Kalau Otto Sukatno membawa kita ke lingkungan pangeran, Linus Suryadi AG justru membawa kita kepada seorang perempuan bernama Maria Magdalena Pariyem.
DARMEDIANETWORK – Ada sesuatu yang menarik dari cara orang Jawa menyembunyikan seks.
Ia tidak selalu disembunyikan dengan cara menutup mulut.
Kadang ia disembunyikan di dalam tembang. Kadang di balik simbol. Kadang diselipkan dalam cerita wayang. Kadang menjadi bagian dari petuah perkawinan. Kadang masuk ke dalam serat, mantra, rajah, doa, primbon dan berbagai pengetahuan tentang tubuh.
Seks tidak hilang.
Ia hanya berganti pakaian.
Mungkin karena itu, membaca buku Otto Sukatno CR, Seks Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Penikmatan Hidup Jawa, kemudian membacanya berdampingan dengan Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG, terasa seperti membuka dua pintu menuju rumah Jawa yang sama.
Pintu pertama dibuka dari kamar para pangeran.
Pintu kedua dibuka dari dapur seorang babu.
Yang satu berbicara tentang kekuasaan.
Yang lain berbicara tentang pengalaman hidup.
Di antara keduanya ada tubuh manusia.
Dan tubuh itu ternyata tidak pernah benar-benar sederhana.
Seks yang menjadi kebudayaan
Seks Para Pangeran bukan buku tentang seks dalam pengertian sempit.
Katalog UPA Perpustakaan ISI Yogyakarta mencatat buku Otto Sukatno itu membentangkan persoalan dari teologi dan filsafat sampai praktik, termasuk metode, kiat, resep, rajah, doa, mantra dan pengetahuan tentang panjang umur. Edisi Araska terbit pada 2015, sementara edisi pertamanya diterbitkan Bentang Budaya pada 2002.
Dengan demikian, seks dalam buku tersebut lebih tepat dibaca sebagai bagian dari sebuah sistem kebudayaan.
Tubuh tidak hanya dipakai untuk memperoleh keturunan.
Tubuh juga diberi aturan.
Diberi simbol.
Diberi pantangan.
Diberi doa.
Bahkan diberi pengetahuan tentang bagaimana kenikmatan harus dicapai dan bagaimana kehidupan seharusnya dijalani.
Di sini seks bertemu dengan kebudayaan.
Dan ketika seks bertemu dengan kekuasaan, persoalannya menjadi lebih rumit.
Sebab seorang raja tidak hidup seperti orang biasa.
Ia mempunyai tubuh yang sekaligus menjadi simbol kerajaan.
Perempuan yang berada di sekitar kekuasaan juga tidak selalu hadir hanya sebagai individu.
Perkawinan bisa menjadi hubungan politik.
Keturunan bisa menjadi persoalan legitimasi.
Hubungan laki-laki dan perempuan dapat menjadi bagian dari susunan kekuasaan.
Maka ranjang kerajaan bukan lagi sekadar ranjang.
Ia dapat menjadi salah satu ruang tempat kekuasaan bekerja.
Lalu datanglah Pariyem
Kalau Otto Sukatno membawa kita ke lingkungan pangeran, Linus Suryadi AG justru membawa kita kepada seorang perempuan bernama Maria Magdalena Pariyem.
Pariyem adalah perempuan dari Wonosari, Gunungkidul, yang bekerja sebagai babu di lingkungan keluarga bangsawan Yogyakarta.
Pengakuan Pariyem pertama kali terbit pada 1981 sebagai prosa liris. Badan Bahasa menyebut karya itu sebagai deskripsi kebudayaan tradisi dan menempatkannya sebagai karya penting Linus Suryadi AG. Perpustakaan Jakarta juga mencatat karya tersebut sebagai prosa liris, bukan novel dalam pengertian konvensional.
Tetapi menyebut Pengakuan Pariyem hanya sebagai kisah seorang babu akan membuat kita kehilangan banyak hal.
Pariyem adalah pintu masuk.
Dari tubuh Pariyem, Linus masuk ke dalam rumah Jawa.
Dari rumah itu ia masuk ke keluarga priyayi.
Dari keluarga priyayi ia masuk ke soal kebangsawanan.
