Aksi Damai di GBK, Tani Merdeka Ser

6 Min Read
Aksi damai dukung Pemerintahan Prabowo (foto: Matta)

JAKARTA, DMNETWORK – Kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, dipenuhi massa aksi damai pada Jumat (14/8/2026). Ribuan petani, pedagang, nelayan, serta sejumlah elemen masyarakat berkumpul di depan Gedung TVRI untuk menyampaikan dukungan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Aksi tersebut berlangsung bersamaan dengan agenda kenegaraan Presiden Prabowo di Kompleks Parlemen, Senayan, yakni Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR dan DPD RI.

Salah satu kelompok yang tampak menonjol dalam aksi tersebut adalah Tani Merdeka Indonesia. Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia Don Muzakir turut menyampaikan orasi di hadapan massa.

- Iklan -
Ad imageAd image

Sekitar 10.000 peserta disebut mengikuti aksi tersebut. Namun, angka tersebut merupakan angka yang diberitakan oleh penyelenggara dan sejumlah media, sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai hasil penghitungan independen.

Peserta membawa sejumlah spanduk dengan pesan dukungan terhadap pemerintahan Prabowo. Salah satu slogan yang terlihat adalah “Jaga Prabowo, Jaga Indonesia”.

Ada pula seruan agar pemerintah memberantas mafia anggaran dan oligarki.

Aksi berlangsung sekitar tiga jam. Massa bertahan hingga Presiden Prabowo keluar dari Kompleks Parlemen.

Saat kendaraan yang membawa Presiden melintas di kawasan tersebut, Prabowo menyapa massa dengan melambaikan tangan. Momen itu disambut antusias peserta aksi.

- Iklan -
Ad image

Namun, aksi tersebut tidak hanya berisi pernyataan dukungan politik.

Dalam orasinya, Don Muzakir mengatakan dukungan terhadap pemerintahan tidak boleh dimaknai sebagai pemberian cek kosong kepada pemerintah.

Menurut Don, masyarakat tetap memiliki hak untuk mengkritik kebijakan pemerintah apabila terdapat program yang belum berjalan dengan baik.

“Dukungan kami bukan cek kosong,” kata Don dalam orasinya.

Ia mengatakan program pemerintah yang dinilai berpihak kepada rakyat harus dikawal agar berjalan sampai tuntas. Sebaliknya, program yang masih memiliki kekurangan harus diperbaiki dan kebijakan yang menyimpang harus ditindak.

Sikap tersebut, menurut Don, penting agar dukungan masyarakat terhadap pemerintah tidak berubah menjadi pembenaran terhadap seluruh kebijakan.

Di tengah maraknya kritik terhadap pemerintah, Don juga meminta masyarakat membedakan kritik dengan informasi palsu.

Menurut dia, kritik berbasis data merupakan bagian dari demokrasi. Namun, fitnah, disinformasi, provokasi, kekerasan, dan upaya memecah belah bangsa harus ditolak.

Pesan tersebut menjadi salah satu garis besar aksi.

Dukungan kepada Prabowo, menurut kelompok massa tersebut, diarahkan terutama pada program-program pemerintah yang dianggap menyentuh kehidupan masyarakat bawah.

Sektor pangan menjadi salah satu perhatian utama.

Bagi kelompok petani, program ketahanan pangan dan swasembada pangan bukan sekadar agenda pemerintah. Kebijakan tersebut berkaitan langsung dengan kehidupan petani dan ketersediaan pangan nasional.

Don mengatakan pembangunan sektor pangan harus diikuti dengan kebijakan yang memberikan manfaat kepada petani.

Akses pupuk, irigasi, mekanisasi pertanian, harga hasil panen, hingga perlindungan terhadap petani menjadi bagian dari persoalan yang harus dikawal.

“Pangan adalah kedaulatan,” ujar Don.

Selain pangan, program Makan Bergizi Gratis atau MBG juga menjadi perhatian.

