan fisik. Aku bersyukur masih ada keluarga yang menahan kami.
Yang paling berat bukan kehilangan uang.
Yang paling berat adalah rasa malu.
Aku lulusan perguruan tinggi. Aku pernah mengelola usaha kecil. Aku terbiasa membaca berita dan merasa cukup hati-hati. Ternyata penipu tidak mencari orang bodoh. Mereka mencari orang yang sedang kesepian, merasa kurang didengar, atau haus perhatian.
Aku menulis kisah ini bukan untuk meminta belas kasihan.
Aku menulis karena aku tahu masih banyak perempuan dan laki-laki yang sedang menerima pesan serupa sekarang juga. Mungkin ada yang mengaku tentara, dokter, pengusaha, duda, janda, guru bahasa, atau investor sukses. Mungkin wajahnya tampan atau cantik. Mungkin logatnya meyakinkan.
Tolong ingat satu hal: cinta yang sehat tidak meminta kita menjauh dari keluarga, merahasiakan percakapan, menjual harta, atau mengirim uang kepada orang yang belum pernah kita temui.
Jika seseorang ingin hadir dalam hidupmu selama dua puluh empat jam sehari hingga membuatmu lupa pada orang-orang di sekitarmu, berhentilah sejenak. Letakkan ponselmu. Tatap rumahmu. Dengarkan suara anak-anakmu. Bicaralah dengan pasanganmu atau sahabatmu.
Aku terlambat menyadarinya.
Namaku memang bukan Shinta, tetapi kisah ini nyata terjadi pada banyak orang. Dan setiap kali mendengar istilah love scamming di berita, aku tidak lagi membayangkan angka statistik.
Aku membayangkan seorang perempuan di Bogor yang pernah percaya bahwa ada seseorang di seberang layar yang benar-benar mencintainya.
Aris Munandar: petani yang suka menulis