Andrea Bocelli datang membawa bahasa musik yang tidak memerlukan penerjemah
Ada sesuatu yang menarik dari konser Andrea Bocelli di kawasan Candi Borobudur, Magelang, 31 Oktober 2026. Bukan semata-mata karena seorang penyanyi tenor kelas dunia tampil di salah satu warisan peradaban terbesar Indonesia. Bukan pula hanya karena ribuan orang datang untuk menikmati suara yang selama ini lebih akrab didengar melalui rekaman.
Yang menarik justru sesuatu yang terjadi sebelum musik dimainkan.
Konser itu didahului kontroversi. Sejumlah kelompok Islam, termasuk Majelis Ulama Indonesia, menyampaikan keberatan atas kehadiran Bocelli. Persoalannya bukan pada musik opera, bukan pula pada suara sang penyanyi. Yang dipersoalkan adalah rekam jejak keterlibatannya dalam kegiatan yang dikaitkan dengan Friends of the Israel Defense Forces pada 2010 serta penampilannya di Tel Aviv pada 2022.
Di tengah penderitaan rakyat Palestina, persoalan semacam itu tentu bukan perkara kecil bagi mereka yang menjadikan solidaritas kemanusiaan sebagai sikap moral.
Namun, konser tetap berlangsung.
Di sinilah Borobudur menjadi lebih dari sekadar latar belakang sebuah pertunjukan. Ia seperti menyediakan ruang untuk menguji bagaimana masyarakat menghadapi perbedaan. Di satu sisi ada kebebasan berkesenian. Di sisi lain ada kebebasan menyampaikan keberatan. Keduanya bertemu dalam satu peristiwa, tanpa harus saling menghapus keberadaan masing-masing.
Kita mungkin terlalu sering menganggap kebudayaan sebagai sesuatu yang selalu indah, teduh, dan jauh dari pertentangan. Padahal, kebudayaan justru tumbuh dari perjumpaan berbagai pandangan. Ada yang menerima, ada yang menolak. Ada yang menikmati musik, ada yang memilih menyampaikan protes.
Semua itu merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang hidup.
Musik tidak mengenal paspor
Andrea Bocelli datang membawa bahasa musik yang tidak memerlukan penerjemah. Seorang penonton mungkin tidak memahami seluruh lirik lagu yang dinyanyikannya. Tetapi ia bisa memahami kesedihan, kegembiraan, kerinduan, atau harapan yang mengalir melalui nada.
Barangkali itulah salah satu keistimewaan seni. Ia dapat melampaui batas bahasa, bangsa, bahkan agama.
Orang Islam bisa menikmati musik klasik yang dibawakan seorang penyanyi Katolik. Orang Kristen bisa mengagumi gamelan Jawa. Seorang wisatawan dari Eropa bisa terpesona oleh wayang kulit, sementara seorang petani di desa dapat menemukan keindahan dalam musik yang berasal dari belahan dunia lain.
Seni tidak selalu meminta kita menjadi sama untuk bisa menikmatinya.
Tetapi, apakah karena seni bersifat universal, seorang seniman kemudian terbebas dari pertanyaan mengenai sikap kemanusiaannya?
Tentu tidak.
Seorang seniman tetap manusia yang hidup dalam sejarah, memiliki pilihan, pergaulan, dan rekam jejak. Karya seninya boleh dinikmati, tetapi tindakan dan sikap publiknya tetap dapat dipertanyakan. Mengagumi suara Bocelli tidak berarti harus menyetujui seluruh hal yang pernah berkaitan dengannya.
Sebaliknya, mengkritik rekam jejak seorang seniman juga tidak serta-merta menghapus nilai artistik karya-karyanya.
Kita perlu membedakan keduanya. Sebab, ketika semua persoalan dicampuradukkan, kebudayaan justru kehilangan ruang untuk berdialog.
Palestina bukan sekadar persoalan politik
Keberatan terhadap konser Bocelli tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa Palestina bukan sekadar isu politik internasional. Di sana ada manusia yang kehilangan rumah, anak-anak yang kehilangan masa kecil, keluarga yang tercerai-berai, serta masyarakat yang hidup di bawah ancaman perang.
Karena itu, solidaritas terhadap Palestina tidak selayaknya dianggap sebagai gangguan terhadap sebuah acara hiburan.