Dari kebangsawanan ia masuk ke agama, dosa, doa, seks, wayang, falsafah hidup dan hubungan manusia dengan nasib.
Perpustakaan Jakarta bahkan menggambarkan karya itu sebagai pembentangan kebudayaan Jawa dari doa sampai dosa, dari falsafah hidup sampai seks, dari wayang sampai sikap kebangsawanan. Yang menarik, seks dihadirkan secara terbuka tetapi tidak dijadikan pornografi.
Di situlah kecerdasan Linus.
Ia tidak menjadikan seks sebagai tontonan.
Ia menjadikan seks sebagai pengakuan.
Pariyem dan tubuh yang berbicara
Ada sesuatu yang sangat penting dalam judul Pengakuan Pariyem.
Yang berbicara adalah perempuan.
Bukan raja.
Bukan pangeran.
Bukan bangsawan laki-laki.
Bukan guru agama.
Bukan pujangga istana.
Pariyem.
Seorang perempuan kelas bawah.
Tetapi justru dari mulut perempuan seperti itulah pembaca diajak memasuki ruang yang biasanya dikuasai laki-laki.
Ia bercerita tentang tubuhnya.
Tentang pengalaman seksualnya.
Tentang pekerjaannya.
Tentang hubungannya dengan keluarga priyayi.
Tentang bagaimana ia memahami kehidupan.
Dengan cara itu Linus melakukan sesuatu yang menarik: seksualitas tidak lagi hanya menjadi objek pembicaraan, tetapi menjadi bagian dari suara seorang perempuan.
Namun di sinilah kita harus berhenti sejenak.
Karena suara Pariyem tidak otomatis berarti suara perempuan Jawa telah benar-benar bebas.
Penelitian akademik yang lebih baru justru menemukan persoalan sebaliknya. Disertasi UGM mengenai ideologi maskulin dalam Pengakuan Pariyem menyimpulkan bahwa karya itu dapat dibaca sebagai reproduksi ideologi maskulin melalui hubungan priayi dan wong cilik, relasi sosial, relasi seksual serta konstruksi tubuh perempuan. Pariyem digambarkan sebagai perempuan kelas bawah yang tubuh dan sikapnya juga dibentuk oleh struktur dominan.
Ini menarik.
Sangat menarik.
Karena sebuah karya bisa membuat perempuan berbicara, tetapi sekaligus masih memperlihatkan bagaimana dunia tempat perempuan itu hidup membentuk cara ia berbicara.
Suara itu ada.
Tetapi kuasa yang membentuk suara itu juga ada.
Dari pangeran ke babu
Di sinilah Seks Para Pangeran dan Pengakuan Pariyem bertemu.
Otto Sukatno bertanya tentang seksualitas dari wilayah kekuasaan.
Linus bertanya tentang kehidupan dari wilayah pengalaman.
Sukatno memperlihatkan tubuh yang berada di dekat istana.
Linus memperlihatkan tubuh yang bekerja di dalam rumah priyayi.
Yang satu melihat dari atas.
Yang lain berbicara dari bawah.
Tetapi keduanya menemukan sesuatu yang sama:
seksualitas Jawa tidak dapat dilepaskan dari struktur sosial.
Tidak ada tubuh yang sepenuhnya sendirian.
Tubuh membawa kelas.
Membawa status.
Membawa agama.
Membawa adat.
Membawa keluarga.
Membawa nama baik.
Bahkan membawa nasib.
Seorang pangeran tidak hanya menjadi laki-laki.
Ia adalah pangeran.
Seorang babu tidak hanya menjadi perempuan.
Ia adalah wong cilik.
Karena itu, ketika keduanya berbicara tentang seks, yang sedang dibicarakan sesungguhnya bukan hanya hubungan dua tubuh.
Yang sedang dibicarakan adalah hubungan dua dunia.
Jawa tidak tabu terhadap seks
Ada anggapan populer bahwa orang Jawa itu sangat tabu berbicara tentang seks.
Saya kira anggapan itu perlu diperiksa kembali.
Mungkin orang Jawa bukan tidak membicarakan seks.
Mereka hanya mempunyai cara sendiri untuk membicarakannya.
Serat Centhini adalah salah satu contohnya.
Seks dapat masuk ke dalam tembang.
Masuk ke dalam sastra.
