Menyusuri Candirejo, Menikmati Kehidupan Desa Wisata di Kaki Borobudur

3 Min Read
Wisata dokar Candirejo

Candirejo menawarkan pengalaman mengenal kehidupan masyarakat desa.

MAGELANG, DARMEDIANETWORK – Suasana pedesaan, keramahan warga, dan pengalaman menikmati kehidupan masyarakat lokal menjadi daya tarik Desa Wisata Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Desa wisata ini tidak hanya menawarkan pemandangan alam dan suasana tradisional, tetapi juga pengalaman berinteraksi langsung dengan kehidupan masyarakat.

Daya tarik tersebut kembali terlihat ketika sekitar 10 wisatawan asal Jerman berkunjung ke Desa Wisata Candirejo, Kamis (5/11/2026). Mereka tidak sekadar menikmati suasana desa, tetapi juga mencoba sejumlah aktivitas yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Wisatawan diajak menikmati perjalanan menggunakan dokar, mencicipi kuliner lokal, belajar membuat keripik tempe, hingga mengenal kesenian tradisional gamelan.

Pengalaman semacam ini menjadi bagian dari konsep wisata berbasis masyarakat atau community-based tourism. Wisatawan tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi turut merasakan kehidupan dan kebudayaan masyarakat desa.

- Iklan -
Ad imageAd image

Di Candirejo, aktivitas wisata juga melibatkan berbagai kelompok usaha masyarakat. Mulai dari pemilik homestay, kelompok dokar, penyedia katering, kelompok kesenian, hingga pelaku industri rumahan.

Keterlibatan masyarakat tersebut menjadi salah satu fondasi pengembangan desa wisata yang berada tidak jauh dari kawasan Candi Borobudur.

Omzet Rp 2,25 Miliar

Desa Wisata Candirejo juga mencatatkan aktivitas ekonomi yang cukup besar. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melaporkan omzet desa wisata tersebut mencapai Rp 2,25 miliar sepanjang 2025.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pariwisata tidak hanya menghadirkan kunjungan wisatawan, tetapi juga menggerakkan berbagai kegiatan ekonomi masyarakat.

- Iklan -
Ad image

Ketua Koperasi Desa Wisata Candirejo menyebut manfaat kegiatan pariwisata telah menjangkau 15 dusun. Bahkan, sekitar 80 persen masyarakat disebut telah tersentuh manfaatnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Meski demikian, angka omzet tersebut merupakan akumulasi kegiatan ekonomi desa wisata selama satu tahun, bukan pendapatan dari kunjungan wisatawan Jerman. Rincian kontribusi masing-masing unit usaha serta pembagian pendapatan kepada masyarakat belum dijelaskan secara terperinci.

Hal ini menjadi bagian penting dalam melihat sejauh mana pengembangan pariwisata benar-benar memberikan dampak ekonomi bagi warga.

Wisata yang Bertumpu pada Masyarakat

Berbeda dengan wisata yang hanya mengandalkan daya tarik sebuah bangunan atau objek alam, Candirejo menawarkan pengalaman mengenal kehidupan masyarakat desa.

Dokar bukan sekadar kendaraan wisata. Homestay bukan hanya tempat menginap. Kuliner dan kerajinan rumahan juga bukan sekadar pelengkap perjalanan. Semuanya menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus sumber penghidupan warga.

Model pengembangan semacam ini memperlihatkan bahwa potensi wisata desa tidak selalu harus dibangun melalui investasi besar. Pengetahuan lokal, tradisi, keterampilan, dan keterlibatan masyarakat dapat menjadi modal utama.

Bagi wisatawan asing, pengalaman menikmati kehidupan desa memberikan kesempatan untuk mengenal Indonesia dari sisi yang berbeda. Bukan hanya melalui bangunan bersejarah atau panorama alam, tetapi juga melalui interaksi dengan masyarakat yang menjaga tradisi dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Desa Wisata Candirejo menunjukkan bahwa perjalanan wisata bisa menjadi lebih dari sekadar kunjungan. Ia dapat menjadi ruang pertemuan antara kebudayaan, pengalaman, dan kegiatan ekonomi masyarakat setempat.

Editor: Aris Munandar 

Share This Article
error: Content is protected !!