Empat Kader TMI Komunitas Adat Banokeling Ikuti Diklat di Temanggung, Jalani Tirakat di Tengah Pelatihan

2 Min Read
Empat peserta Diklat TMI Banokeling di Bapeltan Temanggung (foto: Aris)

TEMANGGUNG, DMNETWORK – Dewan Pimpinan Tani Merdeka Indonesia (TMI) Wilayah Khusus Komunitas Adat Banokeling turut ambil bagian dalam Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Tani Merdeka Indonesia Gelombang II yang digelar di Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Jawa Tengah, Pringsurat, Kabupaten Temanggung. Dalam kegiatan tersebut, TMI Banokeling mengirimkan empat kader terbaik untuk mengikuti pelatihan yang berlangsung pada 3 hingga 5 Juli 2026.

Memasuki hari kedua pelaksanaan diklat, Sabtu (4/7/2026), para peserta tetap mengikuti seluruh rangkaian kegiatan meskipun sebagian di antaranya sedang menjalani laku tirakat bertepatan dengan bulan Sura dalam penanggalan Jawa.

Bagi sebagian masyarakat Jawa, bulan Sura dipandang sebagai momentum untuk memperbanyak introspeksi, pengendalian diri, dan laku spiritual. Tradisi tersebut telah berlangsung turun-temurun dan diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti puasa, tirakat, doa, maupun mengurangi kesenangan duniawi.

Di lingkungan Komunitas Adat Banokeling, beberapa peserta diklat menjalani tirakat dengan tidak mengonsumsi makanan yang berasal dari makhluk bernyawa, menghindari makanan berbumbu kuat, serta tidak mengonsumsi garam selama masa tirakat. Meski demikian, mereka tetap mengikuti seluruh materi pelatihan hingga selesai.

- Iklan -
Ad imageAd image

Salah seorang peserta Diklat dari TMI Banokeling, Ritam, mengatakan bahwa mengikuti pendidikan kader justru menjadi bagian dari laku spiritual yang dijalani masyarakat adat Banokeling.

“Bagi kami, diklat ini bukan hanya proses belajar organisasi, tetapi juga bagian dari tirakat. Menahan diri sambil menimba ilmu merupakan cara kami mempersiapkan diri agar ketika kembali ke masyarakat dapat mengabdi dengan lebih baik,” ujar Ritam.

Menurutnya, nilai-nilai yang diajarkan dalam diklat, seperti disiplin, pengabdian, gotong royong, dan kepemimpinan, memiliki keselarasan dengan ajaran hidup yang diwariskan dalam tradisi Banokeling.

Keikutsertaan empat kader dari wilayah adat Banokeling menunjukkan bahwa penguatan organisasi Tani Merdeka Indonesia mampu berjalan berdampingan dengan pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Melalui proses kaderisasi tersebut, TMI berharap lahir kader-kader yang tidak hanya memiliki kemampuan organisasi, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. (Rist)

Share This Article