Masuk ke dalam petuah.
Masuk ke dalam pengetahuan tentang perkawinan.
Masuk ke dalam pembicaraan tentang keturunan.
Bahkan masuk ke dalam pengetahuan tentang bagaimana manusia merawat tubuh dan menikmati kehidupan.
Yang dianggap tabu bukan selalu persoalan seksnya.
Yang sering menjadi tabu adalah cara mengatakannya.
Maka bahasa menjadi penting.
Bahasa Jawa mempunyai tingkat tutur.
Ada ngoko.
Ada krama.
Ada bahasa kasar.
Ada bahasa halus.
Ada bahasa simbolik.
Ada bahasa yang hanya dimengerti orang tertentu.
Seks pun memiliki tingkat tuturnya sendiri.
Ia bisa dikatakan secara terang.
Bisa pula disamarkan menjadi tembang.
Bisa dibuat menjadi humor.
Bisa disembunyikan di balik simbol.
Dan bisa juga dibungkus menjadi falsafah.
Tetapi di mana posisi perempuan?
Di sinilah membaca kedua buku tersebut dengan mata zaman sekarang menjadi penting.
Kita tidak boleh berhenti pada kekaguman terhadap “kearifan Jawa”.
Sebab kebudayaan selalu mempunyai dua sisi.
Ia bisa menjadi rumah.
Tetapi rumah juga bisa mempunyai pintu yang hanya boleh dibuka oleh orang tertentu.
Dalam sistem kebangsawanan, siapa yang memiliki tubuh?
Siapa yang menentukan perkawinan?
Siapa yang boleh memiliki pasangan?
Siapa yang harus patuh?
Siapa yang menanggung akibat dari hubungan seksual?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita dari kebudayaan menuju politik.
Dan dari politik menuju gender.
Pariyem menjadi menarik justru karena ia berada di persimpangan itu.
Ia perempuan.
Ia wong cilik.
Ia bekerja untuk priyayi.
Ia mengalami seksualitas.
Ia memiliki pandangan hidup.
Ia menerima sebagian nilai Jawa.
Tetapi pada saat yang sama, tubuhnya berada dalam struktur sosial yang tidak ia ciptakan sendiri.
Penelitian tentang Pengakuan Pariyem juga menunjukkan betapa kuatnya sistem sosial dan nilai Jawa yang bekerja di dalam karya itu. Kajian hermeneutik UNY menemukan bahwa karya Linus memuat sistem ide dan sistem sosial yang menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa melalui tokoh Pariyem.
Jadi Pariyem bukan hanya tokoh.
Ia adalah semacam kaca.
Dan di kaca itu kita melihat Jawa.
Kadang wajahnya indah.
Kadang retak.
Kenikmatan hidup dan dosa
Ada ironi yang menarik.
Judul Sukatno memakai kata hedonisme.
Linus memakai kata pengakuan.
Yang satu bicara tentang kenikmatan.
Yang lain berbicara tentang dosa dan kehidupan batin.
Tetapi keduanya sebenarnya berkeliling pada pertanyaan yang sama:
Bagaimana manusia menikmati hidup tanpa kehilangan makna hidup?
Dalam kebudayaan Jawa, kenikmatan tidak selalu dipandang sebagai musuh spiritualitas.
Makan bisa menjadi bagian dari upacara.
Seks bisa menjadi bagian dari perkawinan.
Kelahiran menjadi bagian dari siklus kehidupan.
Kematian menjadi bagian dari kosmologi.
Kenikmatan hidup berada di antara tubuh dan batin.
Persoalannya kemudian bukan:
boleh atau tidak boleh menikmati?
Tetapi:
bagaimana menikmati kehidupan dengan kesadaran terhadap akibatnya?
Di sini Jawa menjadi tidak sesederhana gambaran tentang masyarakat yang hanya nrima.
Ada keinginan.
Ada nafsu.
Ada kenikmatan.
Ada ambisi.
Ada kekuasaan.
Tetapi semua itu kemudian diberi tata.
Diberi aturan.
Diberi simbol.
Diberi rasa malu.
Diberi unggah-ungguh.
Diberi konsekuensi sosial.
Ranjang sebagai cermin masyarakat
Barangkali itulah sebabnya seks menjadi penting dalam membaca kebudayaan.