Bagi massa pendukung pemerintah, MBG dipandang bukan semata program pemenuhan gizi anak. Program tersebut juga dinilai memiliki potensi menjadi pasar bagi hasil pertanian, peternakan, perikanan, pedagang pasar, dan pelaku UMKM.

Karena itu, pelaksanaan MBG diminta tetap diawasi.

Pengadaan bahan makanan, kualitas makanan, distribusi, hingga penggunaan anggaran harus dilakukan secara transparan dan tepat sasaran.

Sikap tersebut menarik karena dukungan terhadap pemerintah disandingkan dengan tuntutan pengawasan.

Pemerintah didukung, tetapi pada saat yang sama diminta bekerja lebih baik.

Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih juga menjadi bagian dari perhatian massa.

Koperasi diharapkan tidak hanya berhenti sebagai lembaga administratif di tingkat desa. Koperasi diharapkan menjadi bagian dari rantai ekonomi masyarakat, termasuk membantu distribusi kebutuhan pokok, memperpendek rantai pasok, memperkuat UMKM, dan meningkatkan posisi tawar masyarakat desa.

Nasib nelayan juga disebut dalam tuntutan aksi.

Kampung Nelayan Merah Putih dinilai perlu dikembangkan dengan memperhatikan kebutuhan nyata masyarakat pesisir. Infrastruktur saja tidak cukup apabila nelayan tetap kesulitan memperoleh sarana produksi, pasar, pengolahan hasil tangkapan, dan perlindungan usaha.

Pendidikan menjadi isu lainnya.

Kelompok massa menginginkan anak-anak dari keluarga petani, nelayan, buruh, dan pedagang memperoleh kesempatan pendidikan yang setara.

Dalam konteks tersebut, dukungan terhadap pemerintah tidak hanya diarahkan kepada figur Presiden Prabowo.

Dukungan juga diarahkan kepada program yang dianggap dapat memperkuat ekonomi rakyat.

Di sinilah slogan “Jaga Prabowo, Jaga Indonesia” memperoleh maknanya.

Bagi peserta aksi, menjaga Presiden bukan sekadar menjaga seorang figur politik. Menjaga Prabowo diposisikan sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan program pemerintah yang dianggap berpihak kepada masyarakat.

Namun, demokrasi tetap menyediakan ruang bagi kritik.

Don menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh kehilangan sikap kritis hanya karena mendukung pemerintah.

Jika ada program yang kurang, program tersebut harus diperbaiki.

Jika terdapat penyimpangan, harus ditindak.

Jika ditemukan korupsi, harus diproses sesuai hukum.

Sikap tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa dukungan politik tidak harus identik dengan sikap diam.

Aksi di GBK pada Jumat itu kemudian menjadi salah satu gambaran lain dari dinamika politik Indonesia.

Di tengah kritik dan demonstrasi terhadap pemerintah, terdapat pula kelompok masyarakat yang turun ke jalan untuk menyatakan dukungan.

Keduanya merupakan bagian dari demokrasi.

Perbedaan sikap politik tidak semestinya berakhir pada perpecahan.

Setelah Presiden Prabowo menyapa massa dari kendaraan yang ditumpanginya, peserta aksi kemudian membubarkan diri secara bertahap.

Bagi Tani Merdeka Indonesia dan kelompok peserta lainnya, aksi tersebut menjadi bentuk dukungan sekaligus pengingat kepada pemerintah.

Program yang baik harus dilanjutkan.

Program yang belum sempurna harus diperbaiki.

Sementara penyimpangan harus dihentikan.

Dengan pesan itu, slogan yang dibawa massa di depan Gedung TVRI bukan hanya berbunyi “Jaga Prabowo, Jaga Indonesia”.

Ada pesan lain yang tersirat: menjaga pemerintahan juga berarti memastikan kebijakan negara benar-benar sampai kepada rakyat. (Rist)

Share This Article
error: Content is protected !!