Mereka yang menyuarakan keberatan memiliki hak untuk mengemukakan alasan moralnya. Apalagi ketika persoalan yang dibawa menyangkut penderitaan manusia.
Namun, solidaritas kemanusiaan juga perlu dijaga agar tidak berubah menjadi kebencian terhadap orang yang berbeda pandangan. Protes dapat disampaikan tanpa merendahkan martabat orang lain. Kritik dapat dilakukan tanpa menghilangkan hak seseorang untuk berkesenian.
Di sinilah kedewasaan masyarakat diuji.
Kita tidak perlu memilih antara menjadi manusia yang mencintai seni atau manusia yang peduli terhadap Palestina. Kedua sikap itu tidak harus saling meniadakan.
Justru seni seharusnya membuat manusia semakin peka terhadap penderitaan manusia lainnya.
Borobudur dan ingatan tentang peradaban
Ada ironi yang menarik ketika kontroversi itu berlangsung di Borobudur.
Candi yang dibangun berabad-abad silam tersebut merupakan peninggalan peradaban Buddha. Ia berdiri di tengah masyarakat Indonesia yang sangat beragam, dengan berbagai keyakinan dan tradisi yang hidup berdampingan.
Borobudur bukan hanya susunan batu yang dikagumi wisatawan. Ia menyimpan pengetahuan, filosofi, perjalanan spiritual, dan ingatan panjang tentang kemampuan manusia membangun peradaban.
Karena itu, menjadikan Borobudur sebagai tempat pertunjukan musik internasional sesungguhnya membawa tanggung jawab lebih besar daripada sekadar menyelenggarakan konser.
Warisan budaya tidak boleh diperlakukan hanya sebagai komoditas pariwisata. Ia harus dihormati sebagai ruang sejarah dan kebudayaan yang memiliki makna bagi bangsa.
Keberhasilan sebuah konser tidak cukup diukur dari jumlah penonton, kemegahan panggung, atau popularitas penyanyinya. Harus ada pertanyaan lain: apakah masyarakat sekitar memperoleh manfaat? Apakah seniman lokal mendapat ruang? Apakah penyelenggaraan tetap menjaga kelestarian kawasan? Apakah Borobudur semakin dikenal sebagai pusat perjumpaan kebudayaan, bukan sekadar tempat yang sesekali dipakai untuk pertunjukan mahal?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting, sebab kebudayaan bukan hanya milik mereka yang mampu membeli tiket.
Ketika musik berhenti, apa yang tersisa?
Konser akhirnya selesai. Lampu panggung dipadamkan. Penonton pulang membawa pengalaman masing-masing. Barangkali ada yang masih mengingat suara Bocelli, ada yang mengingat kemegahan Borobudur pada malam hari, dan ada pula yang tetap menyimpan keberatan atas kontroversi yang mengiringinya.
Tidak semua orang harus pulang dengan kesimpulan yang sama.
Tetapi, ada sesuatu yang semestinya tidak ikut padam bersama lampu panggung: kepekaan terhadap sesama manusia.
Jika konser itu membawa pesan perdamaian, pesan tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai kalimat indah di atas panggung. Ia perlu menemukan bentuk dalam tindakan nyata. Bantuan kemanusiaan, kepedulian terhadap korban perang, perlindungan anak-anak, dan keberanian menolak kekerasan merupakan ukuran yang lebih konkret daripada sekadar menyanyikan lagu tentang perdamaian.
Begitu pula bagi mereka yang menolak konser. Perjuangan kemanusiaan akan semakin bermakna ketika disampaikan dengan cara yang tetap menghormati kemanusiaan orang lain.
Barangkali inilah pelajaran yang dapat kita bawa pulang dari Borobudur.
Musik boleh berbeda bahasa. Agama boleh berbeda keyakinan. Sikap politik boleh berbeda. Tetapi penderitaan manusia seharusnya tetap dapat mengetuk pintu hati siapa saja.
Di bawah bayang-bayang Borobudur, kita diingatkan bahwa peradaban tidak dibangun hanya dengan keindahan karya seni, tetapi juga dengan kemampuan manusia menghormati manusia lainnya.
Sebab, pada akhirnya, suara yang paling penting bukanlah suara yang paling merdu di atas panggung, melainkan suara hati yang masih mampu mendengar jeritan mereka yang sedang menderita.***
Editor: Aris Munandar