DMNETWORK – Beberapa tahun terakhir saya sering berjumpa petani yang lebih hafal harga pupuk daripada nama menteri. Mereka tahu kapan hujan terlambat datang. Mereka tahu kapan gabah jatuh harga. Mereka juga tahu kapan sapi perah mulai tidak menguntungkan lagi.
Tetapi mereka tidak terlalu peduli siapa kepala badan ini atau kepala badan itu.
Bagi petani, negara biasanya hadir dalam tiga bentuk: pupuk, irigasi, dan harga hasil panen.
Karena itu ketika saya mendengar nama Dadan Hindayana dicopot dari Badan Gizi Nasional, pikiran saya tidak langsung menuju Istana. Pikiran saya justru melayang ke sawah, kandang sapi, dan dapur-dapur rakyat yang setiap hari memasok bahan makanan untuk program makan bergizi.
Di situlah letak menariknya.
Dadan Hindayana bukanlah politikus yang lahir dari gelanggang perebutan kekuasaan. Ia lahir dari dunia ilmu pengetahuan. Dunia yang lebih mengenal perilaku serangga daripada perilaku elite. Dunia yang percaya bahwa setiap persoalan memiliki sebab yang bisa diteliti dan solusi yang bisa diuji.
Pendek kata, beliau datang dari laboratorium.
Republik ini memang negeri yang gemar bereksperimen. Kadang seorang jenderal mengurus pangan. Kadang seorang pengusaha mengurus birokrasi. Kadang seorang akademisi mengurus program yang skalanya melampaui ukuran kampus.
Maka seorang ahli serangga pun suatu hari dipercaya mengurus jutaan piring makan anak Indonesia.
Tidak ada yang aneh.
Yang aneh justru kalau negara berhenti mencoba.
Tetapi negara memiliki watak yang berbeda dengan kampus. Di kampus, kegagalan adalah data. Di pemerintahan, kegagalan adalah berita utama.
Di kampus, kesalahan bisa menjadi bahan penelitian berikutnya. Di pemerintahan, kesalahan bisa menjadi alasan pergantian pejabat.
Karena itu saya tidak terlalu tertarik membahas siapa yang dicopot dan siapa yang diangkat. Pergantian pejabat adalah peristiwa yang selalu datang dan pergi seperti musim.
Yang lebih penting adalah pertanyaan yang lebih tua daripada republik ini sendiri: apakah rakyat mendapatkan manfaatnya?
Program Makan Bergizi Gratis sesungguhnya bukan hanya urusan gizi. Program ini adalah pertemuan antara petani, peternak, nelayan, koperasi, pengusaha pangan, birokrasi, dan anak-anak sekolah.
Di atas kertas, semuanya tampak rapi.
Tetapi kehidupan tidak pernah hidup di atas kertas.
Saya teringat perjuangan panjang petani yang selama bertahun-tahun menginginkan distribusi pupuk lebih sederhana, rantai pasok yang lebih pendek, dan negara yang lebih dekat dengan sawah daripada meja rapat. Ketika pemerintah menaikkan subsidi pupuk dan memperbaiki distribusinya, yang bersorak bukan para analis kebijakan. Yang bersorak adalah petani yang merasa negara akhirnya datang tanpa terlalu banyak formulir.
Program gizi nasional mestinya berjalan dengan logika yang sama.
Semakin dekat kepada rakyat, semakin baik.
Semakin sederhana tata kelolanya, semakin kuat fondasinya.
Karena sesungguhnya makanan bergizi tidak lahir dari ruang rapat. Ia lahir dari tanah yang ditanami petani, dari kandang yang dirawat peternak, dari tangan ibu yang menyiapkan hidangan, dan dari kebijakan yang tidak tersesat di lorong birokrasi.
Maka ketika Dadan Hindayana pergi dari jabatannya, saya tidak melihat kisah seorang pejabat yang berakhir. Saya melihat sebuah pelajaran lama yang kembali datang mengetuk pintu republik.
Bahwa ilmu pengetahuan penting.
Bahwa tata kelola juga penting.
Tetapi yang paling penting adalah kemampuan negara menghubungkan keduanya dengan kebutuhan rakyat sehari-hari.
Sebab pada akhirnya, anak-anak yang menerima makanan bergizi tidak pernah bertanya siapa kepala badan yang menandatangani kebijakan.
Mereka hanya ingin makan yang layak.
Dan sejarah, seperti sawah yang jujur, selalu menilai hasil panen, bukan pidato para pengurus lumbung.
Aris Munandar, seorang petani dan tinggal di Magelang