BANYUMAS, DMNETWORK — Aroma gulai kambing mengepul dari dapur-dapur umum di lingkungan masyarakat adat Banokeling, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Kamis (4/6/2026).
Hari itu, ratusan anak putu Banokeling memperingati Perlon Besar, sebuah ritual adat tahunan yang yang sudah berlangsung puluhan tahun dan menjadi pertanda hubungan batin antar warga masih berlangsung dengan rasa gotong royong guyub dalam tradisi dan kemasyarakatannya.
Bagi masyarakat adat Banokeling, Perlon Besar pada hakikatnya memiliki makna yang sepadan dengan Hari Raya Idul Adha bagi umat Islam. Keduanya sama-sama menjadi momentum ungkapan rasa syukur kepada Tuhan melalui penyembelihan hewan dan pembagian makanan kepada masyarakat.
Perbedaannya terletak pada penentuan waktu pelaksanaan. Jika Idul Adha tahun 2026 jatuh pada 27 Mei 2026 maka Perlon Besar Banokeling dilaksanakan pada 4 Juni 2026. Selisih waktu antara keduanya tidak selalu sama setiap tahun. Kadang hanya beberapa hari, kadang mencapai lebih dari sepekan, mengikuti perhitungan adat yang diwariskan turun-temurun.
Pada Perlon Besar tahun ini, sebanyak 16 ekor kambing disembelih sebagai bagian dari rangkaian ritual. Daging kambing kemudian dicacah, dimasak secara bersama-sama, dan diolah menjadi berbagai hidangan berkuah yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai basahan.
Namun, pembagian makanan tidak dapat dilakukan begitu saja setelah masakan matang.
Terdapat satu tahapan penting yang harus dijalani terlebih dahulu. Seluruh nasi dan masakan kambing yang telah siap saji dibawa dari dapur umum menuju Balai Bengong, sebuah bangunan sederhana yang menjadi bagian penting dalam ruang ritual masyarakat Bonokeling.
Satu per satu wadah makanan diusung menuju tempat tersebut. Di hadapan para sesepuh adat, terutama Kiai Bedogol, makanan didoakan dalam sebuah prosesi khusus. Doa-doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan bagi seluruh anak putu Banokeling.
Barulah setelah ritual selesai, makanan diperbolehkan keluar dari kawasan Balai Bengong untuk dibagikan kepada warga. Sebagian dibungkus menggunakan daun jati dan daun pisang, kemudian dibawa pulang untuk disantap bersama keluarga di rumah masing-masing.
Keunikan lain dari Perlon Besar terlihat dalam pembagian peran antara laki-laki dan perempuan.
Seluruh proses pengolahan daging, mulai dari penyembelihan hewan, pencacahan, hingga memasak, dilakukan oleh kaum laki-laki. Mereka bekerja bergotong royong sejak pagi, menjaga tradisi yang telah berlangsung selama beberapa generasi.
Sementara itu, kaum perempuan memiliki tugas yang tidak kalah penting. Dari rumah masing-masing, mereka menyiapkan nasi putih beserta pelengkap sederhana seperti tempe atau kerupuk. Nasi tersebut kemudian dikumpulkan di rumah Kiai Bedogol untuk ditata dan dibagi secara merata.
Melalui mekanisme itu, setiap keluarga memperoleh bagian makanan selametan Perlon Besar. Tradisi tersebut bukan sekadar perjamuan bersama, melainkan juga simbol kuat tentang kesetaraan, gotong royong, dan ikatan kekeluargaan yang terus dipelihara oleh masyarakat adat Bonokeling di tengah perubahan zaman.
Di Tanah Pekuncen, Perlon Besar bukan hanya peristiwa budaya. Ia adalah cara sebuah komunitas merawat warisan leluhur, menjaga nilai kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan mereka hingga hari ini.
Aris Munandar,
ketua Tani Merdeka Indonesia Wilayah Khusus Komunitas Adat Banokeling