Ketika Wifi di Rumah Petani Mati

5 Min Read
Saat Wifi di kampungku mati (ilustrasi ai)

DMNETWORK — Sudah tiga hari wifi di rumah Pak Wiryo mati.

Kalau hanya lampu mati, orang kampung masih bisa maklum. Kalau televisi mati, orang kampung masih bisa pindah ke rumah tetangga. Tetapi wifi mati, ternyata urusannya sekarang lebih ruwet daripada pompa air rusak.

Pagi itu Pak Wiryo duduk di gardu depan rumah. Sebatang rokok kretek terselip di bibirnya. Sawah di sebelah timur mulai menguning. Angin dari pematang bergerak pelan membawa bau jerami muda.

Di dalam rumah terdengar suara cucunya.

“Mbah, internetnya sudah hidup belum?”

- Iklan -
Ad imageAd image

Belum lima menit kemudian terdengar lagi.

“Mbah, internetnya kapan hidup?”

Pak Wiryo menghela napas.

“Dulu waktu Mbah seusiamu, yang dicari itu layangan putus. Sekarang yang dicari wifi putus.”

Cucunya tidak menjawab. Ia bahkan tidak mendengar. Anak itu sudah kembali menatap layar telepon genggamnya yang tidak lagi bisa memutar video.

- Iklan -
Ad image

Di rumah Pak Wiryo memang hanya ada satu tiang internet yang masuk ke gang. Tiang itu berdiri dengan gagah seperti lurah kecil yang mengurus lalu lintas kabar dari seluruh dunia.

Ketika kabelnya putus karena tertimpa dahan sengon yang tumbang dua malam lalu, kampung mendadak berubah.

Warung kopi menjadi ramai.

Anak-anak keluar rumah.

Orang-orang mulai saling menyapa.

Pak Wiryo diam-diam memperhatikan perubahan itu.

Kemarin sore, misalnya. Biasanya setelah pulang sekolah, cucunya langsung menghilang ke kamar. Kini anak itu justru ikut membantu memberi makan kambing.

“Mbah, kambing ini kenapa matanya lucu?”

Pertanyaan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah muncul.

Padahal kambing itu setiap hari ada di kandang.

Di seberang rumah, Pak Kromo yang biasanya sibuk menonton video pendek sampai larut malam, kini kembali duduk di pos ronda.

Mereka bermain catur.

Kadang berdebat soal pupuk.

Kadang membicarakan harga gabah.

Kadang hanya diam menikmati suara jangkrik.

“Jangan-jangan internet mati itu ada hikmahnya juga, ya?” kata Pak Kromo.

Pak Wiryo tertawa kecil.

“Hikmah itu biasanya baru kelihatan kalau sudah lewat.”

Malam harinya, keluarga Pak Wiryo makan bersama tanpa ada yang sibuk menunduk ke layar.

Anaknya yang bekerja di kota kebetulan pulang.

Menantunya bercerita tentang pasar.

Cucunya bercerita tentang guru sekolah.

Bahkan istrinya yang biasanya hanya mendengar, ikut menyela pembicaraan.

Rumah itu terasa seperti rumah zaman dulu.

Ada suara orang.

Ada tawa.

Ada percakapan yang tidak dibatasi kuota.

Tetapi manusia memang cepat lupa.

Pagi hari keempat, sebuah mobil teknisi datang.

Dua orang turun membawa tangga aluminium.

Anak-anak berlarian mengikuti mereka seperti menyaksikan kedatangan pemain sirkus.

Kabel diperiksa.

Kotak sambungan dibuka.

Beberapa menit kemudian lampu modem menyala hijau.

“Sudah hidup!” teriak cucu Pak Wiryo.

Entah mengapa suara itu terdengar seperti pengumuman kemenangan.

Dalam waktu kurang dari setengah jam, rumah kembali sepi.

Cucunya masuk kamar.

Anaknya membuka laptop.

Menantunya sibuk melihat telepon.

Bahkan Pak Kromo tidak muncul di pos ronda.

Pak Wiryo kembali duduk sendirian di gardu.

Sawah di depannya masih sama.

Burung-burung masih terbang rendah.

Angin masih datang dari arah timur.

Yang berubah hanyalah manusia.

Ia tersenyum sendiri.

Kemudian pelan-pelan mengeluarkan telepon genggam dari saku.

Membuka aplikasi cuaca.

Melihat prakiraan hujan minggu depan.

Lalu membuka aplikasi harga gabah.

Sesudah itu membuka video tentang cara mengatasi wereng.

Pak Wiryo mengangguk-angguk.

Rupanya ia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan internet.

Karena kabel yang menghubungkan kampung dengan dunia itu ternyata tidak hanya membawa hiburan, tetapi juga pengetahuan.

Masalahnya bukan pada wifi yang hidup atau mati.

Masalahnya adalah apakah manusia masih ingat jalan pulang ketika dunia sudah masuk ke dalam layar.

Dari kejauhan terdengar suara cucunya.

“Mbah, sinyalnya cepat sekali sekarang!”

Pak Wiryo tertawa.

“Iya, Le. Jangan sampai hidupmu yang malah lambat.”

Di kampung itu, padi masih tumbuh dengan cara yang sama seperti puluhan tahun lalu. Yang berubah hanyalah manusia yang semakin sering melihat dunia dari telapak tangannya, dan semakin jarang melihat langit yang menggantung tepat di atas kepalanya.

Aris Munandar, petani tinggal di Magelang 

Share This Article