Karena di ranjang, manusia sering kehilangan jabatan.
Raja tetap raja, tetapi tubuhnya tetap tubuh.
Pangeran tetap pangeran, tetapi ia tetap mempunyai hasrat.
Babu tetap babu, tetapi ia juga memiliki tubuh, keinginan dan pengalaman.
Namun masyarakat tidak pernah membiarkan tubuh benar-benar bebas.
Status sosial masuk ke kamar.
Agama masuk ke kamar.
Keluarga masuk ke kamar.
Adat masuk ke kamar.
Bahkan negara pada akhirnya masuk ke kamar.
Maka ranjang menjadi cermin masyarakat.
Apa yang berlaku di luar tubuh sering kali berlaku pula di dalam tubuh.
Yang berkuasa di luar dapat memiliki kuasa di dalam.
Yang subordinat di luar dapat tetap menjadi subordinat di dalam.
Dan karena itulah seks sebenarnya tidak pernah sesederhana seks.
Dua buku, satu pertanyaan
Otto Sukatno dan Linus Suryadi AG tidak sedang menulis buku yang sama.
Yang satu kajian budaya.
Yang satu karya sastra.
Yang satu membedah tradisi dan ritualisasi seksualitas.
Yang satu membuat seorang perempuan Jawa berbicara tentang kehidupan.
Tetapi keduanya bertemu pada satu pertanyaan besar:
Bagaimana manusia Jawa memahami tubuhnya sendiri?
Sukatno melihat tubuh dalam hubungan dengan tradisi, ritual dan kekuasaan.
Linus melihat tubuh melalui pengalaman Pariyem.
Sukatno masuk melalui pangeran.
Linus masuk melalui babu.
Sukatno melihat istana.
Linus melihat rumah priyayi.
Namun akhirnya keduanya sampai pada ruang yang sama:
manusia yang ingin menikmati hidup, tetapi hidupnya tidak pernah berada di luar kebudayaan.
Mungkin inilah yang membuat kedua karya tersebut masih layak dibaca.
Bukan untuk mencari pembenaran bahwa orang Jawa dahulu lebih bebas atau lebih tertutup dalam urusan seks.
Bukan pula untuk mencari “resep seks Jawa”.
Lebih penting dari itu, kedua karya tersebut mengajak kita melihat bahwa tubuh manusia selalu mempunyai sejarah.
Tubuh mempunyai kelas.
Tubuh mempunyai adat.
Tubuh mempunyai agama.
Tubuh mempunyai kekuasaan.
Dan tubuh mempunyai ingatan.
Pada akhirnya, siapa yang memiliki tubuh kita?
Pertanyaan itu mungkin terdengar terlalu modern.
Tetapi justru di situlah kedua karya lama tersebut menjadi relevan.
Ketika Otto Sukatno membicarakan pangeran, kita bertanya tentang kekuasaan.
Ketika Linus menghadirkan Pariyem, kita bertanya tentang suara perempuan.
Ketika keduanya berbicara tentang seks, kita akhirnya sampai pada pertanyaan yang jauh lebih besar:
Siapa yang berhak menentukan makna tubuh manusia?
Keraton?
Keluarga?
Agama?
Tradisi?
Laki-laki?
Perempuan itu sendiri?
Atau masyarakat?
Barangkali kebudayaan Jawa tidak pernah benar-benar menyelesaikan pertanyaan tersebut.
Ia hanya terus memindahkannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kadang menjadi serat.
Kadang menjadi tembang.
Kadang menjadi mantra.
Kadang menjadi cerita seorang pangeran.
Dan pada suatu hari, menjadi pengakuan seorang perempuan bernama Pariyem.
Maka seks dalam kebudayaan Jawa bukan hanya perkara bagaimana dua manusia bertemu dalam gelap.
Ia adalah cerita panjang tentang tubuh, kuasa, kenikmatan, kelas, dosa, kesetiaan, keturunan dan cara manusia berdamai dengan dirinya sendiri.
Dan mungkin karena itulah orang Jawa tidak pernah benar-benar diam mengenai seks.
Mereka hanya terlalu lama membicarakannya dengan bahasa yang tidak selalu kita dengar.
Aris Munandar, petani tinggal di Magelang